-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hikmah Dibalik Covid-19: Saat Maut Tak Mampu Memilih

Rabu, 18 Maret 2020 | 08:01 WIB Last Updated 2020-04-28T03:58:13Z
Lorong Kata - Covid-19, siapa yang tidak kenal dengan "si dia." Justru keberadaannya semakin tidak asing lagi di sekitar kita. Virus corona yang sejak beberapa bulan lalu terus bergerilya dari negara satu ke negara lain di hampir seluruh negara telah menjadi wabah dunia.

Begitupun dengan negara Indonesia, diketahui sudah ikut terpapar virus ini sejak sebulan lalu. Diawali dari pengumuman bapak Presiden Joko Widodo yang memberikan keterangan persnya bahwa 2 WNI positif terkena virus corona. Seorang Ibu (64) dan putrinya (31) beberapa waktu lalu (Idntimes.com, 2/3/2020).

Sontak seluruh rakyat mulai merasa harus melakukan sesuatu untuk pencegahan. Dari yang berpikir dengan standar medis ataupun hanya berpikir dengan cara tradisional. Alhasil kepanikan dan "rush" sempat terjadi di berbagai daerah. Hal ini menjadi alasan akibat kebingungan rakyat karena tidak adanya info valid terkait jumlah pasien Corona yang semakin hari semakin bertambah. Justru kekhawatiran rakyat atas wabah ini di jadikan guyonan hebat, layaknya negeri yang kebal dari virus corona menjadi olok-olok para pejabat negeri. "Indonesia aman Covid-19 Karena suka nasi kucing." Sempat dilontarkan guyonan itu oleh Menhub Budi Karya yang saat ini sudah positif terkena virus Corona (Rmol.id, 14/3/2020).

Ditengah ketakutan rakyat pada virus ini, membuat suasana horor perasaan setiap orang. Ketakutan mereka akan terpapar virus ini menjadi momok yang tidak mampu dihindari, ketakutan akan datangnya kematian karena sang virus seakan menjadi mimpi buruk setiap individu Kali ini.

Sedih dan miris saat melihat kondisi negeri yang sedang dalam krisis kepemimpinan. Alih-alih menenangkan dan mengedukasi rakyat justru informasi pada rakyat selalu tertutup terkait penyebaran virus Corona, dan jumlah pasien real yang terkena. Jadi bagaiamanakah rakyat harus bertindak? Ditengah kebingungan situasi ini. Siapakah pemimpin yang mampu mengurus rakyatnya dengan amanah saat ini?

Jika saja setiap manusia berpikir dengan akal, tak akan ada satupun yang ditakuti atas kematian. Takdir Allah telah dituliskan bagi masing-masing manusia di dunia. Bagi umat muslim ketakutan yang paling besar adalah saat menghadapi kematian namun belum memiliki bekal cukup untuk bertemu kematian. Karena akan terbayang panasnya api neraka saat minimnya amalan dan kemaksiatan dunia masih dijalankan. Nauddzubillahimindzalik

Terkait wabah covid-19 yang tengah melanda dunia, hingga hari ini tak satupun yang mampu menyalahkan wabah ini terjadi. Hanya kuasa Allah sebagai pengendali makhluk-Nya yang lebih mengetahui hadirnya virus ini bagi manusia. Kematian bukanlah satu hal yang ditakuti karena kematian tidak mampu memilih siapa yang akan mati hari ini, esok, lusa atau nanti akibat terkena virus corona. Kematian hanya mengikuti instruksi sang pemilik jiwa makhluk-Nya. Kematian yang telah diatur sebagai takdir atas ketetapan Allah.

Yang pasti Islam telah mengajarkan semuanya. Bagaimana menghadapi wabah mematikan di satu wilayah tertentu. Lihatlah bagimana Rasulullah pernah mengunci satu wilayah yang sedang terjadi wabah penyakit menular. Dengan maksud wabah tersebut tidak meyebar ke berbagai wilayah lainnnya. Tanpa ada keraguan, ketika Rasul saw bertindak sebagai seorang pemimpin umat memutuskan dengan serius, cepat dan tegas atas tindakan pencegahan bagi keselamatan seluruh umat. Tidak lagi memikirkan untung rugi perekonomian ataupun keselamatan satu golongan saja. Tetapi keselamatan rakyatlah yang menjadi prioritas beliau saat mengurus negara dan rakyat dengan totalitas.

Islam pun telah memberikan anjuran untuk mengatasi penyebaran penyakit. Dari kitab Sahih Muslim Rasulullah saw bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah saw pernah berdoa memohon agar Allah menjaga kota Madinah dari wabah penyakit. Berikut doanya:
“Ya Allah, jadikanlah Madinah sebagai kota yang kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah atau bahkan lebih dari itu. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada kota dan penduduk kami, sehatkanlah Madinah buat kami dan pindahkanlah wabah penyakitnya ke Juhfah.” (Sahih Al-Bukhari No. 1756)

Kemudian, Rasulullah saw mengajarkan doa kepada para sahabat dari penyakit deman dan semua penyakit, agar mereka mengucapkan:
“Dengan menyebut nama Allah yang Mahabesar, aku berlindung kepada Allah yang Mahaagung dari kejahatan penyakit na’ar (yang membangkang) dan dari kejahatan panasnya neraka.” (Sunan Ibnu Majah No. 3517).

Maka perlunya peran negara dalam mengatasi masalah pendemi seperti ini harus mampu diwujudkan. Melalui pemimpin yang peduli pada rakyatnya dan mencari solusi terbaik adalah ciri pemimpin amanah yang dibutuhkan saat ini.

Penulis: Desi Wulan Sari (Revowriter Bogor)
×
Berita Terbaru Update