-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pandemi Covid-19 Dan Problematika Berbangsa Dan Bernegara

Jumat, 27 Maret 2020 | 23:40 WIB Last Updated 2020-03-28T00:08:19Z
Lorong Kata - Indonesia adalah negara kepulauan yang akrab disebut ngeri seribu pulau. Dari Sabang sampai Merauke berjajar dengan indah pulau pulau itu. Dari banyaknya Suku, Ras , dan agama sehingga budaya di Indonesia berbeda-beda. Kita sebut Indonesia adalah negeri ragam budaya dan banyak pula corak pemikiran.

Indonesia juga adalah negara yang cukup toleransi dengan negara lainnya. Buktinya akan keterbukaan itu. Ada banyak budaya, agama , dan bahkan kita bisa menerima kedatangan tamu dan bisa menetap di Indonesia ini adalah bukti bahwa kita adalah negara toleran.

Yah, disaat kita mendengar atau bahkan melihat pandemi Corona virus atau covid-19 di koran-koran, televisi dan bahkan di media sosial. Kita sangat toleran dengan umat manusia di Wuhan di negeri Cina itu.

Menurut Menteri Kesehatan Indonesia Terawan Agus Putranto, menyebut selain imunitas yang baik, doa turut membantu menjaga warga Indonesia dari serangan virus yang muncul dari Wuhan tersebut.

Yah, mungkin karena rakyat Indonesia kurang tertib dan kurang berdoa atau bahkan pemerintah kita yang lambat melakukan gerakan waspada terhadap pandemi Corona ini jadinya Indonesia telah diserang virus yang berbahaya dan mematikan ini.

Bahkan pemimpin kampus pun masih ragu untuk lockdown dan memulangkan mahasiswa secepatnya. Karena keterlambatan pemerintah itu sehingga rasa panik yang tinggi menghantui masyarakat Indonesia.

Dari kasus yang awalnya negara melaporkan hanya 450 kasus dan lebih dari 38 kematian, sebagian besar di Jakarta. Bahkan sekarang jumlahnya semakin meningkat karena tanpa imbauan dari pemerintah pusat rakyat mana tau tentang boleh menjenguk dan tidaknya.

Penyeberan virus sulit terdeteksi, bahkan menurut saya jika memang covid-19 ini adalah virus yang menular begitu cepat pada manusia maka data gagal menjawab berapa banyaknya orang yang sudah terserang virus tanpa disadari.

Maka dengan rasa panik dan ketakutan itu sehingga pemerintah segerakan lockdown di semua ibu kota. Yang menjadi masalah adalah apakah dengan masker saja kita sudah bisa terhindar dari virus ini?

Upaya pemerintah untuk mencegah Indonesia semakin mencekam kedepan menurut saya sudah baik. Tapi, dari peralatan medis dan bahan bahan pokok penyambung hidup di Indonesia masih sangat terbatas. Mungkinkah pemerintah mengandalkan impor? Jika mungkin maka upaya pencegahan akan semakin sia-sia.

Perbincangan yang hangat adalah ketika Indonesia mengedepankan ekonomi maka manusianya yang akan habis. Tapi jika pemerintah dan rakyat mengutamakan pencegahan dan mengikuti pemerintah dengan dirumah saja maka akan memberikan sedikit solusi dan mengurangi penularan virus ini tapi ekonomi akan anjlok.

Tapi apalah boleh buat sebelum Indonesia terjangkit virus Corona sudah banyak rakyat yang lapar dan bertahan hidup. Karena di Indonesia cukup banyak pertentangan kelas kelas sosial. Logikanya ketika masyarakat miskin kota tidak bekerja dan tidak mencari nafkah maka mereka akan mati kelaparan bukan karena virus. Yang menjadi bahaya adalah sudah kelaparan terjangkit virus pula.

Lockdown dan isolasi itu mungkin tidak menjadi problem bagi masyarakat kelas menengah keatas karena masih mampu menyimpan persediaan makanan. Buktinya masker saja sudah di tampung entah kemana hari ini. Maka solusi untuk masyarakat kebawah bagaimana? Ini adalah tantangannya. Untuk menjawab tantangan itu pastilah kita harapkan dari pemerintah untuk mengatasi masalah kelaparan selain dari penularan virus ini.

Disisi lain dari niat baik pemerintah untuk menutup tempat beribadah kaum beragama dan tetap berhubungan dengan Tuhan di rumah saja tapi masih banyak pertentangan oleh pecandu agama yang tidak seimbang lagi antara fikiran kecanduan akan kasih sayang Tuhan dengan problematika yang terjadi. Makanya masih sulit untuk penyadaran.

Selama tempat ibadah adalah ruang terbuka maupun tertutup virus tidak memandang tempat apapun. Maka wajar saja himbauan untuk berkumpul dan berkerumunan ditiadakan. Ini hanyalah larangan berkumpul bukan melarang untuk berhubungan dengan tuhan kita masing-masing.

Kita hidup bernegara dan hidup berkelompok. Sedangkan virus berpeluang untuk menular adalah pada tempat berkerumun. Maka untuk saat ini demi ummat dan bangsa maka sepatutnya kita mengedepankan keselamatan bersama sama dan bersatu melawan peluasan wilayah terjangkitnya virus berbahaya ini.

Tapi lagi-lagi bicara persoalan rakyat yang masih saja ngotot untuk keluar rumah. Kita berfikir positif dan jangan egois karena bagi mereka yang menggantungkan hidupnya pada pekerjaan dengan penghasilan tidak menetap itu ada diluar rumah. Maka, akan semakin bahaya saja virus ini.

Jika rakyat masih bergantung pada pemerintah dan peduli diri sendiri itu percuma karena kita hidup pada satu wilayah. Disisi lain ada yang kelaparan dan yang tinggal dirumah dengan persiapan makanan yang cukup apakah ini berpotensi mengalami kematian tidak ada? Yah, jelas ada karena sekali lagi virus ini dapat menular tanpa terdeteksi.

Maka solusinya, mari kita sama sama berfikir bagaimana langkah untuk melawan virus ini. Jika semakin terlambat maka Indonesia akan menjadi negara yang akan dkuasai oleh covid-19 ini dengan waktu yang sulit ditentukan.

Inilah saatnya kita menggunakan jiwa sosial kita. Peduli dengan sesama, rakyat yang kebingungan mencari makan, anak-anak jalanan kita peduli bersama. Jangan menunggu pemerintah yang mengatasi itu. Karena hanya dengan persatuanlah kita bisa terhindar dari ancaman virus berbahaya ini.

Virus ini tidak memandang kelas sosial. Maka hilangkanlah fikiran pertentangan antar kelas. Saling peduli hanyalah salah satu jalan untuk mengatasi dari banyaknya cara.

Kita harus sadar bahwa alat medis dan bantuan kesehatan sangatlah terbatas di Indonesia. Jika semakin lambat kita bergerak maka Indonesia akan merasakan pedihnya dihantui oleh virus Corona. Solusi kita bersama adalah melakukan social distancing tapi dengan catatan kepedulian terhadap sosial yang membutuhkan tidak dilupakan.

Penulis: A. Ikhsan, Kader Himpunan Mahasiswa Islam Kom. Syariah & Hukum UINAM
×
Berita Terbaru Update