Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Refleksi Idul Adha 1441H: Taat Totalitas Kembali Pada Syariah

Kamis, 30 Juli 2020 | 09:06 WIB Last Updated 2020-07-30T01:06:05Z
Nelly, M.Pd, Pemerhati Masalah Keumatan, Pegiat Opini Medsos
LorongKa.com - Pemerintah menetapkan Hari Raya Idul Adha 1441 H jatuh pada hari Jum’at, 31 Juli 2020. Ketetapan ini disampaikan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi usai memimpin Sidang Isbat (Penetapan) 1 Dzulhijjah 1441 H yang digelar Kementerian Agama, di Jakarta, Selasa 21 Juli 2020. Menurut Menag, keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan hasil hisab posisi hilal dan laporan rukyatul hilal. Lebih dua belas pemantau mengatakan melihat hilal dan telah disumpah.

Idul Adha Dalam Duka

Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini umat muslim seluruh dunia dipastikan merayakan Idul Adha dalam suasana masih dilanda wabah pandemi corona. Bangsa ini telah dirundung corona yang hingga bulan ini genap 6 bulan sudah melanda negeri. Di tengah pandemi yang tak kinjung terkendali bahkan peningkatan positif semakin melonjak naik data terakhir sudah mencapai 100rb lebih yang positif.

Pandemi menghasilkan banyak krisis ikutan di berbagai banyak sektor. Sebut saja sektor kesehatan (kebutuhan terhadap fasilitas kesehatan lebih banyak, kebutuhan vaksin dll), Sektor ekonomi (kemandegan hingga resesi) dan sektor social (Pendidikan, ketahanan keluarga, kerusakan generasi). Antisipasi penanganan dan strategi mengurangi dampak buruk melalui agenda New Normal tidak mampu menjadi solusi.

Sederet permasalahan tersebut, yang paling merasakan dampaknya adalah rakyat yang terus ditimpa nestapa. Kemiskinan, PHK, pengangguran, harga-harga kebutuhan pokok yang terus melonjak, kenaikan tarif BPJS, dan aneka persoalan lainnya. Ironisnya, semua derita rakyat itu dan sederet persoalan bangsa terjadi di tengah keberlimpahan kekayaan alam negeri ini.

Minyak bumi, emas, perak, tembaga, aneka mineral, kekayaan hayati, hutan belantara, kekayaan laut dan banyak yang lainnya memang terhampar di seantero negeri ini. Sayang, semua kekayaan itu tak banyak rakyat nikmati. Sebab sebagian besarnya telah dikuasai oleh pihak asing, swasta dan pribadi-pribadi.

Inilah perkara penting yang mesti dipahami kaum muslimin. Persoalan bangsa yang semakin rumit ini tentu ada sebabnya mengapa bisa terjadi demikian. Faktor yang paling dominan adalah tidak diterapkannya sistem Islam di negeri ini. Harusnya negeri yang mayoritas muslim ini benar-benar meneladani Rasulullah Saw dalam mengelola negara.

Bukan malah mengambil sistem selain Islam kapitalis sekuler yang notabene berasal dari barat. Yang justru karena sistem ini bangsa Indonesia berada dalam jurang kehancuran. Maka refleksi perayaan Idul Adha ini menjadi momen ketaatan, perjuangan dan pergorbanan di jalan Allah SWT.

Esensi Ibadah Haji dan Kurban

Sudah maklum, selain Baginda Rasulullah saw. yang wajib kita amalkan seluruh ajarannya dan semua nasihatnya, ada sosok penting lain yang tak bisa dipisahkan dari momen ibadah haji dan kurban. Dialah Nabiyullah Ibrahim as. Di dalam QS al-Shafat ayat 102, Allah SWT mengisahkan bagaimana Ibrahim as., dengan sepenuh keimanan, tanpa sedikit pun keraguan, menunaikan perintah Tuhannya: menyembelih putra tercintanya, Ismail as. Demikianlah, kedua hamba Allah yang shalih itu tersungkur dalam kepasrahan. Berpadu dengan ketaatan dan kesabaran.

Kisah cinta yang amat romantis sekaligus dramatis ini selayaknya menjadi ibrah sepanjang zaman bagi umat Islam. Sebab bukankah Allah SWT pun telah berfirman yang artinya: “Sekali-kali kalian tidak akan sampai pada kebajikan sebelum kalian menginfakkan harta (di jalan Allah) yang paling kalian cintai (QS Ali Imran : 92).

Nabiyullah Ibrahim as. telah membuktikan hal itu. Bukan hanya harta, bahkan nyawa putra semata wayangnya yang kepada dia tertumpah segenap cinta dan kasih sayangnya ia persembahkan dengan penuh keyakinan kepada Allah. Zat Yang lebih ia cintai dari apapun.

Karena itu pada momen penting ibadah haji dan kurban tahun ini, selayaknya kita bisa mengambil ibrah dari keteladanan Nabiyullah Ibrahim as.; dari besarnya cinta, ketaatan dan pengorbanannya kepada Allah SWT. Cinta, ketaatan dan pengorbanan Ibrahim kepada Allah SWT ini kemudian diteruskan secara sempurna.

Maka kemusliman seseorang semestinya ditunjukkan dengan sikap dan perilakunya yang sesuai dengan keimanannya, berupa ketaatan dan ketundukan penuh terhadap aturan syariat Islam. Prinsip hidup seorang muslim adalah menyerahkan apapun yang dimilikinya semata untuk Allah. Salat, ibadah, bahkan hidup dan matinya pun dipersembahkan demi meraih keridaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Karenanya, sudah menjadi konsekuensi keimanannya rida dan patuh pada hukum-hukum Allah. Sebagaimana disebutkan Allah dalam firman-Nya: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS. An Nisa:65).

Dalam ayat tersebut jelas sekali Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan sikap rida dan tidak berat hati terhadap keputusan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sebagai indikator keimanan seseorang. Tunduk terhadap keputusan Rasul shallallahu’alaihi wa sallam berarti siap taat terhadap risalah yang dibawa baginda Nabi, baik akidah maupun syariah Islam.

Karena itu dengan meneladani cinta, ketaatan dan pengorbanan Nabiyullah Ibrahim as. dan Baginda Rasulullah saw., mari kita songsong kembali masa depan cerah peradaban umat manusia di bawah naungan Islam. Sebab, dengan hidup dalam naungan Islam yang paripurna, akan mendaptakan ridha Allah SWT baik berupa keberkahan dan kemuliaan. Wallahu a’lam

Penulis: Nelly, M.Pd, Pemerhati Masalah Keumatan, Pegiat Opini Medsos
×
Berita Terbaru Update