Aku Mengimpikan Pemuda Tak Jatuh Cinta

Aku Mengimpikan Pemuda Tak Jatuh Cinta
Oleh: Sesepuh Lorong Kata

Pagi ini aku menerawang mentari melampau ganas membakar apa saja yang menjulang menengadah ke langit.

Tentang hari-hari yang tak pernah diinginkan ibu pertiwi. Bahwa hidup adalah perjuangan, dan harus terus diupayakan.

Aku merindukan, seorang pemuda turun ke jalan. Menulis surat cinta untuk negeri, dan berteriak melawan badai juga gelombang demokrasi yang cacat.

Pemuda yang lupa menetek pada kekasihnya, tapi rutin diskusi dan paham kenaikan BBM, mengerti angka kemiskinan dan pandai menolak lupa.

Aku mengimpikan, suatu negeri. Dimana pemulung diberi makan cukup, petani dibina sejahtera juga anak-anak bersekolah ria nan gembira.

Aku mengimpikan, pemuda dengan mudah jatuh cinta kepada perempuan. Dan oleh karena itu mereka bisa dengan sekejap lupa jadi pegawai negeri sipil.

Bahwa pemimpin kita sedang mabuk kepayang, terlalu banyak meminum janji dan memakan uang rakyat hingga lupa cara berbaik budi. Lupa tanggung jawab, hingga mati dalam kebaikan.

Pemimpin dengan pemimpi tanpa tindakan membuat orang-orang linglung sebagai hamba-hamba teori yang amatir.

Tepat hari ini, aku mengenang sumpah para pendahulu. Memainkan musik perlawanan, dengan teriak lantang penuh semangat api perlawanan menantang deru ombak penjajahan.

Aku adalah perempuan yang gila karena rindu. Bahwa turun ke jalan adalah satu-satunya proses menuju pertemuan. Dan aku tak menemukan apa-apa selain harapan anak negeri yang sia-sia.

Kita semua adalah perempuan, kita semua adalah laki-laki. Sementara ayah dan ibu kita sedang sibuk bekerja keras, lantaran pemimpin yang semula diagungkan telah khianat.

Aku adalah orang yang tanpa kalian, bukanlah siapa-siapa. Namun, perlawanan tetap akan tumbuh bersemai seiring kemarau menantikan hujan.

Singkat kata, negeri ini membutuhkan kita. Sebagai generasi yang harus terus berjuang melawan ketidak-adilan. Bahwa kita adalah pejuang muda yang tak semestinya diam karena cinta.

Selamat Hari Sumpah Pemuda.