ATM Spanyol

Lorong Kata - "Tirulah yang baik-baik". Demikianlah petuah bijak yang masyhur terkenal di negeri ini. Memang, memulai hal yang baik tentu dari meniru yang baik-baik. Tak terkecuali dengan dunia tulis menulis. Terbukti bahwa perliterasian pun kini telah diwarnai epigon dengan modus ATM (amati-tiru-modifikasi) dan terkadang juga metode spayol alias separuh nyolong. Entah karena tidak memiliki idealisme, miskin imajinasi, malas membaca, atau ingin meraih sesuatu dengan cara instan. Fenomena inilah yang patut kita urai agar mampu mengantarkan diri kita sebagai penulis dengan karakteristik yang khas, melalui hasil riset dan dituangkan melalui artikel yang mendidik pembacanya.

Kalau kita melihat, sudah ratusan ribu bahkan jutaan karya sastra yang beredar di perpustakaan umum, belum lagi via online semacam Cabacab, Storial, Ipusnas maupun Wattpad. Semua mengarahkan kemudahan memperoleh bacaan entah itu fiksi, non fiksi, ilmiah hingga absurd sekalipun. Parahnya lagi, hampir isinya menyuguhkan hal yang sama, dan tidak sedikit yang di jambret para plagiat. Hingga pembaca pun kebingungan, tulisan tersebut aslinya milik siapa.

Hal ini menandakan bahwa, betapa arus bacaan menumpah ruah laiknya selang pemadam kebakaran yang deras, hingga patut dipilah-pilah pembacanya agar tak menyeret pada pemahaman dangkal atau justru menjadi pelopor dosa investasi yang tidak disadari oleh penulis. Seperti mengisahkan tentang romansa rumah tangga hingga detail urusan dapur, sumur dan kasurnya.

Nah, jika berangkat dari hal diatas tentu menulis menjadi ke engganan tersendiri, sebab untuk menghasilkan suatu karya hebat tidak cukup dengan menulis seadanya. Untuk mempersembahkan tulisan bermanfaat jelas tidak bisa dengan hanya coretan alakadarnya. Disinilah yang membedakan, apakah kita menjejak sebagai penulis berkelas atau hanya penyemarak media sosial.

Kalau sekedar menghebohkan dunia itu urusan yang mudah, menulislah seaneh mungkin dan menyenggol orang terkenal pasti tulisanmu bakal viral. Tapi beda lagi jika kita ingin dikenal sebagai penulis yang berorientasi dakwah. Tentu amunisinya lebih banyak dari sekedar menumpahkan sampah kepala. Sebab, untuk menghasilkan tulisan bergizi tersebut perlu yang namanya mengkaji kitab, memperbanyak referensi bacaan yang memiliki sanad, serta berguru hingga bergabung dengan komunitas yang mewadahi penulis-penulis bermutu.

Oleh karena itu, patutlah kita memiliki rambu-rambu agar menjadi penulis yang kredibel. Diantaranya, jadilah penulis berkelas bukan penulis gadungan yang hanya mencari eksistensi. Penulis berkelas harus mampu menyebarkan gagasan secara bertanggungjawab. Maka, sebelum kamu berharap pembacamu memahami isi tulisanmu, kamu sendiri harus sudah memahaminya lebih dari siapapun.

Jangan memaksakan diri membicarakan hal yang belum betul-betul kamu pahami. Kalau memang kamu hendak mengikuti isu, setidaknya kamu baca, cari tahu, riset kecil-kecilan, sebelum akhirnya menuliskan pendapatmu. Kalau kamu mentok banget gak bisa memahaminya juga, bersabarlah. Lakukan riset lebih dalam sampai kamu paham, baru kamu tulis!

Selanjutnya, membuat kerangka tulisan bila belum bisa memetakan langsung tujuan tulisan. Dimulai dengan pokok pikiran. di sini adalah "gagasan utama" yang dalam artikel opini berupa "thesis statement" (posisi argumen yang didukung atau dibantah alias ragam fakta). Sementara "gagasan penjelas" adalah berbagai variabel elaborasi atas gagasan utama (bisa berupa data angka, grafik, contoh kasus, analogi, analisa dan lain sebagainya).

Dari kedua hal itu sajalah, kamu boleh membuat kesimpulan sebagai solusinya. Banyak penulis sepanjang tulisannya membicarakan X tiba-tiba di bagian kesimpulan membawa Y. Hal seperti ini lumrah terjadi ketika kita belum sanggup mengontrol pikiran kita. Saat kita menulis bagian tengah, kita lupa apa yang kita bahas di awal, saat kita sedang menulis bagian akhir, kita lupa apa yang kita bicarakan di tengah. Akhirnya, kesimpulan kita jaka sembung alias gak nyambung. Hehe.

Hal ini memang rentan bagi penulis pemula dalam melakukan kesalahan semacam ini. Kalau bisa semua hal yang diketahui di alam semesta ini dimasukkan dalam sebuah artikel, akhirnya tulisan menjadi lari sana-sini, tidak ada benang merahnya.

Berikutnya, Beranilah mengambil angle atau sudut pandang yang belum pernah atau sangat jarang dipakai orang, supaya pembaca tidak mendapatkan informasi basi yang itu-itu melulu. Dan jangan pernah bicara tanpa data, biasakan diri mencari data dulu sebelum menulis, pastikan datanya dapat di akses, dan dapat di jelaskan dengan mudah. pastikan penulis betul-betul memahami data yang akan dipakai.

Contoh, misalnya ingin bicara tentang pendidikan Indonesia yang sedang di ambang kehancuran. Maka sediakanlah data, dan harus memastikan bahwa penulis memahami maksud datanya. Sebab, banyak orang bicara pendidikan kita hancur dengan membawa data jumlah koruptor yang terus meningkat. Lho? Padahal koruptor aja gelarnya setinggi langit hehehe. Dengan pembacaan data yang ngaco, kita akan bermuara pada rekomendasi solusi yang ngaco kuadrat.

Nah kalau tadi membahas bagaimana menjadi penulis berkelas, kali ini Nyai juga akan membahas daftar alasan "kenapa tidak menulis" yang kerapkali mampir pada diri penulis.

Dimulai dari grup. Coba tengok ada berapa grup kepenulisan yang sudah diikuti? Belasan? Puluhan? Ratusan? Lalu sudah berapa karya yang telah dihasilkan? Apakah sejumlah grup yang diikuti. Saya senyumin dulu deh. Hehe. Pada dasarnya bukan seberapa banyak grup yang diikuti, kawan. Melainkan soal 'add grup' itu tujuannya apa? Kalau dengan banyak grup diikuti tapi nihil karya yang mengikuti, justru patut dipertanyakan kembali. Sebenarnya serius belajar memahat karya atau menyusun daftar grup untuk sekedar diamati. Hihi. Jangan-jangan justru ini yang membuat alasanmu malas menggerakkan jari. Kebanyakan teori minim aksi.

Next ya! Alasan ngadat nulis yang lain yakni modal 'kepengen'. Jadi niat gabung grup awalnya memang kepingin bisa nulis, tapi untuk menjadi mahir nggak bisa modal ingin yang angin-anginan saja. Tapi takut memberi target dan membuat deadline untuk diri sendiri. Sudahnya ilmu yang didapat gratis masih nggak mau nulis, apalagi yang disuruh bayar, bakal ambyar. #eh. Nah, hal ini sekaligus sebagai parameter sampai dimana level hasratmu menjadi penulis. Karena level actionnya pasti nggak akan beda tipis dengan hasil karyanya. Hehe.

Oiya, orang yang biasa nulis sekalipun tidak selalu selamat dari kejenuhan bahkan patah arang. Entah tulisannya terus diserang atau di elu-elukan sampai di titik maksimal bosan mendapat pujian. Ketika momen itu terjadi bolehlah menarik diri sejenak, mencari motivasi kembali demi meluruskan niat mengapa menulis. Sebab, penulis juga manusia, punya hati dan rasa yang sulit dijangkau sesama manusia. Terselip sedikit saja riya' bisa bahaya. Oke!

Begitu pula dengan penulis yang mempunyai karya sekalipun, pasti bisa juga mengalami stuck! Awalnya lancar memulai dengan satu kata berlanjut menjadi dua, tiga hingga ratusan jumlahnya, eh tiba-tiba macet. Bukan lantaran pulpennya kehabisan tinta, tapi karena kita nggak tau apa yang mau diketik selanjutnya. Nah, itu tandanya butuh rehat sejenak dari menyusun abjad. Tapi agar tidak kosong segera diisi dengan bacaan agar diksi meningkat tajam.

Dan yang paling penting adalah, jangan lupa untuk mencari mentor yang asik diajak ngobrol banyak hal, dan memiliki visi misi yang sama dalam hal kepenulisan, agar kita selalu terjaga di jalur yang benar. Sebab, belajar sendirian itu gurunya setan. Jadi kalau masih punya alasan mengapa nggak nulis itu pasti manusia paling sibuk sedunia. Sebab, visinya selangit tapi eksyennya pelit. Cita-citanya besar tapi kalah oleh kesibukan. Tanyakan kepada diri, manusia paling sibuk dan padatkah sehari-hari? Atau sebenarnya lebih banyak leka yang mendominasi. Hihihi.

Nah, kalau sudah beragam alasan mendasari, yuk mulai tunjuk diri sendiri, dan mulailah mengangkat penamu kembali. Sudah tidak ada alasan untuk berhenti berkarya bukan? Semoga tulisanmu menghentak seisi bumi, dan kemenangan Islam menyelimuti seluruh penjuru negeri.

Salam hangat dari Nyai penggemar kopi.

Penulis: Aishaa Rahma