Harga Cabai Makin Pedas, Islam Solusi Tuntas!

Lorong Kata --- Harga cabai merah dipasaran tembus Rp.91.650rb per kilogram sementara di Papua per kilogramnya dipatok seharga 102.500 per kg. (Katadata.co.id)

Para emak-emak pasti kocar-kacir lagi mencari pedagang yang harga cabenya dijual dengan harga lebih murah. Tapi tetap saja harga cabai dimana-mana sudah segitu tidak bisa ditawar lagi.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Tjahya Widayanti (26/7) menilai kenaikan harga disebabkan oleh musim kemarau yang terjadi di beberapa sentra produksi. Tidak hanya itu, konversi tanaman cabai merah besar dan cabai merah keriting dinilai cukup besar, yaitu mencapai 40%. Kedua hal tersebut menyebabkan pasokan cabai tidak seimbang. Akibatnya harga melambung tinggi.

Melambungnya harga cabai bukan terjadi sekali ini saja, namun sudah berulang kali harga cabai naik. Namun karena komoditi cabai adalah salah satu kebutuhan dapur yang harus terpenuhi mau tidak mau emak-emak rumah tangga harus lebih jeli lagi mengatur biaya pengeluaran kebutuhan rumah tangganya.Belum lagi ditambah kebutuhan hidup lainnya yang juga semakin mahal yang semakin menambah besarnya pengeluaran.

Kondisi yang semakin mempersulit rakyat hari ini seharusnya menjadi bahan renungan bagi para pemangku jabatan pemerintahan untuk mengupayakan kesejahteraan rakyatnya. Tapi sejauh ini belum ada aksi yang serius. Bahkan solusi yang diberikan oleh Mendag tahun 2016 lalu ketika kondisi yang sama terjadi, masyarakat hanya disarankan untuk menanam cabai sendiri dan mengkonsumsi cabai kering saja. (Liputan6.com)

Apa yang mesti masyarakat -terutama emak-emak- harapkan lagi ? Sistem kapitalistik yang diadopsi negara telah menggeser peran para pemangku jabatan yang seharusnya pro dan melek terhadap kesusahan rakyat tapi faktanya hanya melek pada kepentingan sendiri. Hingga rakyat tak dipedulikan lagi. Padahal sudah peran 'mereka' untuk menstabilkan harga pangan yang beredar dipasaran termasuk harga cabai.

Islam Menjaga Stabilitas Harga Panga. Islam datang dengan berbagai macam solusi untuk mengatasi permasalahan kehidupan. Satu diantaranya adalah dalam menjaga kestabilan harga pangan.

Dalam islam faktor penyebab kenaikan harga pangan misalnya saja cabai ada dua macam: pertama karena kondisi alam misalnya saja musim kemarau yang berkepanjangan sehingga tanaman cabai banyak yang gagal panen yang akhirnya terjadi kelangkaan. Kedua adalah disebabkan karena faktor pengelolaan sistem ekonomi yang menyimpang dari hukum syari'ah islam. Misalnya saja banyak dilakukan penimbungan, dan permainan harga di pasar.

Oleh karena itu dalam islam jika ketidakstabilan harga disebabkan karena faktor alam maka untuk mengatasi negara diberi tanggung jawab untuk mencari suply dari daerah lain. Namun jika kelangkaan pangan dalam hal ini cabai juga terjadi diseluruh daerah dalam negeri maka solusi selanjutnya adalah dengan melalui kebijakan impor dengan masih memperhatikan produk dalam negeri.

Adapun jika ketidakstabilan harga disebabkan karena faktor yang kedua maka negara dalam hal ini penguasa yang harus mengatasi langsung misalnya saja dengan melakukan pengontrolan langsung ke pasar sebagaimana yang pernah Rasululah saw lakukan agar tidak terjadi permainan harga dan tindakan menyimpang lainnya. Bahkan khalifah Umar sampai melarang orang yang tidak paham dalam bisnis dagang untuk berdagang/berbisnis. Dengan demikian kestabilan harga pangan akan senantiasa stabil.

Demikianlah solusi dalam islam untuk mengatasi ketidakstabilan harga pangan ditengah-tengah masyarakat. Semua dilakukan tidak lain hanya untuk kesejahteraan rakyat bukan untuk kepentingan para penguasa.

Untuk itu tiada solusi lain selain kembali kepada islam dan mencampakkan sistem kapitalistik yang tengah diberlakukan oleh negara. Sebab hanya berpangku tangan menunggu solusi dari sistem hari ini adalah utopi bahkan hanya menimbulkan masalah baru.

Penulis: Nurhalimah (Anggota UKM FKMI UMMA)