Natuna, Kau Sangat Mempesona

Lorong Kata - Natuna, kau bagaikan bunga yang sangat mempesona bagi para kumbang hingga tak mampu menahan kedua sayapnya untuk singgah menghampirimu. Kau pun ibarat kembang desa yang sangat menggoda mata kapitalis tampan dan mapan yang melihatnya.

Natuna, perairan kaya yang sedang menjadi perbincangan hangat masyarajat Indonesia. Bagaimana tidak, pesonanya yang sangat menggoda mampu memancing keberanian para negara kapitalis untuk singgah dan mengobok-obok lautnya yang kaya akan sumber daya alam. Siapa yang tahan melihat periran Natuna dengan sumber daya alam yang cukup melimpah, terutama energi. Total produksi minyak dari blok-blok yang berada di Natuna adalah 25.447 barel per hari. Sementara produksi gas bumi tercatat sebesar 489,21 MMSCFD. Natuna bisa jadi lokasi blok gas raksasa terbesar di Indonesia, dengan terdapatnya blok East Natuna yang sudah ditemukan sejak 1973. Berdasar data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), volume gas di blok East Natuna bisa mencapai 222 TCF (triliun kaki kubik). Tapi cadangan terbuktinya hanya 46 TCF, jauh lebih besar dibanding cadangan blok Masela yang 10, 7 TCF. Tapi perlu dicatat, bahwa kandungan karbondioksida di blok tersebut sangat tinggi, bisa mencapai 72%. Sehingga perlu teknologi yang canggih untuk mengurai karbon tersebut. Sementara, untuk cadangan minyak diperkirakan mencapai 36 juta barel. (cnbcindonesia 03/01/2020)

Tak hanya menyimpan potensi migas yang besar, kawasan Laut Natuna juga menyimpan kekayaan perikanan yang berlimpah yaitu ikan pelagis kecil (621,5 ribu ton/tahun), demersal (334,8 ribu ton/tahun), pelagis besar (66,1 ribu ton/tahun), ikan karang (21,7 ribu ton/tahun), udang (11,9 ribu ton/tahun), cumi-cumi (2,7 ribu ton/tahun), hingga lobster (500 ton/tahun). (cnbcindonesia 03/01/2020)

Perairan natuna yang kaya akan sumber daya alam nya membuat China tak mampu menahat hasrat untuk memilikinya. China, negara yang sedang mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan masyarakat Indonesia, akibat penemuan puluhan kapal penangkap ikan milik china yang juga dikawal oleh kapal penjaga dan kapal perang China jenis fregat di Natuna. Direktur Operasi Laut Bakamla, Laksamana Pertama Nursyawal Embun dalam artikel CNNIndonesia 02/01/2020, menuturkan telah berupaya melakukan pengusiran terhadap kapal-kapal china tersebut dari sekitar zona ekslusif ekonomi (ZEE) Indonesia di Natuna sejak 10 desember lalu. Ia menuturkan kapal-kapal China itu sempat menjauh dari perairan Indonesia. Namun, beberapa hari setelahnya kembali memasuki dan mengambil ikan di landas kontinen Indonesia disekitar Natuna. Nursyawal menuturkan pihaknya tidak bisa berbuat banyak untuk mengusir kapal-kapal China itu lantaran mereka dinilai lebih kuat.

Sungguh, ancaman yang sangat serius dilakukan oleh China terhadap wilayah perairan Natuna yang masih termasuk wilayah Indonesia. Bagaimana tidak, sikap China yang sudah sangat keterlaluan bukan hanya mencuri namun juga mengklaim wilayah Natuna sebagai milik China, justru masih dapat membuat pemerintah Indonesia dan China terihat begitu mesra, bahkan respon pemerintah yang santai dalam menanggapi persoalan ini menjadi alasan tak jera nya China dalam mengambil sumber daya alam Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari tanggapan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dianggap yang lembek dalam menyikapi masuknya kapal-kapal China ke wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di perairan Natuna. Menurut Prabowo, pemerintah tak perlu memakai kekerasan menghadapi persoalan klaim China atas Natuna. Ia mengedepankan perundingan yang baik agar tak memecah persahabatan kedua negara. "Kita selesaikan dengan baik ya, bagaimanapun China negara sahabat," ucap dia. (Suara.com 10/01/2020)

Yah, kita semua tahu bahwa China adalah salah satu negara yang memiliki investasi besar dalam pembangunan Indonesia. Tak hanya itu, China merupakan salah satu negara pemberi utang terbesar kepada Indonesia setelah Singapura dan Jepang. China juga merupakan negara pemberi utang terbesar kepada BUMN Indonesia dilansir dalam Bisnis.com (29/03/2019). Sehingga bisa dibayangkan, Jika terjadi konflik antara China dan Indonesia maka sangat jelas pihak China akan memaksa Indonesia untuk melunasi utangnya. Hal ini akan sangat berpengaruh buruk pada stabilitas ekonomi Indonesia. Alhasil, segala cara pun akan dilakukan Indonesia entah menjual aset negara atau malah berutang ke IMF dan berutang lag kepaada negara lain demi membayar utang ke China. Jelas, kesulitan yang dialami Indonesia jika berselisih dengan China. Hal ini membuat Indonesia tak bergeming dalam melindungi kedaulatan NKRI serta menjaga Sumber daya alamnya. Terlebih ketika China sebagai investor dan pemberi utang yang menjadi pemangsa utama sumber daya alam Indonesia.

Investasi dan utang yang berasal dari sistem kapitalisme mampu melumpuhkaan pertahanan militer dalam melindingi wilayah NKRI. Bahkan dengan dalih menjaga agar hubungan kerjasama dapat berjalan dengan baik. Namun, apalah gunanya kerjasama dua negara, jika keuntungan hanya dimiliki oleh salah satu pihak saja. Inikah yang dinamakan NKRI harga mati?, namun tak bernyali ketika investor mengklaim wilayah NKRI, inikah yang dinamakan Pancasila harga mati?, jika telah nyata hingga saat ini tak satupun sila yang terealisasi dan tercapai.

Tak ada perisai terbaik negeri ini selain Islam. Islam telah mengajarkan kesatuan dan persatuan di tengah-tengah kaum Muslim. Karena itu, menjaga kesatuan dan persatuan ini pun hukumnya wajib bagi mereka. Hukum ini pun termasuk perkara yang sudah ma’lûmun min ad-dîn bi ad-dharûrah (diketahui urgensinya dalam ajaran Islam). Inilah mengapa kaum muslimin, khususnya di Indonesia, memerlukan perisai politik yang sejati. Ini demi menjaga jengkal demi jengkal tanah negeri muslim terbesar di dunia ini. Agar negara-negara penjajah kapitalis itu tak seenaknya menciptakan alasan ideologis demi melanggar batas teritorial politik negeri-negeri muslim.

Rasulullah ﷺ bersabda:
”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll).

Dalam pandangan Islam, pemenuhan kebutuhan rakyat oleh negara dibiayai dari berbagai jenis sumber. Sumber yang utama tentu saja didapatkan dari pengolahan kekayaan sumber daya alam yang terkandung didalam negeri. Kemudian dari pengumpulan zakat, jizyah, ghanimah, kharaj, dan sebagainya. Sumber-sumber tersebut sudah memiliki saluran tersendiri dalam penggunaannya.

Jika kas negara mengalami defisit, bukan hutang pada negara asing yang diambil sebagai jalan keluar, akan tetapi negara berhak memungut pajak hanya kepada warga negara yang memiliki harta kekayaan berlimpah. Dengan demikian, negara tidak harus berhutang pada luar negeri dengan menggadaikan kedaulatan wilayahnya sendiri. Lebih dari itu, marwah negara juga akan lebih tinggi dimata negara asing, sehingga mereka tidak dengan seenaknya meremehkan kekuatan negara kaum muslim.

Hanya syariat islam yang mampu memberikan penjagaan yang baik bagi negara dan memberikan pelayanan terbaik bagi rakyatnya. Wallahu’alam.

Penulis: Wina Amirah