Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Cengkraman Kapitalis Global Mewarnai Impor Alkes Dan Obat

Minggu, 26 April 2020 | 09:58 WIB Last Updated 2020-04-26T01:58:19Z
Nelly, M.Pd (Pegiat Opini Medsos, Aktivis Peduli Negeri)
LorongKa.com - Wabah Covid-19 masih menjadi fokus permasalahan dalam negeri, belum ada tanda-tanda akan berakhir. Namun di tengah hiruk pikuk menghadapi pandemi Corona ini, kementerian BUMN buka-bukaan mengenai mafia alat kesehatan (alkes) dan obat-obatan di Tanah Air. Masalah mafia ini sebelumnya disorot Menteri BUMN Erick Thohir. (finance detik)

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menjelaskan, persoalan kesehatan yakni health security telah menjadi perhatian lama Erick Thohir. Sebab, untuk urusan kesehatan ini masih tergantung impor. Menurut Arya kita itu alat kesehatan saja sampai lebih dari 90% dari impor, bahannya juga impor. Kemudian obat-obatan, bahan baku dan obat-obatan 90% impor.

Bahkan Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menjelaskan secara gamblang, bagaimana ada oknum-oknum perusahaan sektor kesehatan, yang mencari keuntungan di tengah kesempitan situasi. Secara garis besar, Arya menceritakan bahwa selama ini terdapat oknum-onkum yang sengaja membiarkan perusahaan sektor kesehatan dalam negeri tidak berkembang. Mereka membiarkan perusahaan dalam negeri hanya sebagai pengolah bahan baku saja. (tribun news)

Apa yang disampaikan Erick dan Arya memang sesuai fakta yang terjadi. Bukan hanya mafia alat kesehatan, mafia-mafia komoditas lainnya juga tengah berjalan. Seperti mafia pangan, hampir dari semua bahan pangan di Indonesia adalah produk impor. Mulai beras, gula, bawang, kedelai, dan sebagainya.

Sungguh adanya fakta ini sebenarnya tak aneh jika terjadi dalam sebuah negara yang mengadopsi sistem kapitalis. karena tabiat sistem kapitalis adalah mencari peluang ekonomi sebanyaknya. hingga apapun akan mereka jalani, asalkan bisa mendapatkan keuntungan. Praktek ini sangat terlihat pada mafia besar di balik impor alkes dan obat. hal ini juga semakin membuktikan bahwa ada cengkraman kaum kapitalis membuat korporasi global menekan pemerintah negeri ini dalam kebijakan ekonominya.

Mafia perdagangan dalam sistem kapitalisme itu hal yang lumrah terjadi. Penimbunan barang, permainan pasar, dan fluktuasi harga adalah di antara ulah para mafia. Merekalah penguasa sebenarnya dalam hal ini. Maka, selama sistem kapitalis kemudian menjadi sistem aturan tatakelola negeri ini, maka selama itu juga kejadian ini akan berlangsung. Bahkan pemerintah sendiri sudah membuktikan bahwa mereka tak segan meraih untung meski mengorbankan rakyatnya.

Ketika Indonesia mentahbiskan diri berada di jalan kapitalisme, maka seharusnya juga memahami konsekuensi logis penerapan ideologi ini. Maka yang terjadi hari ini pada negeri tercinta ini, segala kekacauan yang terjadi. Sumber dari segala penyakit ekonomi hari ini adalah penerapan kapitalisme. Adapun mafia dan impor segala rupa itu hanya efek penerapannya saja. Memberantas mafia impor bukanlah hal yang mudah dan bukan pula suatu hal yang sulit untuk diwujudkan.

Maka, memberantas para mafia sulit dilakukan jika sistemnya saja memberi kenyamanan bagi mereka. Untuk itu negeri ini harus mampu dan berani baru bisa dilakukan tatkala Indonesia bisa melepaskan diri dari jebakan kapitalisme. Membebaskan diri dari utang ribawi. Melepas diri dari perjanjian internasional yang merugikan. Mengembalikan aset dan kekayaan alam dengan mengelolanya sendiri. Tidak diperjualbelikan kepada swasta atau asing.

Jika Indonesia mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri, hal itu sudah cukup untuk membangun kemandirian ekonomi. Di antaranya membangun industri pangan, alat kesehatan, farmasi, baja, dan berbagai sektor lainnya. Hanya saja, semua itu hanya bisa diwujudkan manakala sistem kapitalisme benar-benar dicampakkan. Selama sistemnya sama, strategi apapun akan sia-sia. Sebab, pangkal dari kebijakan yang merusak adalah ideologi kapitalis-liberal.

Untuk itu Negeri ini membutuhkan pemerintahan yang mandiri dan Dunia membutuhkan kepemimpinan yang adil dan steril dari kerakusan kaum kapitalis. Secara taktis, Indonesia harus berani membongkar mafia yang menjadi biang keladi impor. Secara ideologis, Indonesia harus keluar dari bayang-bayang kapitalisme.

Dalam Islam akan kita jumpai seorang pemimpin yang berkarakter negarawan sejati. Yaitu pemimpin yang bertakwa pada Allah dan menjalankan syariah Islam secara. Mengapa takwa menjadi syarat utama? Sebab orang bertakwa adalah orang benar-benar menjaga dirinya dan orang yang berada dalam amanahnya dari maksiat agar terhindar dari azab neraka.

Maka dari itu, membebaskan diri dari tekanan global hanya bisa dilakukan jika Islam ditegakkan. Islam memiliki seperangkat aturan menyelesaikan berbagai problematika kehidupan. Sejarah sudah membuktikan, selama 1300 tahun lebih kepemimpinan Islam menaungi lebih dari 2/3 belahan dunia. Kehidupan mencapai puncak keemasan, menjadi peradaban yang gemilang tanpa ada campur tangan asing. Negara mandiri berdiri sendiri dan berhasil mensejahterakan dan memakmurkan dunia dan dirasakan baik muslim maupun nonmuslim.

Saatnya negeri ini dan dunia menanggalkan kapitalisme yang telah terbukti menjadi biang masalah kehidupan. Tatanan dunia baru membutuhkan Islam sebagai pembaharu untuk kehidupan yang lebih berkah, mulia dan sejahtera.

Penulis: Nelly, M.Pd (Pegiat Opini Medsos, Aktivis Peduli Negeri)
×
Berita Terbaru Update