Bullying Yang Tak Bergeming

Lorong Kata - Untuk kesekian kalinya, merebaknya kasus bullying begitu menyesakkan hati, bukan saja terjadi pada kalangan mahasiswa, kini bullying sudah sering terjadi di tingkat sekolah, baik atas, menengah maupun dasar, sekolah umum ataupun menyasar ke pondok pesantren.

KPAI mencatat kurun waktu 9 tahun dari 2011 dan 2019 ada 37.381 pengaduan. Untuk bullying baik dipendidikan maupun sosial media mencapai 2.473 laporan.

Bullying adalah tindakan di mana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti atau mengontrol orang lain dengan cara kekerasan. Ada banyak jenis bullying. Bisa menyakiti dalam bentuk fisik, seperti memukul, mendorong, dan sebagainya. Dalam bentuk verbal adalah menghina, membentak, dan menggunakan kata-kata kasar.

Kejadian ini begitu memprihatinkan, karena acap kali sering terjadi di dunia pendidikan, yaitu di sekolah tempat siswa menuntut ilmu. Yang seharusnya mereka mendapatkan perlakuan yang baik, santun dan juga aman.

Hati orang tua mana yang tak sakit, kala mendengar si buah hati mendapatkan perlakuan bully dan tak senonoh, dihatinya menaruh harapan tinggi saat anaknya menuntut ilmu mendapatkan segudang ilmu, bukan makian atau siksaan fisik hingga berujung kematian ataupun trauma berkepanjangan.

Kasus bullying ini tak pernah tuntas diselesaikan, terkadang hanya diselesaikan cukup sampai kata damai diantara kedua belah pihak, sangsi berikutnya adalah pengeluaran siswa oleh pihak sekolah. Namun jarang sekali penyelesaian kasus bullying hingga ke ranah hukum dengan sangsi dimasukkan ke dalam penjara.

Mengapa kasus bullying seperti tak bergeming?, kejadian ini terus berulang tanpa henti, seakan memang dibiarkan terjadi, tanpa ada campur tangan pihak lembaga atau sekolah untuk tegas menindak. Islam jelas memperingatkan kita tentang perkara bullying, baik secara fisik maupun verbal. Dalam firman Allah Ta'ala dalam QS. Al Mujadalah : 11

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Sudah semestinya pemerintah turun tangan menyelesaikan kasus bullying ini secara massif disemua level dunia pendidikan, agar tidak terjadi lagi korban-korban berikutnya. Negeri ini harus mampu keluar dari seluruh masalah yang ada, terutama fokus kepada penyelesaiannya. Dan kali ini generasi muda menuntut perhatian keseriusan penanganannya. Wallahu'alam bishowwab.

Penulis: Didi Diah ( Praktisi Pendidikan )