“Murahnya” Harga Sebuah Nyawa

Kendati perih tak beradab
dinegeri yang katanya penuh keramahan
Ramai berteriak kita adalah kesatuan
Tapi mirisnya kasta masih mengisah

Peristiwa memilukan seorang ayah membopong jenazah anaknya. Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa peristiwa ini bisa terjadi? Seorang pria tengah membopong jenazah keponakannya yang ditutup kain. Jenazah itu bernama Muhammad Husein (8 tahun), korban tenggelam di Sungai Cisadane, Tangerang. Kesedihan keluarga semakin bertambah saat pihak Puskesmas Cikokol menolak meminjamkan ambulans untuk mengantarkan jenazah Husein. Mengetahui hal tersebut, ayah Husein langsung membopong jenazah anaknya menuju kediamannya di Kampung Kelapa, Kota Tangerang (tribunnews.com, 25/8/2019).

Sebenarnya, peristiwa semacam ini pernah juga terjadi beberapa kali. Namun peristiwa yang baru-baru viral ini seolah menggelitik jiwa kemanusiaan kita. Akankah hati belas kasih tidak perih melihat jenazah yang seharusnya dilarikan menggunakan ambulance malah terpaksa dibopong begitu saja. Sungguh ironi.

Maka yang harusnya kita pertanyakan adalah mengapa di negri ini menjadi mahal kemanusiaannya, bukankah kita bersaudara? Dalam sila kedua pada pancasila berbunyi “Kemanusiaan Yang Adil Dan beradab”

Disila kedua ini tidak lagi kita dapatkan pengamalannya di sebagian masyarakat Indonesia. Dalam kisah paman Husen yang harus membawa pulang jenazah keponakannya dengan berjalan kaki setelah mendapat penolakan dari pihak puskesmas untuk memakai ambulans. Pihak puskesmas beralasan bahwa mobil ambulans hanya untuk mengangkut pasien yang sakit.

Peraturan memang harus ditaati tapi apakah semua peraturan harus menjadikan mahal kemanusiaan. Harus kita sadari bahwa sudah sepatutnya kita saling menolong sesama manusia. Masih haruskah menatap tanpa hati atau memalingkan wajah ketika mendapati mereka yang sangat membutuhkan pertolongan? Karena hal samacam ini mencerminkan manusia tanpa adab atau manusia berhati iblis. Maka dari itu hiduplah bersama kebaikan agar memunculkan kedamaian karena keindahan akan berkesan lewat persatuan tanpa kasta.

Peran Negara Dalam Memberikan Pelayan Rakyatnya

Kasus yang terjadi baru-baru ini harus kita pertanyakan apa sebenarnya tugas pelayan kesehatan? Puskesmas ataupun rumah sakit harusnya memberikan pelayanan prima dalam melayani rakyat dengan kondisi apapun. Jadi ketika berbenturan dengan aturan sedang pasiennya membutuhkan pertolongan segera harus itulah yang didahulukan.

Kesehatan/pelayanan kesehatan telah ditetapkan Allah SWT sebagai kebutuhan pokok publik yaitu sebagaimana ditegaskan Rasulullah SWT, yang artinya, “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah – olah dunia telah menjadi miliknya”. (HR Bukhari).

Hal tersebut aspek pertama, aspek kedua, pemerintah telah diperintahkan Allah SWT sebagai pihak yang bertanggungjawab langsung dalam pemenuhan pelayanan kesehatan. Ini ditunjukkan oleh perbuatan Rasulullah SAW. Yaitu ketika beliau dihadiahi seorang dokter, dokter tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin.

Dari kedua aspek disebutkan terlihat jelas bahwa kesehatan/pelayanan kesehatan ditetapkan Allah SWT sebagai jasa sosial yang secara totalitas harus ditegakkan. Yaitu mulai jasa dokter, obat-obatan, penggunaan peralatan medis, pemeriksaan penunjang, hingga sarana dan prasarana termasuk didalamnya mobil ambulance yang dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan yang berkualitas sesuai prinsip etik dalam islami.

Jadi tidak boleh terbentur lagi dengan aturan/SOP yang terkesan mengundur-ngundur kepentingan pasien. Termasuk tidak diterima alasan, kesehatan harus dikomersialkan agar masyarakat termotivasi untuk hidup sehat. Karena, ini persoalan lain, lebih dari pada itu, ini adalah pandangan yang dikendalikan ideologi kapitalis, bukan Islam. Wallahu ‘alam bishowab.

Penulis: Intaniah Tahir