Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Darurat Virus Corona, Pemerintah Lamban Mengambil Sikap

Sabtu, 15 Februari 2020 | 09:29 WIB Last Updated 2020-02-15T01:29:10Z
Lorong Kata - Wabah penyakit menular baru kembali menghantui dunia. Dalam dua pekan terakhir ini, dunia kembali gelisah. Sebabnya tidak lain adalah wabah virus Corona, tepatnya di Kota Wuhan, Cina. Kasus ini pertama kali diumumkan pada 31 Desember 2019. Sejak pengumumannya, kematian akibat virus Corona di Cina telah mencapai 425 orang. Hingga saat ini, jumlah yang telah dikonfirmasi oleh Cina mencapai 20.438. Namun demikian, banyak yang meyakini, jumlah yang sebenarnya jauh lebih banyak, alsannya tidak lain karena Cina cenderung tertutup menyampaikan info yang sebenarnya.

Yang pasti, penyebaran wabah ini telah menjangkau 25 negara : mulai dari Amerika Serikat, Australia, Filipina, Finlandia, India, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kamboja, Kanada, Korea Selatan, Malaysia, Nepal, Prancis, Rusia, Singapura, Spanyol, Sri Lanka, Swedia, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan Uni Emirat Arab (Cnbindonesia.com, 4/2/2020)

Sebelumnya pun, Presiden Cina Xi Jinping menyatakan bahwa negaranya dalam kondisi genting. Pada Sabtu (25/1), Xi mengadakan pertemuan politbiro guna membahas langkah-langkah penanganan wabah. Cina telah mengisolasi Wuhan. Hal itu dilakukan guna mencegah virus kian mewabah. Otoritas kesehatan pun sedang membangun dua rumah sakit baru di kota tersebut. Sebanyak 2.300 ranjang dipersiapkan untuk merawat pasien. (Republika.co.id)

Pemerintah Lamban Cegah Masuknya Virus

Setelah kejadian di Kota Wuhan, penyebaran virus corona diantisipasi oleh banyak negara di dunia. Sebuah pernyataan di laman web resmi konsulat Perancis di Wuhan mengatakan bahwa Perancis sedang mempertimbangkan dan menyiapkan layanan bus yang memungkinkan warga Perancis, pasangan, dan anak-anak mereka meninggalkan Wuhan. Surat kabar Wall Street melaporkan pada Sabtu (25/1/2020), sikap yang sama juga dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat. Pemerintah AS merencanakan penerbangan carter pada Minggu (26/1/2020) untuk membawa warga negara dan diplomatnya kembali dari kota Wuhan di Cina. (suarasurabaya.net)

Ketika banyak negara waspada dan melakukan tindakan pencegahan terhadap penyebaran virus corona, berbeda halnya dengan pemerintah Indonesia yang tidak segera mengambil tindakan pencegahan total dengan kebijakan travel warning atau larangan masuknya turis Cina.

Hingga Kamis (23/1/2020), Kementerian Kesehatan tidak akan menutup akses atau melakukan pembatasan perjalanan dari dan ke daratan Cina melalui jalur udara, laut, dan darat.

Sebagai gantinya, Kementerian Kesehatan hanya mengeluarkan anjuran perjalanan (travel advisory) guna meminimalisir dampak wabah tersebut."Kita tidak melakukan restriksi, pembatasan perjalanan orang, karena bisnis bisa merugi, ekonomi bisa berhenti," kata Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I, Bandara Soekarno-Hatta, dr. Anas Ma'aruf di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu (22/1/2020) malam. (m.harianjogja.com).

Pernyataan seperti ini menunjukkan bagaimana prioritas negara yang seharusnya menjadi benteng utama perlindungan rakyatnya. Kesehatan harusnya menjadi salah satu prioritas yang harus diperhatikan pemerintah, bukan justru abai dan memberi kelonggaran peluang masuknya virus. Hal ini juga menunjukan bahwa pemerintah lebih memikirkan untung rugi bisnis dibanding perlindungan total terhadap rakyat.

Boleh jadi, meski tidak kita harapkan, Virus Corona juga bisa menjangkau negeri ini. Apalagi di Singapura, seorang WNI positif terjangkit Virus Corona (Kompas.com, 4/2/2020). Sayangnya, Pemerintah Indonesia cenderung lamban. Hingga Rabu (29/1/2020), Pemerintah baru memiliki opsi untuk mengevakuasi WNI di Provinsi Hubei yang berjumlah 243 orang itu. Begitu pula untuk urusan logistik. Baru akan dicarikan solusi 4-5 hari setelahnya. Yang aneh, Menteri Kesehatan Terawan Agung Putranto hanya mengimbau WNI, terutama yang berada di Wuhan, agar tidak stres. Dia menyebut Virus Corona bersifat swasirna. Artinya, pasien terjangkit Corona bisa sembuh sendiri bila kondisi tubuhnya cukup baik.

Penyebaran Virus Corona yang makin meluas juga tak membuat Pemerintah membatasi wisatawan Cina ke Indonesia. Terbukti, Pemerintah hanya menutup penerbangan langsung ke Wuhan, Ibukota Provinsi Hubei. Namun sebenarnya, pembatalan tersebut terjadi karena ekses kebijakan isolasi yang ditetapkan oleh Pemerintah Cina, selanjutnya diikuti oleh maskapai penerbangan, bukan berawal dari Kementerian Perhubungan sendiri.

Yang lebih aneh, Wakil Menteri Parekraf Angela Tanoesoedibjo mengatakan, tahun lalu terdapat sebanyak kurang lebih 1,9 juta wisatawan dari Cina. Meski begitu, hingga saat ini pihaknya masih dalam proses perhitungan berapa potensi devisa jika wisatawan dari Cina berkurang. Padahal di media sosial banyak netizen meminta Pemerintah untuk sementara menolak kedatangan warga Cina ke Indonesia karena khawatir penularan Virus Corona. Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, dr. Achmad Yurianto, malah meyakinkan bahwa virus bisa dicegah tanpa harus ada penolakan.

Islam Solusi Wabah Penyakit

Islam selalu menunjukkan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal dan memberikan solusi atas segenap persoalan. Islam memiliki kekayaan konsep dan pemikiran cemerlang yang bersifat praktis. Terpancar dari akidah Islam yang sahih dan berasal dari kebenaran Alquran dan Sunah serta apa yang ditunjukkan oleh keduanya. Bahkan telah teruji kemampuannya di seluruh penjuru dunia selama berabad-abad.

Islam telah menegaskan, bahwa pemimpin dan negara menjalankan fungsinya sebagai junnah (tameng) yang menjaga umat dari segala bentuk ancaman dan marabahaya.Pemerintah juga sebagai pelayan umat. Memberikan pelayanan terbaik untuk umat. Sehingga masyarakat hidup tenteram, aman dan sejahtera dalam naungannya. Negara melayani sepenuh hati berdasarkan hukum syara' bukan berdasarkan untung rugi. Penguasa pun punya peran sentral untuk menjaga kesehatan warganya. Apalagi saat terjadi wabah penyakit menular. Tentu rakyat butuh perlindungan optimal dari penguasanya. Penguasa tidak boleh abai.

Sejarah telah membuktikan, islam telah lebih dulu dari masyarakat modern membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menular.Dalam sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda:

“Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta” (HR al-Bukhari).

Dengan demikian, metode karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah saw. untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul saw. membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah. Peringatan kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah saw. Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa.” (HR al-Bukhari).

Rasulullah saw. juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda:

Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninginggalkan tempat itu (HR al-Bukhari).

Dikutip dalam buku berjudul, Rahasia Sehat Ala Rasulullah saw.: Belajar Hidup Melalui Hadis-hadis Nabi karya Nabil Thawil, pada zaman Rasulullah saw., jika ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, beliau memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus. Jauh dari pemukiman penduduk. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.

Pada masa Kekhalifahan Umar bin al-Khaththab juga pernah terjadi wabah penyakit menular. Diriwayatkan:

Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).

Riwayat ini juga dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah wa al-Nihayah. Menurut Imam al-Waqidi saat terjadi wabah Tha’un yang melanda seluruh negeri Syam, wabah ini telah memakan korban 25.000 jiwa lebih. Bahkan di antara para sahabat ada yang terkena wabah ini. Mereka adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, al-Harits bin Hisyam, Syarahbil bin Hasanah, Fadhl bin Abbas, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan dan Abu Jandal bin Suhail.Demikianlah, sejarah Islam.

Begitu pun masyarakat yang terkena wabah tersebut untuk tidak meninggalkan atau keluar dari wilayahnya. Ini merupakan cara mengisolasi agar wabah penyakit tersebut tidak menular ke daerah lain.Karena itu, jika ada wabah khilafah akan mengarantina tempat itu dan mengirim obat-obatan dan kebutuhan kesehatan, logistik lainnya segera.Para ilmuwan di bawah khilafah akan didorong untuk menemukan obat dan perawatan baru melalui penelitian dan pengembangan. Inisiatif cepat akan diambil untuk menemukan obat tanpa mencari keuntungan.
Negara Khilafah akan memastikan perawatan kesehatan terbaik dan gratis untuk setiap warga negara terlepas dari kaya dan miskin, ras atau agama, mereka menikmati perawatan kesehatan berstandar tinggi bersama.Melalui kembalinya khilafah, orang dapat diselamatkan dari wabah seperti wabah virus corona ini, karena dalam sistem ini, khalifah akan mengambil tanggung jawab setiap orang di pundaknya sebagai kewajiban dari syariat demi mencari keridaan Allah Swt.Dia akan selalu khawatir jika mengabaikan tanggung jawab ini karena takut menghadapi pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah Swt. Rasulullah (saw) bersabda.

“Siapa pun yang bertanggung jawab atas urusan umat Islam, dan menarik diri tanpa menyelesaikan kebutuhan, kemiskinan, dan keinginan mereka, Allah menarik diri-Nya pada Hari Pengadilan dari kebutuhan, keinginan, dan kemiskinannya.” (HR Abu Daud). Wallahu a’lam bi shawwab.


Penulis: Ratna (Tenaga Pendidik)
×
Berita Terbaru Update