Dahsyatnya Goresan Pena, Mengapa Harus Menulis?

Teknologi zaman sekarang semakin mengglobalisasi, merajalela, dan berpengaruh besar bagi pemakainya. Sosial Media contoh nyatanya. Berbagai informasi bahkan tulisan yang dimuat dan disebarluaskan dengan bebas menyebar bak virus yang tak dapat dielakkan, mengharuskan kita untuk memfilter segala informasi yang ada.

Banyak informasi yang bisa saja keshahihannya tidak di nomor satukan. Tidak heran, banyak yang dengan mentah-mentah menelan informasi itu, sehingga banyak yang keliru memandang tentang kehidupan. Maka benar kata cikgu Asri:

"Orang yang berilmu harus menulis, jika tidak, orang bodoh yang akan menyebarkan kesesatan." (Asri Supatmiati)

Harus kita akui problematika di atas sangat familiar di sekitar kita. Tak sedikit orang yang merasa tidak dapat berbuat banyak untuk meminimalisir hal tersebut. Maka menulis adalah salah satu solusinya.

Mengapa harus menulis?
Karena menulis adalah salah satu jihad dakwah untuk mencerahkan pikiran lawan yang keliru.
Jika kita tak sanggup berdakwah dengan perbuatan maka berdakwah-lah lewat tulisan.

Mengapa harus menulis?
Karena dengan menulis adalah salah satu cara untuk melawan dan membumihanguskan informasi yang keliru.

Kita harus bisa memperbaiki paradigma keliru yang banyak diyakini orang sekarang. Orang baik bisa menjadi jahat atau rusak karena keseringan sih mendengar, mencerna, dan mengkonsumsi tulisan yang merusak hati dan pikirannya. Berawal dari kata yang kita tuliskan mampu menyentuh hati seseorang lho, dari yang hatinya keras menjadi lembut.

Mengapa harus menulis?
Karena aku ingin menjadi seorang pengarang. Aku ingin seperti penulis yang karyanya tetap hidup. Aku ingin seperti mereka yang tidak mengenal kata pensiun dalam mengambil peran demi tegaknya peradaban Islam. Bagi mereka pensiun sama artinya dengan mati.

Maka aku ingin dengan karyaku nanti, aku seolah-olah hidup kembali. Walau kenyataan telah menghadap sang Ilahi. Dengan tulisan kita akan tetap abadi, meski kita telah hilang ditelan bumi.

"Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama dia tidak menulis, dia akan hilang dalam bermasyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." (Pramoedya Ananta Toer)

Mengapa harus menulis?
Karena dengan tulisan kita, akan menjadi ladang investasi di akhirat kelak. Tentunya tulisan yang mampu menginspirasi orang banyak, tulisan yang mengandung kebenaran yang bisa mempengaruhi orang lain, tulisan yang mampu meninggalkan bekas bagi pembacanya, dan yang tidak kalah penting tulisan harus sesuai dengan syariat Islam, ya guys. Dengan demikian "Menulis itu adalah seni menyampaikan kebenaran." (Asri Supatmiati)

Mengutip kalimat Lady Farhana:
"Setiap tetes tinta seorang penulis adalah darah bagi perubahan peradaban. Karena itu perhatikanlah ujung penamu bergerak. "Mengapa harus menulis? Karena tulisan adalah perubahan bagi peradaban. Maka dari itu aku ingin menjadi bagian perubahan bagi peradaban ini.

Menulis adalah cara kita menuangkan ide, kebenaran, dan memberi inspirasi. Maka jadikanlah menulis karena itu adalah kebiasaan dan suatu keharusan. Menulislah dari sekarang. Bukan berdalihkan sejuta alasan.

Meskipun kadang diri berkata:
"Ah … aku tidak berbakat menulis." Memangnya menulis itu harus menunggu berbakatkah baru bisa menulis?

Jika kau menunggu diri berbakat menulis, tapi tidak memulai menulis. Lantas dari mana bakat menulis itu bisa datang? Ingat! Yang penting itu "Action" bukan bakat, apalagi berdalihkan sejuta alasan.

Menulislah dari sekarang! Walaupun ndlosor, teruslah berusaha. Kalau gagal, jangan menyerah. Coba lagi, lagi dan lagi. Lama-kelamaan bisa jadi kebiasaan, kalau sudah kebiasaan malahan bisa jadi ketagihan lho. Nggak percaya? Coba aja sendiri.

Jadi, tidak ada alasan lagi untuk kita malas bahkan enggan untuk menulis ya guys. Walaupun hanya satu paragraf, atau mungkin satu kalimat, tulis saja. Keelokan tulisan itu urusan belakangan. Selama yang kita tulis itu sebuah kebenaran maka jangan ragu untuk menggoreskan ujung penamu.

Jangan beri kesempatan penulis liberal mengisi ruang kosong, kitalah sebagai orang yang berilmu harus menyongsong kebenaran dan mengisi ruang yang kosong. So, terus berjuang demi tegaknya peradaban Islam. Wallahu'alam bishawab

Oleh: Elok Sri Mulyati (Banjarmasin, 1 September 2019)