-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Korelasi Antara Fizi dan Anak Yatim Piatu

Jumat, 29 Mei 2020 | 17:36 WIB Last Updated 2020-05-29T09:36:23Z
Muhammad Fachrul Hudallah (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim Semarang)
LorongKa.com - Dunia media sosial sedang marak membicarakan tentang serial kartun yang ditayangkan setiap hari, yaitu film Upin Ipin. Film ini cenderung disukai oleh kalangan anak-anak karena menceritakan tentang dunia anak yang suka bermain.

Film Upin Ipin menceritakan tentang kisah sahabat yang masih bermain permainan tradisional. Film ini memang memiliki segi humoris dan edukatif, tetapi akhir-akhir ini terdapat suatu cerita yang sedang dibicarakan banyak orang karena terlalu menyinggung.

Pertemuan antara Mail, Upin, Ipin, dan Fizi yang membuat cerita ini tampak menyinggung. Mulanya, Mail tidak dapat bermain karena harus membantu ibunya. Menurutnya, surga itu di telapak kaki ibu. Sontak Upin dan Ipin menanyakan mengenai bagaimana jika tidak punya ibu, dengan cepat Fizi langsung menjawab bahwa jika tidak punya ibu berarti tidak memiliki surga.

Tayangan seperti ini merupakan doktrin negatif yang tidak perlu ditayangkan karena akan berdampak kepada psikologis anak. Jika hal tersebut di cerna oleh anak yang masih memiliki orang tua, mungkin biasa saja. Tetapi jika yang melihat adalah anak yatim piatu, maka bisa juga menyakiti hatinya.

Kata-kata yang bersifat negatif tidak sepantasnya ditayangkan karena akan memberikan dampak yang besar kepada anak kecil karena mereka sedang pada tahap belajar. Sesungguhnya banyak yang dapat di kritik dari ucapan Fizi terhadap Upin Ipin pada saat itu.

Jika tidak dapat bicara yang baik, maka diamlah dan jika mau berbicara, maka berfikirlah. Kalimat itu adalah sindiran bagi mereka yang tidak dapat memilah kata dengan baik. Dari memilah maka akan faham kata mana yang pantas di ucapkan dan yang tidak pantas. Pada dasarnya, jika ingin dihargai oleh orang lain, maka kewajibannya adalah menghargai terlebih dahulu.

Selain itu, menghina anak yatim piatu seperti Upin Ipin merupakan hal yang tidak diperbolehkan. Hal tersebut dikuatkan oleh dalil Al-Qur’an surat Ad-Dhuha ayat ke 9. Sebagai orang muslim, wajib mencintai dan menyayangi anak yatim piatu karena mereka adalah titipan Allah. Kalau menurut dalil Al-Qur’an surat Al-Ma’un ayat 1 sampai 2, orang yang menghardik anak yatim merupakan golongan orang yang mendustakan agama.

Sesungguhnya maksud dari surga di telapak kaki Ibu yang diucapkan oleh Mail adalah bahwa menjadi manusia diharuskan berbakti dan patuh kepada ibunya. Terdapat sebuah kiasan yang mengatakan bahwa ibu tiga kali lebih mulia daripada ayah karena lebih besar jasa-jasa yang telah diberikannya.

Dari mulai di kandungan selama sekitar sembilan bulan hingga melahirkan, bukan suatu hal yang mudah. Jika ibu sedang mengandung, beliau akan mengenyampingkan nafsu pribadinya dan memprioritaskan kesehatan dan kebahagiaan anak yang sedang dikandungnya.

Selain itu, anak juga diharuskan mendahulukan kepentingan ibunya daripada kepentingan pribadinya karena ibu adalah segala-galanya. Sikap berbakti dan patuh merupakan bentuk penghormartan terhadap ibu. Jika ibunya telah meninggal, seseorang dapat mengunjungi kuburannya dan mendoakannya.

Manusia diciptakan di dunia menjadi makhluk individu dan sosial. Jika individu, manusia memiliki tanggung jawab terhadap Tuhannya. Apabila sosial, manusia memiliki tanggung jawab terhadap sesama dan makhluk disekitarnya. Tanpa adanya orang lain, manusia tidak akan bertahan hidup karena semua hal pastinya membutuhkan jasa orang lain.

Oleh karena itu, menjaga mulut agar tidak menyakiti orang lain merupakan anjuran yang baik. Jika suatu ucapan yang tidak dipilah itu keluar dan terdapat orang yang tersakiti, maka doa orang yang tersakiti dapat dikabulkan.

Selain itu, juga penting menghargai sesama manusia karena hidup itu tidak akan mungkin sendiri. Dan juga, jika masih memiliki ibu, penting untuk menyayangi dan mengasihinya karena beliau adalah malaikat yang diturunkan oleh Tuhan untuk mengasuh orang yang dilahirkannya.

Dan yang terakhir, alangkah baiknya jika film tersebut dipilah terlebih dahulu agar nantinya masih istiqomah menjaga nilai humoris dan edukatifnya. Jika memiliki nilai negatif, akan berdampak terhadap psikologis anak kedepan. Maka dari itu, penting untuk memahami semua karena kebersamaan itu sangatlah indah.

Penulis: Muhammad Fachrul Hudallah (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim Semarang)
×
Berita Terbaru Update