Solusi Tuntas Problem Generasi Muda

Lorong Kata - Polisi Pamong Praja (PolPP) Kota Baubau mengamankan sejumlah siswa SMA yang sedang nongkrong di luar sekolah saat jam belajar, Selasa (24/9). Kepala Bidang Ketentraman dan Ketertiban Umum, Muh Husni mengajak semua pihak terutama instansi terkait umtuk kerja sama memikirkan hal kondisi tersebut karena menurut dia, ketika Pol PP melakukan penangkapan lalu dibawah di kantor itu bukan merupakan solusi. (butonpos.fajar.co.id, 24/9/2019).

Kapitalisme Sekularisme Biang Kerok
Inilah potret buram generasi muda kita. Berita seputar mereka (generasi muda) tak pernah sepi dari pemberitaan negatif bahkan memiriskan hati. Mulai dari nongkrong dijam sekolah, tawuran, kecanduan narkoba, sex bebas, meneguk miras, lgbt dan masih banyak lagi hal negatif lainnya, yang pelakunya adalah remaja.

Apa jadinya bangsa ini ke depan jika banyak generasi mudanya yang merupakan pelanjut estafet bangsa, sibuk melakukan hal-hal yang tak berguna bahkan cenderung merugikan dirinya maupun orang-orang di sekitarnya.

Adapun yang menjadi faktor penyebab berbagai prilaku rusak generasi muda ini adalah kapitalisme dan sekularisme yang mendasari seluruh aspek kehidupan bangsa ini. Kehidupan kapitalistik yang berlaku saat ini tidak hanya menjadi pangkal persoalan pendidikan di sekolah. Keluarga pun terkena imbasnya.

Beratnya beban hidup dari hari ke hari, membuat keluarga harus memutar otak mencari penghidupan. Dengan dalih mencapai penghidupan yang layak inilah, ayah dan ibu sibuk bekerja siang dan malam. Akibatnya,anak pun terabaikan.

Tujuan pendidikan nasional, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa serta berkembangnya potensi diri secara optimal sekedar lips service belaka. Dengan kurikulum sekular kapitalistik, para pelajar kian terbentuk menjadi pribadi yang kering jiwanya, keras mentalnya, bahkan jumud dari mencari solusi berbagai persoalan yang menimpanya.

Sekularisme yang mewarnai sistem pendidikan menjadikan pendidikan agama hanya formalitas belaka. Tidak ada strategi untuk menjadikan tuntunan agama dipahami dan berikutnya diamalkan oleh anak didik sehingga berpengaruh dalam perilaku kesehariannya. Karena itu, sistem pendidikan telah gagal menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, yang tidak sekedar IQ-nya yang tinggi, tetapi juga memiliki iman yang kuat dalam menjalani kehidupannya.

Berkembangnya budaya permisif, serba boleh dan hedonis juga memberikan pengaruh buruk pada pembinaan generasi. Demikian pula karena adanya kepentingan ekonomi, sehingga negara tak dapat berbuat banyak untuk membendung media yang menayangkan kepornoan dan kekerasan.

Solusi Tuntas

Potret buram generasi muda sebenarnya dapat dituntaskan dengan memperbaiki sistem hidup yang mempengaruhi pemahaman dan perilaku remaja. Untuk itu dibutuhkan peran dari berbagai unsur yaitu keluarga, sekolah, masyarakat dan negara. Seluruh unsur tersebut bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian yang baik pada generasi, kepribadian yang dibangun di atas iman dan takwa. Semuanya harus bersinergi untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan remaja.

Keluarga merupakan institusi pertama dan utama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak (generasi). Di sanalah pertama kali dasar-dasar keislaman ditanamkan. Orang tua wajib mendidik anak-anaknya tentang prilaku dan budi pekerti yang benar sesuai dengan ajaran Islam.

Anak diajarkan untuk memilih kalimat-kalimat yang baik, sikap sopan santun, kasih sayang terhadap saudara dan orang lain. Mereka diajarkan untuk memilih cara yang benar ketika memenuhi kebutuhan hidup dan memilih barang yang halal yang akan mereka gunakan. Dengan begitu, kelak terbentuk pribadi anak yang shalih dan terikat aturan Islam.

Masyarakat sebagai lingkungan generasi menjalani aktivitas sosialnya juga mempunyai peran yang besar dalam mempengaruhi baik dan buruknya proses pendidikan, karena generasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Jika masyarakat mempunyai pandangan yang sama tentang perkara yang dapat membentuk pengaruh positif dan negatif pada generasi, maka secara otomatis akan terbentuk lingkungan yang kondusif bagi perkembangan generasi.

Peran paling penting dan strategis dalam membentuk kepribadian generasi juga ada pada negara melalui pemberlakuan sistem pendidikan. Secara paradigmatik, pendidikan harus dikembalikan pada asas aqidah Islam yang akan menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum, standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar mengajar, termasuk penentuan kualifikasi guru/dosen serta budaya sekolah/kampus tempat para generasi eksis di dalamnya. Wallahu 'alam bi showwab

Oleh: Ummu Salman (IRT, anggota komunitas Muslimah Peduli Negeri)