Curahan Hati Kekasih Demonstran

Lorong Kata --- Silahkan melangkahkan kaki jika itu kebaikan, silahkan tak menepati janji demi sebuah panggilan kemanusian, silahkan kau berkhianat dengan rasa. Tak mengapa, aku tidak masalah.

Biarpun orang-orang mengatakan bahwa kau bukan sosok yang romanti. Tapi, bagiku kau romantis hal yang romantis dari dirimu saat kau memegang toa dan meneriakkan keadilan.

Itu lebih cukup dari romantis, sayang kata mereka kau adalah tipe lelaki yang anarkis tapi, aku membantahnya karena anarkis bukan kejahatan dan kau pun bukan penjahat.

Kata mereka, kita tak cukup waktu untuk bertemu tapi itu tak masalah asal kau selalu turun kejalanan dan menyampaikan aspirasimu itu sudah lebih dari cukup untuk perjumpaan kita

Sayang! Jika mereka membencimu karena mereka menganggap anarkis adalah kejahatan, maka jangan bersedih, karena aku masih ada untukmu dan selalu ada.

Sayang! Jika mereka menjauhimu karena teori dan logikamu jangan marah karena aku orang pertama yang akan selalu menghargai tiap pokok pemikiranmu tentang rumusan keadilan.

Sayang! Tetaplah menjadi demonstran jikapun kau mati karena tertembak, tak apa, peluru mereka tak sakit yang sakit itu ketika kau biarkan ketidakadilan tidak ditegakkan.

Sayang! Aku bangga padamu, aku bangga meskipun mereka mengatakan bahwa demonstran adalah kejahatan tapi bagiku kau adalah pejuang.

Tapi, aku terkadang takut jika kau pulang hanya nama saja. Jika kau pulang sudah tidak bersama rohmu lagi, aku takut akan hal itu sayang.

Tapi, dengan ketulusan yang terpancar di matamu, aku meyakini bahwa kau kuat, kau mampu menahan gas air mata, kau mampu menghadang peluru karena kau kuat.

Sayang! Gas air mata itu tak ada apa-apanya dengan tangisan saudara-saudaramu yang masih kelaparan, yang masih belum mendapatkan haknya.

Sayang! Aku berpesan kepadamu jika nanti kau ditakdirkan sebagai pemerintah aku mohon adillah, aku mohon dengarlah keluhan mereka, dengarkan isakan tangis mereka, peka akan bau tengil anak jalanan yang butuh ruang untuk bersekolah.

Sayang! Jika nantinya kau menjadi seorang pemimpin, jangan sekali-kali kau menyakiti aktivis kampus, karena dulunya kau pernah diposisi itu. Tetaplah menjadi teman untuk mereka berikan solusi yang pas untuk mereka dan jangan malah memusuhi mereka.

Anggap mereka yang merengek adalah dirimu yang dulu. Lihat dirimu di dalam para aktivis itu, sungguh pecundangnya dirimu jika kau menjadi pemimpin lalu cuek dan seakan tak peduli dengan rakyatmu.

Sayang! Jadilah pemimpin yang bijak, jadilah pemimpin yang peka akan keadilan, cacian masyarakat jadikan motivasimu untuk terus berkarya. Kukira pemimpin tak ada yang sempurna.

Sayang! Kau tau mengapa aku berpesan seperti itu kepadamu? Karena aku melihat jiwa-jiwa pemimpin di dalam dirimu tegaskan suaramu sayang, lantangkan kakimu dan tetaplah berjuang.

Penulis: Sutra Tenri Awaru