Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Meraup Keuntungan di Tengah Kepanikan Masyarakat

Senin, 16 Maret 2020 | 11:59 WIB Last Updated 2020-03-16T03:59:26Z
Lorong Kata Kasus hebohnya masyarakat karena virus corona. Efek tersebut terlihat jelas, dimana masyarakat memiliki ketakutan berlebih terhadap virus corona. (Dikutip pinterpolitik.com, 14/3/2020). Kepanikan masyarakat tersebut membuat masyarakat melakukan berbagai upaya pencegahan/antisipasi dari penularan virus corona.

Masker menjadi barang langka berharga tinggi setelah wabah corona atau covid-19 menjalar. Masyarakat berbondong-bondong membeli karena menganggap memakai barang ini dapat mencegah virus masuk ke tubuh. Kelangkaan masker ini, ternyata bukan hanya karena orang-orang membeli untuk dipakai oleh dirinya sendiri dan untuk orang terdekatnya. Melainkan, ada juga yang sengaja membeli dalam jumlah besar untuk ditimbun, kemudian dijual lagi saat harga semakin melambung.

Pelaku penimbunan masker sudah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Barang bukti yaitu masker justru malah dijual oleh POLRES Metro Jakarta Utara dengan alasan demi kepentingan umum. Karena akan dijual kembali ke masyarakat. (Dikutip tirto.id, 15/3/2020).

Ditengah kepanikan masyarakat dalam merespon pengumuman virus corona, penegak hukum (polisi) malah menjual masker hasil sitaan (barang bukti). Pemerintah tidak mengambil langkah-langkah yang dapat menghentikan kepanikan masyarakat, malah terlihat santai dalam menanggapi kepanikan tersebut.

Pemerintah lebih berorientasi pada keuntungan yang dapat diambil dari situasi genting ini, bukan pada kemaslahatan rakyat yang seharusnya diutamakan sebagai salah satu bentuk tanggungjawab pemerintah terhadap masyarakatnya.

Pemerintah seharusnya menanamkan keyakinan pada masyarakat bahwa pemerintah melakukan langkah antisipasi yang maksimal yaitu dengan mengedepankan keselamatan rakyatnya dibandingkan kepentingan ekonomi, dan lain-lain. Pemerintah dewasa ini, berbeda dengan pemerintah Islam yang menerapkan sistem Islam yang bekerja maksimal dalam menjalankan fungsi riayah dan junnah.

Meredamkan kepanikan masyarakat terhadap virus corona perlu ditanamkan keimanan pada Allah dan yakin bahwa wabah penyakit adalah bagian dari kuasa Allah Azza wa jalla. Allah SWT berfirman : “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”.(TQS. At-Taubah :51).

Wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw, wabah itu kusta yang menular dan mematikan. Salah satu upaya Rasulullah saw yaitu karantina/isolasi terhadap penderita. Rasulullah saw memerintahkan untuk tidak mendekati atau melihat para penderita kusta tersebut.

Rasulullah saw bersabda: “Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta”. (HR. Bukhori). Rasulullah juga memperingatkan umatnya dalam sabda beliau : “Jika kalian mendengar wabah terjadi disuatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi ditempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu. (HR. Bukhori).

Selain itu, aturan Islam juga memerintahkan untuk menjaga pola hidup sehat, termasuk dalam memilih makanan dan minuman yang halal dan baik. Allah SWT berfirman: “Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian. (TQS. An-Nahl : 114).

Ketika kapitalisme menjadikan kesehatan dan nyawa sebagai alat untuk meraup keuntungan dengan semakin mahalnya biaya kesehatan termasuk obat-obatan. Islam justru memerintahkan Daulah Islam dan kaum muslimin untuk berkhidmat melayani kesehatan manusia.

Pada masa Daulah Umayyah, pelayanan kesehatan meningkat pesat. Salah satu rumah sakit terkemuka yaitu rumah sakit An-Nuri dibangun pada tahun 706 M oleh Khalifah Al-Walid bin Abdul Al-Malik dari dinasti Umayyah. Khalifah Walid juga meminta perawatan khusus untuk penderita lepra agar tidak menular.

Seperti itulah sosok pemimpin Daulah Islam yang amanah dalam menjalankan kepemimpinannya sebagai junnah (perisai).

Penulis: Cucu Aprilianti, S.H. (Aktivis Remaja Islam)
×
Berita Terbaru Update