Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Perbandingan Harga Sebuah Nyawa

Sabtu, 15 Juni 2019 | 19:49 WIB Last Updated 2019-06-15T11:49:40Z
Lorong Kata --- Berapa harga sebuah nyawa? Begitupula kamu akan memperlakukannya. Menonton edisi pembunuhan belakangan ini, rasanya harga sebuah nyawa terasa ringan dan tak berharga.

Baru-baru ini, seorang Ayah membunuh lima anaknya. Anak yang berumur mulai dari satu tahun hingga delapan tahun. Ia habisi dengan cara tragis. Satu anak ia hukum hingga pingsan, kemudian meninggal. Sementara 4 lainnya dicekik hingga tewas. Setelahnya dibawa lah mayat itu berkeliling tanpa tujuan selama empat hari di dalam mobil, sampai ketika tiba di pinggiran Alabama, Jones membuangnya.

Di negeri kita, bulan juni juga basah dengan linang air mata keluarga korban-korban pembunuhan. Di Sumatera Utara, hanya karena persoalan asmara, lelaki membunuh wanita dengan sadisnya. Prada Deri Pramana, yang tega memutilasi Fera Oktaria umur 20 tahun di Sungai Lilin Sumatera Selatan. Prada adalah Prajurit TNI ditangkap oleh Kodam II Sriwijaya setelah buron Mei lalu (Detiknews.com 13/06/2019)

Di sumber yang sama, kamis 13 Juni jasad bernama Yuni juga ditemukan dengan kondisi penuh luka dan membusuk di kamar kosnya di Kotabaru Jambi, korban diduga dibunuh oleh seseorang. Di hari yang sama, Nurdin (33) pun membunuh istrinya yang berprofesi sebagai guru SMK di Polman hanya karena cemburu. Kemudian mayat tanpa kepala dan tangan pun hasil pembunuhan juga ditemukan di tepian sungai Aisan Bopeng Ogan Ilir, Sumatera Selatan pekan lalu.

Sungguh, manusia kehilangan rasa. Dan kehilangan arah dalam bertindak. Mengemudikan seluruh anggota tubuhnya berbuat keji. Sejatinya mereka benar-benar alpa dalam mengetahui berharganya nyawa manusia, apalagi mukmin. Atau, jikalaupun mereka tahu bahwa membunuh itu tidak benar, kurangnya keyakinan kokoh akan hari pembalasan mungkin menjadi alasannya.

Tidakkah merintih hati kita melihat manusia saling membunuh layaknya binatang menerkam binatang lainnya? Padahal ada akal yang membedakan dan menuntun pada kemuliaan. Inikah yang dinamakan hilangnya keberkahan sebab tak ada syariat yang dibumikan? Bila agama menjadi panduan, yang ajarannya menurunkan berkah, sudah tentu celaka seperti ini tidak ditemukan.

Mari berpikir sejenak, Islam adalah satu-satunya agama yang memberikan penghargaan amat tinggi pada darah dan jiwa manusia. Allah SWT menetapkan pembunuhan satu nyawa tak berdosa sama dengan menghilangkan nyawa seluruh umat manusia. Keyakinan yang kokoh akan perkataan Sang Khaliq tentu menuntun manusia mematuhi aturan hidup yang diturunkan, termasuk larangan membunuh orang tak bersalah.

Kemudian, Betapa Islam hadir dengan seperangkat aturan yang adil. untuk kasus ini, Qishas pun menjadi solusi yang Allah hadirkan untuk menjaga sebuah mekanisme kehidupan. Allah berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 179 yang artinya, “Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.”

Qishas yakni hukuman mati, mengapa bisa disebut terdapat kehidupan? Hal ini ditinjau dari efeknya, yaitu apabila hukum qishas ditegakkan, manusia terhalangi dari melakukan pembunuhan terhadap manusia lain. dengan demikian kelangsungan hidup manusia akan tetap terjaga, atau menimbulkan efek jera.

Imam Qatadah rahimallah berkata yang artinya, “Allah menetapkan hukum qishash (hukuman mati) itu pada hakekatnya adalah kehidupan, peringatan dan nasihat. Karena, ketika orang dzhalim yang memiliki niat jahat meningat qishas (Sebagai hukumannya nanti) ia akan menahan diri untuk membunuh.” (Fathul Qadir, 1/228)

Namun saat ini, hukum seperti apa yang justru kita hadirkan. Memenjarakan, sayangnya efek jera tak terlihat banyak, justru semakin menjadi-jadi. Tak percayakah pada hukum yang ditawarkan sang Pencipta? Bukankah mayoritas penduduk negeri ini muslim? Sejatinya kita sedang tidak berusaha menjadi orang-orang yang seperti mengadakan perbaikan namun sejatinya merusak bukan?

Sebenarnya, kepercayaan akan hukum Allah yang adil mungkin telah terkikis dengan debu-debu Islamophobia yang berkembang. Memandang ajaran Islam sebelah mata. Hanya cocok untuk beribadah dengan Pencipta, namun tidak untuk mengatur ruang sosial, Semoga kita tidak lupa pada fakta sejarah yang mengabarkan penerapan Islam oleh sebuah Institusi Negara. Dimana hukum-hukum Allah yang adil digunakan untuk mengatur manusia yang serba lemah. Dalam bingkai Khilafah, seorang Khalifah terlalu peduli urusan ummatnya, apalagi persoalan nyawa.

Satu perempuan saja yang berteriak karena bajunya disingkap tentara romawi, Khalifah mengirim pasukan yang mengejutkan, apalagi ketika muslimah itu dilecehkan hingga dibunuh. Pemimpin seperti Khalifahlah yang akan maju terdepan menumpasnya. Kita tentu tidak ingin bermimpi bukan pada pemimpin yang justru mesra pada petinggi-petinggi yang di belakangnya telah banyak menganiaya kaum muslim?

Bukankah Rasulullah bersabda: Seorang muslim adalah saudara Muslim yang lain. Janganlah menganiaya dan jangan menyerahkan dia kepada musuh. (HR al-Bukhari).

Harga nyawa akan sangat terasa berarti bila pemimpin memberikan gambaran utuh bagaimana seharusnya menegakkan keadilan, bagaimana menegakkan hukum, dan hukum tertinggi adalah milik Allah yang sempurna. Sebab manusia tempatnya lemah dan salah. Penuh kubangan ego dan nafsu yang sewaktu-waktu ingin dipenuhi meski melayangkan nyawa-nyawa tak bersalah. Di dalam bingkai Khilafah dan seluruh elemen yang kokoh bertakwa, takut pada pencipta dan mengenal esensi kehidupan, pastilah akan menemui keberkahan, bukan kesempitan seperti hari ini.

Penulis: Arinda Nurul Widyaningrum (Sekretaris Umum FLP Ranting UIN Alauddin Makassar dan Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris)
×
Berita Terbaru Update