Tentang Ilmu, dan Guru yang Kian Terlupakan

OPINI, LK--- Hal yang bersejarah memang menghasilkan jejak yang terus di rawat dalam ingatan. Mengingat adalah hal yang paling indah dan sangat mulia tentunya jika yang kita ingat adalah sesuatu yang sangat bersejarah pada kehidupan. 

Menolak lupa tentang hari bersejarah adalah bentuk penghargaan terhadap kenangan yang perlu dikenang dan diingat sehormat-hormatnya.

Hadirnya peringatan Hari Pahlawan (10 November) sebagai peringatan terhadap para pahlawan yang gigih mengusir penjajah yang baru saja diperingati, perlu diejawantahkan pula kepada pendidik yang setia mengajarkan ilmu pengetahuan.

Terlebih pada 25 November hari ini, insan pendidikan akan memperingati Hari Guru Nasional (HGN). Peringatan Hari Gurutersebut sebagai bentuk eksistensi pendidik yang dengan tulus, ikhlas memberikan ilmu pengetahuan yang dipunyai untuk mencerdaskan bangsa.

Mencerdaskan adalah misi yang mulia. Guru dengan Kesabarannya dalam mendidik anak-anak manusia seperti mengukir diatas batu yang keras. Tapi dengan kegigihannya dalam mencerdaskan akan mengembangkan potensi yang dimiliki bagi setiap individu.

Kita sebagai sebagai orang yang sudah merasa cerdas hari ini berterima kasihlah pada pahlawan kita dalam ilmu pengetahuan. Tentang siapa yang mengajarkan membaca dan menulis dan tentang siapa yang memantik potensi dalam diri kita masing-masing tentunya siapa lagi kalau bukan pahlawan kita yang bernama guru.

Menghilangkan kebodohan dan memunculkan kecerdasan kepermukaan adalah sesuatu yang tidak mudah. Mengajarkan nama huruf dan mengajarkan bagaimana cara untuk mengawankan huruf-perhuruf untuk menjadi kata bukanlah hal yang mudah demi lahirnya bibit anak bangsa yang cerdas dan bisa memanusiakan manusia.

Apakah hari ini guru masih di anggap pahlawan tanpa tanda jasa?. Memang dewasa ini guru sudah menerima jasa dari pemerintah sebagai tenaga kerja pendidik tapi apakah ilmu bisa dibeli dengan uang?. Ya tentu tidak, uang bisa habis termakan waktu tapi ilmu yang di dapatkan tidak akan hilang sampai menua. 

Dimasa sekarang guru tidak dianggap lagi sebagai orang yang paling berpengaruh dalam dunia pendidikan. Pendapat penulis hari ini siswa lupa dengan sesuatu yang diberikan dalam bentuk ilmu dan hanya cepat mengingat jika diberikan sesuatu dalam bentuk materi.

Kepahlawanan para pendidik hari ini kiranya perlu disadari oleh peserta didik zaman sekarang ditengah maraknya sikap kurang terpuji kepada guru. Tindak amoral terhadap guru kita sudah marak terjadi terkhususnya di negara tercinta kita.

Apalagi, posisi guru yang dulu sebagai sumber primer pengetahuan, hari ini perannya terasa tergantikan oleh derasnya teknologi dan informasi. Seakan lupa bahwa sebab adanya teknologi yang canggih itu bersumber dari apa yang diajarkan oleh para guru dan kemudian dikembangkan sehingga kita dapat rasakan di masa sekarang ini.

Peserta didik sudah merasa hebat jika dia bisa melampaui gurunya dalam bidang teknologi. Ini merupakan kurangnya bercermin pada diri masing-masing bahwa pengetahuan tidaklah bisa diperbandingkan. 

Di era keniscayaan teknologi dan informasi, cita-cita menjadi guru yang berjasa di zaman sekarang adalah suatu keniscayaan. Bila penulis boleh menyebut, guru untuk zaman sekarang juga haruslah memperlihatkan kualitas diri kepada peserta didik. Menjadi guru yang profesional dan bisa membuat murid senang dengan pelajaran yang diberikan adalah hal yang luar biasa dan akan sangat dihargai oleh peserta didik.

Teruntuk para guru kami yang terhormat yang mungkin diperbaiki hanyalah metode dalam proses belajar mengajar (PBM). Dan tentunya guru harus paham bakat dan minat para peserta didik dan tidak memaksakan untuk harus bisa dalam semua pelajaran. Setiap peserta didik pasti punya potensi yang bisa mereka kembangkan jika didampingi dan selalu di berikan motivasi bukan membuat psikologi peserta didik menjadi terganggu karena kata-kata yang tidak enak terhadap peserta didik.

Guru dan murid adalah suatu hal yang saling terikat dan tidak bisa terlepas. Guru dengan ilmu tanpa murid tidak ada apa apanya Begitu juga dengan murid haruslah butuh guru untuk bisa mengetahui sesuatu.

Teruntuk para guru, penulis berterima kasih dengan usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Tanpa guru penulis mungkin tidaklah bisa berkata-kata dalam tulisan ini. Terlebih untuk para pembaca kalian tidak akan bisa membaca tanpa guru. Maka marilah merenung dan mengingat jasa para guru kita.

Penulis mengutip kata dari seorang pahlawan kita Ki Hajar Dewantoro "Jadikan setiap  orang sebagai guru  dan jadikan  rumah sebagai sekolah" artinya silahkan kembangkan wawasan ilmu pengetahuan dimana saja. Menjadi lebih cerdas dari guru kita adalah keberhasilan seorang guru.

Kita boleh melampaui kecerdasan dan Kemampuan para guru tapi ingat tetap tundukkanlah kepala dihadapan guru dan rendahkan hati serta sehormat-hormatnya bahkan sujudlah dihadapan sang pahlawan intelektual yang bernama Guru.

Marilah menolak lupa akan sosok sang guru dan merawat ingatan tentang ilmu yang tertanam dalam ingatan. Dan pertanyaan penulis setelah mengingat sang guru? Terus apa lagi?
Sekian!!!

Oleh : A. Ikhsan