-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Stigma Perihal "Kesadaran" Yang Pincang Dalam Berdinamika

Selasa, 02 Juni 2020 | 08:40 WIB Last Updated 2020-06-02T00:40:14Z
Muhammad Nurhidayatullah, Kader Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gowa Raya, Anggota KPA Petualang Tajuk Gowa, Mahasiswa Hukum Tatanegara UINAM
LorongKa.com - Perspektif ganda tentang hal yang menyangkut pemahaman tentang kesadaran memang selalu di picu dengan adanya kebiasan-kebiasan yang kurang sejalan dengan fikiran individualis, Sebabnya lebih dari satu kesadaran juga adalah hal yang urgent dalam sebuah dinamika non individual (Organisasi), mengapa demikian? Karena kita tidak bisa memincangkan pemahaman tentang itu dalam satu sisi saja, maka dari kita harus menyandingkan antara dua posisi yang berbeda agar lebih singkron.

Kesadaran versi individual (seorang) atau kesadaran perpaduan ganda yang biasa di tuang dalam berdinamika non individual (Organisasi), Tapi sesuatu hal yang kemudian menjadi masalah atau biasa di bahasakan timpang tindih, tak sedikit dari sebagian-dari sekumpulan orang-orang yang menggunakan kesadaran individu dalam berdinamika non individu.

Nah, inilah kadang juga yang biasa melahirkan stigma di berbagai perspektif. Kemudian yang menjadi titik timpangnya adalah, saya akan mengambil sampel timpang tindih kesadaran. Suatu ketika seseorang yang sangat dibutuhkan dalam suatu organ (ketidakberadaanya menyebabkan pincang) Tentunya hal itu membutuhkan sinkronasi antara dua kesadaran individu non-individu.

Pertanyaanya, lalu apa yang kadang melahirkan stigma itu? Sampel dari berbagai perspektif. Ada yang men judge bahwa kesadaran sedang samar bahkan membahsakan kesadaran sosial kurang nampak, Disisi lain ada juga persepektif yang mengandalkan acuan pengalihan stigma atau biasa di sebut positif thinking dengan persepsi yang di hayal-hayal.

Titik terang asosiasi pemahamannya adalah kadang tak banyak dari sebagian orang yang selalu memiliki suasana yang stagnan, mungkin karena olehnya kesadaran lebih condong pada dinamis. Di satu sisi stigma yang lahir itu mungkin karna perspektif tak menjangkau pemahaman bahwa mungkin saat kesadaran sosialnya di butuhkan, kebetulan juga berbeda dengan kesadaran individunya, kemudian terganggulah dinamika tentu adalah roh organisasi. Nah, lahirlah berbagai stigma.

Bagaimana Menyikapi??

Meskin hal eksternal seperti kritik, saran, dan pendekatan kalimat berperan disana, tapi tak sepenuhnya mempan atas kesadaran itu sendiri, sebab kesadaran berasal dari dalam lalu bagaimana menyikapi sesuatu yang bersifat internal? Dalam hukum fisika memang kadang yang berbeda selalu mudah untuk menyatu tapi tak selamanya hukum itu berlaku dalam berbagai hal.

Contohnya adalah jika kesadaran tak sejalan sebagian dari yang lain ada yang menggunakan metode kritik, berhasil tidaknya itu tergantung karakter individu, kemudian saran, dan pendekatan kalimat tak jauhjuga begitu. Maka jalan lainnya adalah pendekatan keselarasan, jika ia menggunakan kesadaran individu maka dekati secara individu bukan malah memperbanyak stigma.

Kesimpulannya adalah organisasi memang butuh kesadaran. Tapi, salah jika hanya dengan kesadaran sosial tapi tentunya juga kesadaran individu karena kedua hal tersebut berperan penting dalam berdinamika, jika ada tanggung jawab yang masih bergelantungan di pundakmu jangan selalu berpura-pura menunduk seakan ingin lari dari tanggung jawab, Organ atau lebih dari satu. mendengar hal itu tentunya sudah sangat jelas bahwa kesadaran ganda sangat di butuhkan sebab hal itu menjadi roh dalam berdinamika. Jangan egois bersosial,

Penulis: Muhammad Nurhidayatullah, Kader Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gowa Raya, Anggota KPA Petualang Tajuk Gowa, Mahasiswa Hukum Tatanegara UINAM
×
Berita Terbaru Update