Manusia Pengutip dan Pengkritik Tanpa Solusi

PUISI -- Aku tak mampu membanggakan bentuk tubuhku ini.

Dan akupun tak mampu membanggakan hartaku-hartaku. Apapun itu aku tak mampu membanggakannya, selain tulisan-tulisanku ini.

Aku bangga dengan tulisan-tuisanku, aku bangga karena aku mampu merangkai kata-kataku sendiri.

Wahai manusia pengutip, aku tidak tertarik denganmu, dan aku tidak akan pernah mengenalkan namamu ke anak-anakku kelak. Sebab, kau buka manusia yang mampu membuat karya sendiri.

Wahai kawan-kawanku di ada diluar sana, kau harus mandiri dalam berfikir kawan. Cukuplah mereka yang selalu mengutip dan mengangungkan karya seseorang.

Aku akui bahwa  banyak orang di luar sana yang memiliki segudang teori,
Tetapi, mereka tidak mampu merangkai kalimat yang mampu menyentuh hati seorang pembaca,

Wahai dengarlah, kau yang selalu mengkritik tulisan seseorang tanpa memberikan solusi.

Kau yang selalu menertawai tulisan-tulisan seseorang dan selalu meremehkan karya-karya seseorang,
Woii!! Sadarlah, hentikan semua ocehan-ocehanmu itu.

Kau harus paham, dan kau harus mengerti.

Bahwa, menulis itu tidak mudah,
Menulis itu tidak segampang yang engkau pikirkan, menulis itu tidak segampang caramu tersenym,
dan menulis itu tidak segampang caranmu beronani.

Menulis itu bagaikan peperangan, kadang kita berperang dengan pikiran kita, bahwa kalimat apa yang menarik untuk di sisipkan di dalam tulisan ini.

Kadang juga, perasaan dilema muncul saat kita menulis, karena, kita bingun akan memilih antara kalimat ini atau itu
Ini hadiah spesial untukmu manusia pengutip dan pengkritik tanpa solusi.

Karya: Nurhidayat.