Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Pendidikan Dan Transmisi Pembebasan

Sabtu, 02 Mei 2020 | 19:33 WIB Last Updated 2020-05-02T11:33:12Z
Pendidikan Dan Transmisi Pembebasan
Muh Irwan, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
LorongKa.com - Hari pendidikan selalu di peringati pada tanggal 2 mei, yang di kenal sebagai Hardiknas, pendidikan adalah salah satu kebutuhan masyarakat pada umumnya, mengingat bahwa pendidikan adalah transmisi kebudayaan, ilmu pengetahuan estetika dari masa-kemasa.

Dalam diri seseorang menjadi manusia yang seutuhnya adalah harapan yang diinginkan setiap orang, pendidikan suatu bentuk pembebasan yang dirancang untuk menghadapai perkembangan peradaban, tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pewujud cita cita UUD 1945.

Pendidikan pada umumnya dikenal hanya bisa didapatkan di sekolah, namun sejatinya pendidikan bisa didapatkan di mana saja, seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah.

Pada saat perkembangan perdagangan di abad ke 16. Pendidikan di Indonesia pertama kali didirikan oleh Protugis, salah satu kunjungan Protugis ke indonesia adalah penyebaran agama nasrani, dalam penyebaran agama tersebut dan mempermudah penyebaran agama dipandang perlu untuk pengadaan sekolah-sekolah, pada tahun 1536 dilakukan seminar di Ternate sebagai sekolah anak-anak dengan mengajarkan pelajaran agama bukan hanya itu mereka juga mengajar membaca berhitung dan menulis.

Sampai pemerintahan protugis dan spanyol runtuh. Maka timbul pemerintahan baru, yakni pemerintahan belanda yang datang dengan berdagang, Belanda berpendapat bahwa agama Katolik perlu diganti dengan agama Protestan. Untuk keperluan inilah didirikan sekolah sekolah terutama pada daerah daerah yang disebarkan agama Nasrani oleh Portugis dan Spanyol.

Orang Belanda yang telah bergabung dengan organisasi perdagangan (VOC) telah mendirikan sekolah pertama di Ambon pada tahun 1607, sekolah tersebut mengajarkan membaca menulis dan sembahyang. Sebagai gurunya diangkat orang Belanda yang mendapat upah. Tujuan didirikanya sekolah tersebut untuk menciptakan tenaga kerja yang cakap sehingga dapat mengisi pemerintahan administrasi dan gereja.

Dengan bertambah meluasnya pendidikan di Indonesia pada abad ke-20, timbullah golongan baru dalam masyarakat di Indonesia, yaitu golongan cerdik pandai yang mendapat pendidikan Barat, tapi tidak mendapat tempat maupun perlakuan yang sewajarnya dalam masyarakat kolonial. Pendidikan menimbulkan keinsyafan nasional dan keinsyafan bernegara. Dengan alat dan senjata yang dipelajarinya dari Barat sendiri, yaitu organisasi rakyat cara modern, lengkap dengan susunan pengurus pusat dan cabang di daerah-daerah.

Pergerakan ini dicetuskan kaum cerdik pandai, sebagian besar keturunan kaum bangsawan. Partai maupun pergerakan-pergerakan yang timbul sesudah tahun 1908 ada yang  berdasarkan agama seperti Sarekat Islam, ada yang berdasarkan sosial seperti Muhammadiyah, ada pula yang berazaskan kebangsaan, seperti Indische Partij, yang  pertama sekali merumuskan semboyan Indie los van Nederland yang diambil alih PNI dan diterjemahkan menjadi “Indonesia Merdeka” (1928).

Dari rentetan sejarah pendidikan menjadi salah satu alat dari pembebasan, kemanusiaan adalah fitrah yang dimiliki setiap orang, maka dari itu ketika fitrah merasa terancam, atau merasa tertindas ia akan bangkit dan melawan.

Pendidikan harus menyentuh hal mendasar dari kehidupan masyarakat, seorang petani perlu mendapatkan pendidikan mengenai persolan pertanian, tanpa harus masuk ke sekolah formal. Maka dari itu Pendidikan adalah trasmisi kebudayaan dan ilmu pengetahuan, pendidikan yang melatar belakangi pembebasan menjadi sangat penting bagi masyarakat hari ini,

Namun pendidikan dijadikan sebagai alat meraut keuntungan, pendidikan formal dengan kurikulum yang hampir sama dengan masa orde baru memenjara kreatifitas pelajar dengan penanaman dogma, orang mengejar ijazah tanpa mengejar pengetahuan, ijazah adalah persyaratan mendapatkan pekerjaan, bukan setelah dapat ijazah langsung mendapat kerjaan.

Pendidikan menarget penyelesaian, penyelesaian yang memaksa orang menanamkan budaya-budaya yang harus dihindari dari suatu yang mengeluarkan orang dari keterdidikan, banyaknya perampasan dan penggusuran, korupsi dan patologi sosial yang terjadi disebabkan pendidikan yang memaksa orang mendapatkan kurikulum yang memenjarah mereka, pendidikan adalah tabungan untuk pekerja atau buruh pabrik industri.

Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan bahwa, Semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah, pendidikan kita dapatkan di mana pun, dosen di perkuliahan adalah teman diskusi bukan kebenaran mutlak yang selalu didengarkan dan selalu benar.

Pendidikan pada hakikatnya mengeluarkan orang-orang dari keterpurukan, mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang mengajarkan pembebasan dan perlawanan kepada semua bentuk penindasan adalah suatu kewajiban sarana pendidikan hari ini.

Namun, dalam realitas pendidikan hari ini, pendidikan menjadi sarana pendapatan, pembayaran SPP seakan-akan uang menjadi persyaratan orang bisa mendapatkan pendidikan. Namun, setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak.

Penulis: Muh Irwan, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
×
Berita Terbaru Update