Matinya Nurani Ibu Pembuang Bayi

Alfiyah Kharomah., STr. Kes
Lorong Kata - Warga Tulung, Klaten digegerkan dengan penemuan jasad bayi laki-laki yang lengkap dengan tali pusarnya. Diduga bayi tersebut sengaja dibuang oleh ibunya sendiri seusai melahirkan. Awalnya jasad bayi tersebut ditemukan oleh anak-anak yang sedang mencari cacing. Jasad bayi tak berdosa tersebut ditemukan sekitar pukul 13.15 WIB pada hari Sabtu 8 Februari 2020. Diperkirakan bayi tersebut dibuang di lokasi sejak pagi.

Setelah ditelusuri, Polisi mengamankan seorang wanita berinisial D (30) terkait kasus penemuan mayat bayi di saluran irigasi di kecamatan Tulung tersebut. Tersangka adalah ibunya sendiri. Menurut Kasat Reskrim Polres Klaten AKP Andriansyah Rithas Hasibuan kepada Detik.com, pelaku sengaja membuang bayinya seusai melahirkan. Setelah menjalani autopsi, ada indikasi penyekapan dimulut si bayi.

Sungguh miris. Seharusnya, seorang ibu ketika ia melahirkan anaknya, ia akan merasa bahagia dan bersyukur. Namun, justru sebaliknya, si ibu membunuh bahkan tega membuang darah dagingnya sendiri. Fenomena seperti rupanya tak hanya sekali ini terjadi. Kasus ibu membuang bayinya, mengaborsi bayinya bahkan membunuh bayinya sendiri sudah banyak diberitakan.

Apalagi, motif ibu tersebut membuang bayi yang dikandungnya, lantaran takut dikira hasil perselingkuhan. Tentu saja, ini adalah alasan yang tidak masuk akal. Apalagi dosa yang ditanggung lebih besar lagi.

Rasa keibuan yang harusnya muncul pada seorang wanita justru hilang. Tentu saja ini menimbulkan tanda tanya besar. Seorang ibu seharusnya menyayangi anaknya. Seorang ibu yang harusnya menjadi tempat sandaran ternyaman dan aman. Kini berubah menjadi makhluk yang tak memiliki hati nurani. Tega membunuh anak sendiri. Bahkan, hewanpun tak ada yang membunuh anaknya bukan?

Rusaknya nurani fitrah ibu sebagai sosok yang penyayang adalah karena jauhnya para wanita dari aturan-aturan Islam. Banyaknya fenomena ibu tega membunuh anaknya, tak lepas dari sistem yang saat ini dianut oleh negara. Yakni Sekulerisme. Sekulerisme adalah faham yang memisahkan aturan-aturan agama dari kehidupan. Banyak sekali ibu yang tidak faham agama. Sehingga dengan mudahnya ia membunuh anaknya yang tak berdosa. SEperti yang telah Allah Firmankan dalam surat Al- A’raaf ayat 179.

“…Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Sekulerismelah yang menjadi biang kerok segala permasalahan keluarga dan rumah tangga muslim. Ditambah lagi beban hidup yang semakin tinggi. Mahalnya bahan-bahan pokok, dan harga bahan makanan yang semakin tak terjangkau. Menjadi tekanan tersendiri bagi para wanita khususnya Ibu di daerah-daerah.

Di sisi lain, pemerintah setempat juga melakukan upaya peningkatan program pemberdayaan perempuan di kota Klaten. Perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan merupakan salah satu program prioritas Dinsos P3AKB Klaten. Kaejadian ini harusnya pemerintah kabupaten setempat mengevaluasi kembali program-program pemberdayaan perempuan. Apakah benar-benar sudah menyentuh akar masalah persoalan yang dihadapi oleh perempuan di Klaten? Ataukah justru malah abai akan kondisi perempuan yang sebenarnya.

Tentu saja, Ini adalah salah satu masalah dari banyaknya masalah cabang akibat diberlakukannya sistem yang rusak dan merusak. Yakni Kapitalisme Sekulerisme. Ia tidak memberikan porsi pada Islam dalam mengatur kehidupan. Padahal Islam, amat sangat sempurna dalam mengatur masalah-masalah kehidupan. Tak terkecuali masalah perempuan.

Sebab dalam Islam, permasalahan keluarga tak luput dari tanggung jawab negara. Kisah Umar yang menegur seorang ibu yang membiarkan anaknya terus menerus menangis, menjadi bukti yang cukup betapa luar biasanya tanggung jawab seorang kepala negara. Ketika sang Ibu ditegur Umar, Ibu tersebut menjawab bahwa ia membiarkan anaknya menangis karena anaknya lapar ingin ASI. Sedangkan sang Ibu berniat untuk menyapih anaknya lebih cepat, karena kebijakan negara yang dibuat saat itu adalah akan memberikan tunjangan bagi setiap ibu yang baru selesai menyapih anak-anaknya. Maka alasan itu yang menjadikan si Ibu menyapih anaknya lebih cepat. Yaitu ingin mendapatkan tunjangan lebih cepat dari negara.

Mendengar alasan ibu tersebut, hati Umar sebagai kepala negara teriris. Sakit. “Berapa bayi yang sudah aku bunuh?”, gumam Umar. Lalu ia pun membuat kebijakan baru bahwa tunjangan akan diberikan kepada setiap ibu yang sedang menyusui dan yang telah selesai menyusui.

Bukankah sangat kontras dengan pemimpin saat ini? Berapa banyak bayi-bayi yang diaborsi dan dibunuh oleh ibu-ibu mereka sendiri karena diterapkannya sistem rusak dan merusak ala kapitalis sekuler? Maka tidak berlebihan apavilah dikatakan, sistem kapitalis sekuler inilah yang telah membunuh hati nurani seorang ibu, Wallahu ‘alam Bisshawab

Penulis: Alfiyah Kharomah., STr. Kes (Tulung-Klaten)