Teknologi Merusak Generasi?

"Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia" (Soekarno, Presiden Pertama RI).

Lorong Kata - Memang keberadaan pemuda menempati tempat krusial dalam peradaban dunia. Namun, masa kini sudah berbeda, para pemuda hanya menjadi generasi tak berguna dan generasi bobrok di Indonesia.

Generasi era sekarang yang disebut sebut sebagai generasi jaman now lebih suka memainkan aplikasi tak berguna seperti game online, tik tok, dan lain sebagainya. Seperti yang baru baru ini terjadi. Gadis remaja berusia 14 tahun dari China meninggal dunia karena mengikuti tutorial memasak popcorn di youtube. Salah satu temannya harus menjalani oprasi plastik karena luka bakar yang cukup serius. Mereka mengikuti tutorial memasak popcorn menggunakan botol soda bekas dan alat pembakar alkohol, namun sayang mereka keliru dalam mengikuti langkah langkah sehingga menimbulkan ledakan ( suara.com )

Sungguh sangat miris!! Selain itu, banyak kasus yang masih tertutup. Jauh dari injakan orang dan masyarakat. Dua remaja di Bekasi, Jawa Barat mengalami gangguan jiwa akibat bermain game online ( cnnindonesia.com )

Selain itu, ada kisah yang berasal dari Negeri Tirai Bambu. Seorang balita berusia dua tahun yang berasal dari Wuhan, Provinsi Hubei, dilaporkan mengalami luka serius.

Bocah malang ini cedera akibat ulah konyol sang ayah yang melakukan gerakan berbahaya yang ia lihat di Tik Tok. Tanpa sengaja ia menjatuhkan buah hatinya ketika ia mencoba membalikkan tubuh sang anak 180 derajat. ( liputan6.com )

Generasi Gawai, Mengapa Terjadi?

Menyayat hati!! Generasi Indonesia semakin jauh dari harapan. Ketika generasi yang diharapkan dapat merubah dunia, kini hanya angan belaka. Anak anak Indonesia berubah menjadi generasi bobrok tak bermoral. Tragedi ini terjadi karena beberapa hal.

Pertama, kurangnya ketegasan hukum. Dalam hal moral seharusnya pemerintah menyaring sesuatu yang tidak baik untuk generasi penerus. Ketegasan hukum yang ada di Indonesia kurang memfilter kedatangan hal hal yang merusak moral. Sehingga aplikasi yang dianggap remeh lama lama merusak moral generasi.

Kedua, iman yang lemah. Keimanan seseorang akan menunjukan suatu kepribadian. Ketika iman lemah, sedang berada di posisi futur, hal hal yang tak bermanfaat akan selalu menyelimuti. Entah hal yang sepele atau sampai hal yang menjerumus dalam kemaksiatan. Menggunakan tik tok memang tak apa, namun akan membuat kebablasan lewati batas. Menghilangkan citra kaum muslim yang sejatinya terjaga dan selalu beriman kepada-Nya.

Ketiga, lenyapnya rasa malu. Rasa malu pada diri akan melindungi diri generasi bangsa. Rasa malu ini sangat penting untuk dijaga. Alih alih berganti, semakin jaman berubah, rasa malu pun kian menghilang. Berjoget sana, joget sini, sudah biasa. Rasa malu menjadi lemah berkurang. Tak ada lagi rasa malu!! Bak ditelan bumi. Tak patut!

Keempat, gerak lambat sang pemerintah. Untuk mengatasi hal yang seperti ini, tak cukup hanya dari ranah diri dan masyarakat. Pemerintah adalah pendukung untuk kemajuan kemajuan yang diimpikan. Namun sayangnya, pemerintah acuh tak acuh dalam menangani. Lambatnya gerak pemerintah membuat generasi bangsa bebas berekspresi menjadikan dirinya generasi bobrok yang tak disadari. Pemerintah lalai dengan tugas yang harus diembannya, hingga tak bisa mengurusi kasus generasi bangsa.

Racikan Solusi Sejati

Penanganan sangat penting untuk dilakukan. Lindungi generasi dari hal hal yang tak bermanfaat. Meningkatkan keimanan adalah salah satu cara yang efektif selain meningkatkan rasa malu dalam diri. Selain itu, hukum harus ditegakkan, jangan sampai negara kebobolan hingga menyebabkan generasi menjadi bobrok.

Peran pemerintah juga sangat penting. Tugas pemerintah tak hanya mengurusi politik, ekonomi, sosial budaya, namun tugas pemerintah juga melindungi generasi penerus bangsa. Ketika generasi tak bisa lagi mengubah dunia, lalu siapa yang akan menggantikannya. Pemerintah harus menjaga generasi dari hal yang tak berguna. Menjadikan generasi beretika, berpendidikan, dan berintelektual, bukan generasi hura hura berjoget tak ada malunya.

Bahkan dalam islam pun sangat diperhatikan. Sedari kecil anak anak akan disibukkan dengan hal hal yang positif seperti menghafal Al-Qur'an, belajar dan sebagainnya. Sehingga setelah menginjak masa dewasa tumbuh kepribadian berdasar islam.

Ketika tidak menyibukkan diri dalam kebenaran, pasti sibuk dalam kebatilan. Karena itu selain kehidupan yang bersih, berbagai tayangan, tontonan dan aktivitas yang bisa menyibukkan generasi dalam kebatilan harus dihentikan. Mungkin awalnya mubah, tetapi lama lama kemubahan tersebut melalaikan, bahkan menyibukkannya dalam kebatilan.

Nabi Muhammad SAW bersabda "min husni islam al-mar'i tarkuhu ma la ya'nihi" yang artinya di antara ciri baiknya keislaman seseorang, ketika dia bisa meninggalkan apa yang tidak ada manfaatnya bagi dirinya.

Boleh jadi sesuatu yang tidak bermanfaat itu mubah, tetapi sia sia. Tenaga , waktu, pikiran bahkan harta sekalipun hilang dengan percuma. Agar manusia tidak terperosok kedalam hal yang sia sia, maka mereka harus disibukkan dengan ketaatan. Baik dengan membaca, belajar, berkumpul dengan orang orang salih salihah mendengarkan tilawah dan sebagainya.

Mereka harus benar benar menyibukkan diri dalam ketaatan. Hanya dengan islamlah generasi yang ada tak akan menjadi generasi bobrok. Generasi yang berada di bawah naungan islam akan terpelihara dan menjadi sosok generasi muda sejati.

Oleh karena itu, untuk menangani masalah ini harus dengan islam. Islam harus di tegakkan di negeri ini. Maka akan terwujudlah generasi intelektual, genersai bermoral yang memiliki ketaatan tinggi. Bukan generasi bobrok bermoral rendah, berjoget sana sini tanpa rasa malu dalam diri. Wallahu a'lam bishowab

Penulis: Viola Exsa Pradhesta