Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Sisi Positif Hadirnya Corona

Senin, 30 Maret 2020 | 14:20 WIB Last Updated 2020-03-31T03:28:25Z
Ikbal Tehuayo
Lorong Kata - Kita simak corona terdengar dimana-mana. Tumpah ruah dengan derasnya di berbagai media. Dan kitapun terpekur, lalu cemas.

Kita cemas sebab orang-orang mempertontonkan kepanikannya. Ada surat edaran. Ada berita yang bertaburan dan seolah mencengkram, bahkan menghantui. Kita seakan tersudut, dan seringkali  jenuh dengan keadaan itu.

Tetapi kita tak mampu menentang, Sebab aneka rupa himbauan datang dari mereka yang berkuasa.

Traumatisme pun melanda warga. Corona hadir sebagai buah yang tak diharap, hingga terbengkalainya agenda-agenda sosial ekonomi  lainnya.

Bila agenda-agenda itu terbengkalai, maka rakyat akan masuk pada tatanan ekonomi dan keadaan sosial baru, dan tentu butuh penyesuain.

Dari The New York Times, CNN hingga TV One tak sepi membahas isu corona.

Dari mimbar-mimbar Masjid, hingga lorong-lorong kecil, corona sudah menjadi buah bibir yang tak luput dari perbincangan.

Tumpah ruah di jagat maya beragam keluhan, dari emak-emak kelompok arisan hingga muda-mudi milenial.

Silaturahim antar tetangga terhenti, majelis- majelis taklim diliburkan, bahkan romans pun berhenti akibat ulahnya corona.

Publik kini di cengkram kegelisahan berbagai rupa. Gelisah secara sosial, ritual, ekonomi, hingga psikologi.

Sudah hampir sepekan, mobil patroli dengan suara himbauan menghiasi jalan umum. Langkah ini diyakini sebagai cara untuk menyadarkan publik bahwa virus corona bukan masalah recehan.

Tak sedikit nyawa menjadi korban, tak sedikit pula tenaga medis yang kewalahan. Harapan mereka adalah tinggal di rumah, agar pasien tidak bertambah melampaui stok tenaga medis.

Karena mendistribusikan keresahan, ketakutan dan kepanikan, nama corona akan terlukis diatas lembaran hitam sejarah menjadi final di benak publik, hadirnya corona membawa petaka.

Tentu keliru, bila corona hanya dicap  sebagai lambang pembawa trauma. Sejenak kita bayangkan, aksi kupu-kupu malam memproduksi dosa dapat dibatalkan oleh corona.

Corona juga menyalurkan bayangan kematian dalam memori kita, agar terdorongan dalam jiwa untuk lebih banyak tunduk pada ilahi.

Mengingat kematian adalah ibadah, bukan bercandah. Di lain sisi, mewabahnya covid-19 mengharmonikan kelurga yang dulunya sibuk dengan kerjaan.

Kalkulasi pikiran haruslah lengkap untuk melihat peristiwa, agar tidak terjebak pada konklusi yang palsu

Seorang penyair persia perna berkata, petiklah hikma, meskipun kata-kata hanya tertulis pada dinding.

Makna tersirat mengajak kita, fungsikan akal untuk melacak hikma di balik lipatan peristiwa. Sehingga tidak tersesat pada klaim buruk pada corona.

Manusia adalah homo educandum, yaitu makhluk yang membutuhkan pendidikan.

Pendidikan tak hanya diberikan oleh seorang guru, tapi,  peristiwa memilukan atau mematikan juga memberikan pendidikan. Dan, pendidikan itu hanya bisa dimengerti oleh mereka yang berakal.

Dari daratan Eropa, Asia, Amerika, hingga Afrika mencaci dan melaknat hadirnya corona, dan itu terjadi akibat akalnya tak berfungsi untuk melihat sisi positif hadirnya corona.

Bukankah hadirnya corona memberikan keuntungan besar bagi produk masker?
Produk alat pelindung diri ( APD ) bagi tenaga medis pun menggunung dan tak sedikit menyedot untung.

Di jalanan sepi dari lalu-lalangnya kendaraan, dan itu mengurangi bahan pencemaran udara.

Suara-suara mesin berkurang, rumah-rumah ibadah ditutup dan tentu AC nya dimatikan, ini mambantu memperlambat pemanasan global dan tidak mempercepat mencairnya es dikutub hingga mengakibatkan permukaan laut naik dan menghabiskan sebagian daratan bumi.

Corona tak sekedar membawa petaka. Kehadirannya menyimpan aneka hikma positif dibalik dasar peristiwa, oleh sebab itu, marilah kita melihat satu peristiwa dengan kelengkapan pengetahuan, agar tidak membudaya matinya akal dalam memandang suatu tragedi.

Penulis: Ikbal Tehuayo

Tonton Juga

×
Berita Terbaru Update