Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

New Normal Life dan Misi Menyelamatkan Kapitalis?

Senin, 15 Juni 2020 | 09:36 WIB Last Updated 2020-06-15T01:36:19Z
Irmawati Fiyhu
LorongKa.com - Wacana normal baru (new normal) bergulir di tengah pandemi Corona di Indonesia yang kian tak terkenadali. Presiden Joko Widodo (7/5/2020) melalui akun resmi media sosial Twitternya mengajak hidup berdamai dengan Covid-19 sampai ditemukannya vaksin yang efektif untuk beberapa waktu ke depan.

Sebelum mengambil wacana normal life, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan guna mengatasi penyebaran Covid-19. PSBB (pembatasan sosial berskala besar) dilakukan oleh pemerintah di setiap daerah, namun regulasi ini masih kurang efektif menekan laju penyebaran Covid-19. PSBB yang dilakukan pemerintah daerah telah mampu membuat perekonomian negara menjadi seret, untuk mengatasi hal tersebut pemerintah mengambil jalan memberlakukan "new normal", atau normal yang baru untuk menjaga kekuatan ekonomi Negara.

Pakar epidemiologi menyebut pelonggaran PSBB dengan menerapkan protokol new normal di tengah angka Covid-19 yang terus meningkat dan minimnya fasilitas kesehatan hanya membawa risiko kematian yang lebih besar. Berdasarkan laporan Juru Bicara Pemerntah untuk Covid-19 Achmad Yurianto per Sabtu (6/6/2020) kasus positf virus Corona di Indonesia tembus 30.514 kasus. Hal ini bisa juga disimplifikasi bahwa kurva Covid-19 belum ada tanda-tanda melandai.

Rupa-rupanya penguasa semakin bingung dalam memilih opsi angkat tangan. Karena melawan wabah ternyata membutuhkan usaha yang tak ringan dan waktu yang berkepanjangan. Sementara kekuasaan yang selama ini, tegak di atas satu kepentingan: Melanggengkan sekularisme dan hegemoni liberalisme kapitalisme global.

Nampak jelas alasan pemerintah terlalu memaksa merilis wacana new normal adalah pertimbangan ekonomi sebagaimana yang disampaikan Mentri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartanto. Atas desakan para pemilik modal sejak diberlakukan PSBB, stay at home mengantarkan ekonomi pada jurang keanjlokan yang nyata. Sehingga dengan pemberlakuan new normal dianggap dapat mengembalikan lagi perekonomian yang lesuh akibat pandemi dimana sangat merugikan para pemilik modal.

Ketika new normal diterapkan, perusahaan-perusahaan yang merupakan jantung kapitalis kembali beroperasi maka proses eksploitasi dan ekspansi kapitalisme akan kembali berjalan pula tanpa memikirkan keselamatan rakyat. Faktanya pasca penerapan new normal gelombang kedua Covid-19 kembali menghantam Korea selatan, menandakan kegagalan penerapan New Normal Life.

Sudah bukan rahasia, bahwa gurita kapitalisme global memang berkepentingan membuat kesehatan masyarakat tak benar-benar terjaga. Bahkan ada yang curiga, di balik keputusan Lembaga Kesehatan Dunia WHO soal darurat kesehatan global akibat corona, ada kepentingan "Big Farma" dan "Big Money" yang menyetirnya. Maka ketika wabah terbukti meluluhlantakkan perekonomian global di berbagai sektor lainnya, adalah niscaya bagi kekuatan "big money" mengambil keputusan yang lebih brutal dengan penerapan normal life.

Berbagai upaya untuk mengatasi koplasnya sistem kapitalisme saat ini sejatinya hanya upaya tambal sulam yang menipu mata. Sangat nyata bahwa penghembusan narasi new normal adalah misi membagkitkan kembali para kapitalis yang ambruk. Inilah tabiat sistem kapitalisme dengan akidah sekularismenya yang menjadikan materi sebagai asas dari segalanya

Pandemi korona sesungguhnya telah membongkar kebobrokan para penguasa dengan sistem sekuler yang diembanya dalam menjamin keselamatan rakyat. Dari berbagai kebijakan dengan nyata telah 'melelang' nyawa rakyat demi para kapitalis global. Hal ini disebabkan kekuasaan yang tak berbasis pada akidah Islam hanya akan melahirkan kerusakan.

Saat ini, kita hidup di tengah sistem yang abnormal karena tidak diterapkannya hukum Islam untuk mengatur segala urusan manusia. Nabi shallahu’alahi wa sallam bersabda:

"Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya," (HR. Al-Bukhari)

Dalam hadist tersebut jelas bahwa para pemimpin yang diserahi wewenang untuk mengurusi kemaslahatan rakyat, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT kelak pada hari kiamat, apakah mereka telah mengurusinya dengan baik atau tidak. Maka dalam mengatasi wabah khalifah akan mengerahkan seluruh kemampuan dan sumber daya negaranya untuk memberikan perlindungan terhadap keselamatan rakyat.

Berkaca pada kekilafahan Islam, khalifah senantiasa menangani pandemi berdasarkan ajaran Nabi SAW, dimana khalifah akan mengatasi wabah dengan melakukan karantina wilayah (lockdown) sejak awal wabah ditemukan disuatu wilayah, melakukan proses isolasi serta pengobatan dan perawatan terbaik bagi yang sakit hingga mereka sembuh dan menjamin rakyat yang sehat agar mereka tidak tertular. Karena disisi Allah, hilangnya nyawa seorang muslim lebih besar perkaranya dari pada hilangnya dunia. Nabi shallahu’alahi wa sallam bersabda:

"Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak," (HR. Nasal, Turmudzi dan dishahihkan al-Albani). walahualam

Indonesia bukan Negara pertama yang mengambil wacana New Normal Life, sebelumnya sejumlah negara bahkan telah lebih dulu menerapkan new normal, seperti China, Australia, Jerman, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat dengan alasan membangkitkan kembali ekonomi yang sedang lesuh. Namun faktanya pasca penerapan New Normal gelombang kedua Covid-19 kembali menghantam Korea selatan, menandakan kegagalan penerapan New Normal Life.

Penulis: Irmawati Fiyhu
×
Berita Terbaru Update