Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Ekonomi ke Arah Mana?

Rabu, 06 Mei 2020 | 19:20 WIB Last Updated 2020-05-06T11:24:49Z
Ekonomi ke Arah Mana?
Asrul (Mahasiswa Hukum ekonomi syariah, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar)
LorongKa.com - Dunia saat ini digemparkan dengan adanya virus yang mengakibatkan banyak merenggut nyawa.

Corona virus Disease 2019 atau sering disebut Covid-19 yang mengakibatkan sebuah negara harus berjuang mempertahankan krisis ekonomi. Dengan munculnya Covid-19 ini banyak menuai kontroversi diberbagai kalangan, sebagian dari mereka menafsirkan dan banyak pula yang menyampaikan penyebab munculnya wabah ini.

Sebenarnya Wabah ini telah tercatat dalam US Centers For Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2009. Dengan adanya wabah ini tercatat 60.8 juta orang AS terjangkit sehingga hal ini menjadi penyebab berkurangnya populasi Dunia.

Salah satu pemikir ekonomi klasik penguat Dari sebuah teori Adam Smith dan David Ricardo yaitu adalah Thomas Mhaitus. Dalam teorinya Thomas menyatakan, "laju pertumbuhan penduduk seperti deret ukur, dan laju pertumbuhan pangan seperti deret hitung". Itu berarti jika pertumbuhan penduduk lebih cepat lajunya di banding pertumbuhan pangan, maka dampaknya manusia akan mengalami krisis ekonomi dan akan merlombah dalam mendapatkan pangan jika tingkat pertumbuhan penduduk tidak di tekan. Maka dari itu jika keseimbangan antara ketersediaan pangan dan laju pertumbuhan penduduk maka angka kelahiran harus di tekan dan menambah angkan kematian. Dan hal ini sangan berkesinambungan dengan muncul nya wabah ini yang merenggut populasi dunia.

Pandemik Corona akan membuat ekonomi global tumbuh negative. Pada Moneter internasional Atau (IMF) memperingatkan situasinya akan bakal lebih buruk dari depresi Besar alias Great Depression Pada tahun 1930-an. (Apa itu Depresi besar, nanti kita bahas pada cerita selanjutnya).

Selain dari negara-negara maju, negara berkembang pun harus berjuang melawan Covid-19 ini untuk mempertahankan ekonomi negaranya, salah satunya ialah Indonesia.

Pemerintah telah banyak mengambil kebijakan dalam penanggulangan wabah ini dan salah satunya ialah social distancing and Stay at Home. Menurut pemerintah dengan kebijakan ini akan mempercepat memutus laju penularan Covid-19, tetapi bukankah ini adalah jalan menuju jurang keabrukan ekonomi!.

Stay at Home dan physical distancing akan menjadi jembatan menuju keabrukan ekonomi jika pemeritah tidak memperhatikan kebijakan ini dengan baik. Dengan kebijakan ini, sistem pendapatan perkapita akan rendah dan ekonomi-ekonomi kelas menengah ke bawah akan musnah seiring berjalannya waktu, dan ditambah lagi tindakan radikal dengan melakukan Pemberhentian Hak Kerja (PHK) Secara cuma-cuma yang di mana akan berimbas pada peningkatan pengangguran di negara sehinggga mengakibatkan terjadinya inflasi besar-besaran.

Menurut Bank Indonesia (BI) cara untuk memberhentikan laju inflasi yaitu konektivitas antar daerah dan kerja sama antar daerah. Apakah ini akan masih ada? dan bahkan sampai saat ini pemerintah masih sibuk dengan pembahasan Undang-Undang Omnibus Law Cilaka.

Di sisi lain pemerintah mengambil kebijakan dengan mengambil tenaga kerja asing (TKA) untuk dipekerjakan di negara kita, hal ini menambah keresahan masyarakat sehingga mengatakan pemerintah tidak Pro-Rakyat.

Apa yang menjadi pemikiran pemerintah saat ini belum bisa terpikirkan oleh sebagian kalangan, entah itu pemerintah memberikan PHK kepada buruh dan menggantinya dengan tenaga kerja asing hanya untuk menjaga laju inflasi negara atau entah pemerintah saat ini memikirkan kepentingan kaum ekonomi klasik demi kepentingan class tertentu.

Penulis: Asrul (Mahasiswa Hukum ekonomi syariah, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar)
×
Berita Terbaru Update