Islamophobia: Malapetaka Bagi Umat Muslim

Lorong Kata --- Lagi dan lagi kebencian terhadap Islam semakin nampak dan terpelihara ditengah-tengah negeri di seluruh belahan dunia. Ketakutan dan kewaspadaan tentang ajaran Islam dan simbol-simbol Islam tak ayal juga tumbuh dan mendarah daging dalam diri kaum muslimin. Bagaimana tidak, Islamophobia merupakan ketakutan tidak berdasar terhadap Islam dan kaum Muslim, memang telah disuntikkan kepada setiap denyut jiwa manusia di dunia agar seluruh keturunan dari berbagai ras bangsa membenci Islam. Tentu tak lekang dalam ingatan bagaimana aksi brutal penembakkan warga muslim di new Zealand yang menghilangkan puluhan nyawa kaum muslimin oleh Brenton Harrison Tarrant menjadi bukti islamophobia mampu membawa malapetaka bagi kaum muslimin.

Islamophobia Sebagai Ancaman

Salah satu propaganda yang diciptakan barat untuk menanamkan islamophobia kepada negara internasional adalah dengan perang melawan terorisme atau “War On Terorism”. Propaganda ini semakin populer pasca terjadinya tragedi WTC 11 September 2001 silam yang merobohkan gedung kembar paling modern pada masa itu, Islam menjadi agama yang dituduh melakukan serangkaian aksi teror tersebut. Islam menjadi bagian dari isu penting yang diperbincangkan dunia. Berawal dari peristiwa WTC, pelabelan terhadap Islam sebagai agama teroris, ekstrimis, intoleran, dan lain-lain yang serupa mulai bermunculan. Ajaran Islam dipandang bahkan dituduh menjadi penyebab dari munculnya tindak kekerasan yang diklaim dilakukan oleh beberapa oknum kelompok Islam yang tidak bertanggungjawab.

Munculnya Islamophobia juga menjadi begitu terasa di negara-negara Amerika dan Eropa setelah tragedi WTC. Peningkatan paling signifikan untuk periode 2007-2017 bisa dilihat di Eropa, di mana 20 negara membatasi pakaian yang berhubungan dengan agama termasuk burqa dan cadar yang dikenakan oleh beberapa wanita Muslim. Austria telah memberlakukan larangan pemakaian cadar yang menutupi seluruh wajah di ruang publik. Jerman telah melarang cadar bagi siapa pun yang mengendarai kendaraan bermotor atau bekerja di Dinas Sipil sementara beberapa gubernur kota di Spanyol juga memberlakukan larangan burqa dan cadar. Di Swiss, para warga yang memiliki hak suara untuk berpolitik secara nasional memilih untuk mendukung larangan pembangunan menara-menara baru. Laporan yang sama menyoroti pelecehan terhadap ratusan ribu Muslim Uighur di Cina yang telah dikirim ke pusat-pusat edukasi ulang. Di Myanmar, Muslim Rohingya dipaksa meninggalkan rumah akibat menghadapi pelecehan dan penyiksaan oleh pasukan militer dan sipil. Pew juga melaporkan jika ribuan pengungsi di Jerman dipaksa untuk pindah agama menjadi Kristen, setelah diperingatkan mereka kemungkinan akan dideportasi Viva.co.id (16/07/2019).

Sementara di Indonesia sendiri, islamophobia muncul akibat peristiwa Bom Bali, Sarinah, JW Mariot, Surabaya dan serangkaian peristiwa lainnya yang mengatasnamakan Islam dalam aksi teror yang mereka lakukan. Akibatnya buruk, banyak headline berita akhirnya menyudutkan Islam, menyebut Islam tidak toleran. Umat muslim yang berusaha taat dicap sebagai ekstrimis, radikal, intoleran, dan fundamentalis. Stigma buruk terhadap islam dan penganutnya seringkali menghiasi layar televisi maupun media social sehingga ketakutan dalam diri kaum muslimin terhadap keislamannya tak dapat dielakkan.

Akibatnya, propaganda terorisme identik dengan umat Islam pun semakin mencuat. Semua ini akan mendorong sikap saling curiga, kebencian, dendam dan kemarahan yang berujung pada menguatnya konflik horisontal di tengah-tengah masyarakat. Terbukti, Rektor dari salah satu universitas Islam di Indonesia telah melarang penggunaan cadar bagi mahasiswi yang kuliah di universitas tersebut, dilansir dalam CNNindonesia.com (08/03/2018) Rektor UIN Sunan Kalijaga Yudian wahyudi menerbitkan larangan penggunaan cadar di lingkungan kampus. Yudian mengatakan UIN sebagai lembaga pendidikan milik negara mesti menerapkan peraturan yang sesuai dengan Pancasila, UUD 1945, kebhinekaan dan Islam yang moderat.

Tak hanya itu, simbol-simbol Islam di persekusi, bendera tauhid dikibarkan dalam negara mayoritas muslim ini malah dihakimi dan diinvestigasi oleh rezim yang berkuasa. Seorang muslim yang memegang Al-Quran, kitab-kitab ilmu Islam, yang berjalan dengan memakai cadar dan peci diidentikkan bahkan tuduh sebagai teroris dan tak jarang dikepung dengan puluhan senjata oleh aparat dengan cara yang bengis. Sungguh miris, di negeri yang katanya mayoritas umat muslim ini, ketakutan akan ajaran Islam justru berkembang di kalangan masyarakat. Islamophobia membuat umat muslim yang awam justru takut untuk belajar dan mengkaji Islam lebih mendalam.

Olehnya itu, umat Islam harus sadar, bahwasanya isu islamophobia bukanlah hanya pepesan kosong, melainkan ini adalah isu. yang digaungkan oleh kaum kafir barat diseluruh belahan dunia. Mereka memiliki misi besar menghancurkan Islam dan umat muslim yang menjalankan aturan Islam. Tak heran, sistem kapitalisme dengan asas pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme) yang diterapkan oleh sebagian besar negeri kaum muslim saat ini berusaha merasuki pemikiran dan mewarnai perbuatan kaum muslim agar jauh dari aturan agama, stigma-stigma negatif melalui media mainstream sengaja disebarkan tak lain agar Islam buruk dimata dunia dan penganutnya. Bagaimana tidak, kaum kafir tentu ketakutan jika umat muslim diseluruh dunia sadar akan keIslaman dan ketaatannya kepada Allah SWT, dan sampai mengembalikan masa kejayaan kaum muslimin ketika Islam diterapkan sebagai sistem dalam naungan negara khilafah. Kaum kafir, munafik dan fasik pasti tak akan membiarkan aturan Islam diterapkan, sebab mereka tidak akan bebas menetapkan segala bentuk kebijakan-kebijakan yang seenaknya demi tercapai kepentingan dan kepuasan hawa nafsunya.

Penerapan Ideologi Islam Mampu Menangkal Islamophobia.

Islam adalah agama yang suci, agama yang damai penuh kasih sayang, karena Islam agama yang sempurna dari dzat yang maha sempurna. Dalam Islam tak ada kekerasan, tak dibenarkan membunuh ataupun menghilangkan nyawa manusia apapun agamanya. jangankan membunuh puluhan nyawa umat manusia seperti tuduhan terorisme yang disematkan kepada kaum muslimin, satupun nyawa umat manusia yang terbunuh maka tidak dibenarkan dalam Islam.

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allâh (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.” [QS. Al-Isrâ: 33].

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang berlaku adil.” [QS. Al-Mumtahanah: 8].

Dan sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini:
“Barangsiapa membunuh orang kafir mu’ahad, (maka) ia tidak akan mencium bau surga, padahal baunya didapati dari jarak perjalanan empat puluh tahun.” [HR al-Bukhâri, no. 2995].

Islam sebagai agama juga sistem aturan sempurna lagi paripurna, telah terbukti mampu melindungi kaum muslim dan mematahkan stigma buruk yang dilayangkan kaum kafir terhadap islam. Dimasa keemasan Islam, khalifah al-Mu’tasim, Mu’tasim Billah menyahut seruan seorang budak muslimah yang konon berasal dari Bani Hasyim yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki), begitu besarnya pasukan yang dikerahkan oleh khalifah untuk menjaga kehormatan wanita.

Masih ragukah kalian dengan ajaran Islam?, tergambarkah keburukan didalam aturannya? Sesungguhnya siapapun yang melihat islam adalah keburukan maka dialah orang yang tak mau menerima kebenaran. Sungguh Islam adalah agama dan ideologi yang memberikan kedamaian, keamanan dan rahmat bagi seluruh alam. Hanya orang-orang yang tak memahami ajaran Islam yang mampu mendikotomikan Islam sebagai dalang terorisme sehingga menimbulkan ketakutan dalam diri umat manusia terhadap Islam. Wallahu a’lam bissawab

Penulis: Nur Avina. S.Pd