Menjadi Pemuda Muslim Cerdas Dan Berilmu

Lorong Kata - Kata pemuda merujuk pada seseorang yang masih muda serta memiliki semangat yang tinggi. Jika kita melihat berbagai sumber, dikatakan bahwa pemuda menduduki peran penting dalam melakukan perubahan. Mengenai hal tersebut, banyak kisah yang membuktikannya.

Misalnya, bercermin pada sejarah bangsa kita, Indonesia. Tentu kita mengetahui pemuda-pemuda yang terkenal karena kiprah mereka dalam membebaskan Indonesia dari cengkeraman penjajah, hingga berujung pada perubahan yang ditandai dengan proklamasi kemerdekaan. Ada Bung Tomo, dengan ciri khas pidatonya yang membakar semangat rakyat Surabaya, atau sang Panglima dan Jenderal pertama Republik Indonesia (RI), Raden Soedirman. Dikatakan, beliau merupakan Jenderal RI yang termuda.

Selain itu, peradaban Islam juga menulis dengan tinta emas sederet nama pemuda Muslim terbaik. Ada Imam Syafi’i yang berhasil menghapal isi alqur’an saat masih berumur belia, ataupun sejarah heroik Sultan Muhammad Al-Fatih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel pada saat usianya masih 21 tahun.

Karena posisi pemuda yang urgen dalam proses perubahan, tak heran, julukan “The agent of change” disematkan kepadanya. Namun, yang perlu kita ketahui, tidak semua pemuda bisa menempati posisi tersebut. Tentu saja ada syarat yang harus dipenuhinya. Salah satunya adalah dia harus cerdas dan berilmu. Bayangkan, bagaimana bisa ada seorang pemuda yang membuat target untuk bisa memberikan sumbangsih terbaiknya untuk perubahan tapi dia tidak memiliki keduanya (cerdas dan berilmu)? Bisa diprediksi, targetnya akan sulit tercapai.

Sebagai contoh, salah satu ciri orang memiliki ilmu yakni dia bisa membaca, menulis, dan berhitung. Hal tersebut tersebut adalah perihal yang paling mendasar untuk mendapat pengetahuan yang lain.
Penjabarannya, walaupun ada seorang pemuda yang memiliki tubuh sehat namun tidak mampu membaca, menulis ataupun berhitung, bagaimana bisa dia akan menjalani hidupnya dengan mudah atau menentukan target secara tepat? Bagaimanapun, hidup tidak bisa dijalani hanya bermodal tenaga saja. Tentu akan lebih mudah menjalani kerasnya kehidupan jika pemuda tersebut memiliki pengetahuan lain, seperti masalah ekonomi misalnya. Tentu aneh jika ada pedagang di pasar tapi tidak bisa berhitung, peluang untuk mengalami kerugian tentu lebih besar.

Selain berilmu, seorang pemuda juga harus bisa menjadi sosok yang cerdas. Dengan kecerdasan tersebut dia bisa lebih mudah memetakan apa yang diinginkan sembari memperhitungkan segala risiko yang kemungkinan ada. Hal ini akan membuatnya lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan agar terhindar dari kerugian dimasa mendatang.

Mengingat bahwa cerdas dan berilmu menentukan kualitas dari seorang pemuda, maka ada beberapa langkah yang mesti ditempuh agar kita memilikinya;

Yang pertama, menuntut ilmu. Menurut penulis, di dunia ini tidak ada yang bisa langsung diketahui oleh seseorang tanpa melalui proses mencari tahu. Untuk bisa membaca misalnya, tentu dibutuhkan proses panjang yang dimulai dari belajar mengenal huruf, merangkainya, hingga bisa membaca serta mengerti makna tiap kata dan kalimat. Maka menuntut ilmu merupakan bagian dari proses belajar tersebut. Dilihat dari besarnya manfaat yang akan didapat, kedudukan menuntut ilmu menjadi wajib bagi setiap pemuda, terlebih bagi seorang Muslim. Hal itu bisa dilihat dari sederet dalil wajibnya menuntut ilmu dalam agama Islam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

Yang kedua, meningkatkan intensitas membaca. Membaca merupakan cara yang ampuh untuk menambah pengetahuan. Sumber-sumber bacaan bisa berupa buku, koran, atau selebaran. Di zaman modern seperti saat ini, kita lebih mudah mengakses sumber bacaan dengan bantuan internet. Namun, perlu diingat untuk selalu memfilter sumber bacaan kita, agar pengetahuan yang didapat juga berbobot.

Yang ketiga, menulis. Saat menulis, ada serangkaian aktivitas yang bisa meningkatkan kecerdasan seseorang. Sebab ada proses mencari tahu fakta yang akan diulas, kemudian sang penulis harus banyak membaca buku terkait tema yang sedang ditulis, kemudian adanya proses analisis untuk menentukan solusi mengenai persoalan itu. Tatkala dilakukan berulang akan meningkatkan kinerja proses berpikir serta bertambahnya pengetahuan yang berujung pada peningkatan kecerdasan.

Ketiga langkah tersebut saat diaplikasikan dengan sungguh-sungguh In Syaa Allah bisa menjadikan kita sebagai seorang pemuda muslim yang cerdas dan berilmu. Saya yakin setiap muslim pasti menginginkan dirinya seperti Imam Syafi’i atau Sultan Muhammad Al-Fatih, yakni para pemuda yang bisa membawa perubahan. Oleh karena itu, mari segera bergegas untuk memperbaiki diri agar kita bisa menorehkan nama dengan tinta emas di peradaban selanjutnya sebagai pelopor perubahan.

Penulis: Devita Nanda Fitriani, S.Pd (Pemerhati Pendidikan)