Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Kartini Kembali Lahir

Selasa, 21 April 2020 | 11:14 WIB Last Updated 2020-04-21T03:16:01Z
Lorong Kata - Beberapa nama tokoh perempuan perjuangan juga menghiasi sejarah bangsa kita, Tribuwana tungga dewi (memerintah kerajaan Majapahit), Christina Martha Tiahahu  dari Maluku, Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Meutia, dua srikandi Aceh , dengan berbagai fakta sejarah di atas ternyata jauh sebelum Kartini banyak tokoh perempuan yang berhasil mengambil peran vital dalam berjuang untuk memerdekakan bangsa Indonesia.

Di era zaman perjuangan ada nama pejuang sosial, R.A. Kartini beliau lahir tanggal 21 April 1879  dan meninggal pada 17 September 1904 berati sudah hampir 112 tahun lamanya wafatnya pejuang perempuan tersebut. Akan tetapi namanya masih dikenal, dan hari lahirnya pun selalu diperingati setiap tahunnya  sebagai pejuang Perempuan.

Walaupun Kartini Pejuang Perempuan tersebut  wafat di usia yang cukup muda di usia 25 tahun, akan tetapi beliau sudah menorehkan sejarah dan dikenang dan kita selalu memperingati hari lahir ibu kita kartini tersebut. Perjuangan Kartini bisa kita jadikan sebagai pijakan tentang bagaimana seharusnya perempuan berperan dalam kehidupannya.

Seiring perkembangan zaman, terutama kaum perempuan Indonesia, kini dapat disejajarkan dengan kaum pria dalam berbagai bidang kehidupan, baik di bidang politik, ekonomi, maupun sosial.  Kartini muda memiliki semangat untuk terus maju dan berkarya yang mungkin saja tidak banyak dimiliki oleh perempuan sebayanya waktu itu. Walaupun kartini muda lahir dari golongan keluarga yang terhormat dan terpelajar tetapi tidak menyurutkan niat yang luhur untuk memperbaiki nasib perempuan pribumi yang pada saat itu tidak bisa mengenyam pendidikan yang baik dan sistem yang ada pada saat itu sangat mengambat kemajuan perempuan di zamannya.

Dahulu kaum perempuan hanya diberi stigma sumur, kasur, dan dapur oleh masyarakat, tetapi stigma itu sekarang mulai hilang. Kartini muda tidak hanya berfikir untuk dirinya sendiri. Buku Kartini yang berjudul: Door Duistemis Tot Lichf (Habis Gelap Terbitlah Terang) yang terbit kali pertama tahun 1922, bahkan masih terasa pengaruhnya hingga sekarang.

Saat ini pun, bagi perempuan dan bangsa Indonesia, R.A. Kartini merupakan sebuah simbol perjuangan kaum perempuan dalam menghadapi kebodohan di dalam pendidikan dan sebagai simbol perlawanan terhadap pengekangan kaum perempuan terhadap dunia luar.

Lalu, bagaimana peran perempuan dalam pembangunan. Dalam  era moderen sekarang ini, Sosok Kartini menjelmah disetiap relung hati perempuan-perempuan Indonesia. Hari ini Kartini dan pejuang kaum perempuan lainnya, memberikan semangat kepada kaum perempuan bahwa perempuan harus bisa seiring sejalan dengan kaum laki-laki seperti  kutipan buku Sarinah “Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung.

Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” (Sarinah, Bung Karno)

Kartini masa kini sudah tidak bisa di hitung lagi prestasi yang dicapai, baik ranah politik, sosial, ekonomi dan lain sebagainya.  Diranah politik keterwakilan perempuan untuk memperjuangkan nasib kaumnya dan masyarakat dinilai sangat positif. Di bidang ekonomi, perempuan kini bukan hanya sebagai ibu rumah tangga biasa tetapi juga ikut membantu suami bekerja.

Disektor Pendidikan Kaum Kartini sudah banyak menjadi Profesor, Dosen dan lain sebagainya. Dan di rumah tangga Kartini menjelmah sebagai ibu rumah tangga yang harus merawat anak dan siap sedia  dan bertanggung jawab atas pendidik untuk anak-anaknya agar dapat berguna bagi bangsa, negara, dan agama serta menjadi Ibu Bangsa.

Jadi sudah selayaknya kita harus menjadi kartini di era moderen dan memiliki segudang prestasi yang membanggakan. Semangat Kartini harus di tularkan kepada kaum-kaum muda, karena jangan sampai, mereka nanti tidak tau akan sejarah panjang ini. Semangat untuk bisa membantu dan berbuat untuk orang lain, semangat untuk bisa berprestasi di berbagai bidang lini kehidupan, dan semangat sebagai ibu yang bisa mendidik anak-anaknya dan menjadi Ibu bangsa di era kekinian

“Warisi Api bukan Abunya” Majulah Perempuan Indonesia, Selamat Hari Kartini

Penulis: Pensa Peto Alam
×
Berita Terbaru Update