Sumpah Pemuda: Memaknai Atau Sekedar Ceremony Saja?

OPINI, LK--- "Karena pemuda-pemudi Indonesia adalah aset berharga yang perlu dipelihara positif, bukan disuguhkan tontonan perebutan kursi atau sinetron bertuhan rating. Bukan pula pemuda konsumtif tak produktif, pemuda apatis masalah sosial atau ujungnya pandai berpikir namun tanpa realisasi, pemuda yang pun dalam dirinya tidak mengejar tapi dikejar (bahkan kadang menolak) keyakinan, pendidikan agama, dan pendidikan moral karena takut dianggap buta modernitas".

"Bila engkau ditanya, hei pemuda Indonesia, berapa jumlahmu? Jawablah Kami hanya satu."- Bung Karno.

Terhitung telah 91 tahun lalu sejak pertama kali sumpah ini dikumandangkan. Sebentuk komitmen para pemuda di masa itu untuk maju dan terlibat dalam kemerdekaan republik kita tercinta, Indonesia. Masyarakat indonesia haruslah bangga. Karena tanpa keberanian tersebut, kita tidak akan pernah mendapati diri yang nyaman dan bebas pada era kini. 

Namun masyarakat Indonesia juga harus malu. Karena sayangnya, momen yang terhitung memasuki usia matang bila disandingkan dengan usia manusia (yang nyatanya bukan penjamin pula untuk kematangan berpikir dan bertingkah pola manusia dewasa ini) seakan hanya menjadi penghias dalam kalendar tahunan semata, kini.

Sesungguhnya, momen ini bukanlah hal yang kedudukannya sekedar menjadi selebrasi setahun sekali. Selain mengingat, memaknai adalah proses yang tak kalah penting. Proses memaknai menjadikan sistem nilai dalam diri individu akan terbentuk. Sistem nilai inilah yang menjadi penuntun hingga manusia dapat mencapai kematangan yang sebenar-benarnya matang dalam berpikir dan bertingkah kelak.

Pun dalam memaknai Sumpah Pemuda, bukan sekedar tiga baris pengakuan yang "satu". Sumpah pemuda dan setiap butirnya membulatkan makna bahwa Bhineka tunggal Ika adalah mutlak pemersatu bangsa. Pemaknaan hingga penerapan nilai haruslah diresapi dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tidak cukup hanya satu hari saja.

Peranan lembaga pendidikan, media pers, masyarakat (terutama keluarga), dan pemerintah sangat diperlukan, terutama sebagai poros, pemberi stimulus, dan pengalaman. Karena pemuda-pemudi Indonesia adalah aset berharga yang perlu dipelihara positif, bukan disuguhkan tontonan perebutan kursi atau sinetron bertuhan rating. 

Hal-hal yang kini melahirkan pemuda konsumtif tak produktif, pemuda apatis masalah sosial atau ujungnya pandai berpikir namun tanpa realisasi, pemuda yang pun dalam dirinya tidak mengejar tapi dikejar (bahkan kadang menolak) keyakinan, pendidikan agama, dan pendidikan moral karena takut dianggap buta modernitas. 

Menghargai Perbedaan seperti fenomena baru-baru ini. Beberapa bulan yang lalu kita diuji dengan keberpihakan mengenai siapa calon presiden yang pantas memimpin bangsa. Masa kampanye menjadikan Indonesia merupa dua sisi koin, yang ketika dilempar keduanya berebut untuk tetap berada di atas dan tetap terlihat dengan cara apapun.

Kesatuan dan kemampuan pemuda dalam berpendapat dan menghargai perbedaan dipertanyakan. Media sosial dijadikan sarana menghina pilihan, adu argumen, tak ubahnya merasa pihak yang paling benar.

Sungguh, memaknai adalah hal yang sangat penting. Terlebih setelah kemerdekaan, maka peran pemuda dalam mempertahankan persatuan Indonesia tentu semakin besar. Dibutuhkan pemuda pemudi –khususnya-yang cerdas, tak pengecut, menghargai perbedaan, yang merupakan bibit-bibit mapan dalam hal moral maupun kematangan bersikap demi kemajuan bangsa. Dalam tanda kutip berguna, dan memiliki peran yang dapat dikenang dandialirkan pada keturunan berikutnya meski telah tua kelak.

Proses memaknai ini tentu saja dapat dilakukan dengan pelbagai cara. Bukan dengan cara anarkis melainkan aksi damai.

Penulis: Wahyu Pratama Hasbi 
Mahasiswa Hukum Tata Negara - UINAM.