Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Akankah Makan Siang Gratis Menunjang Output Pendidikan?

Jumat, 10 Mei 2024 | 10:07 WIB Last Updated 2024-05-10T02:07:32Z


LorongKa.com - 
Beberapa hari lalu Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei. Banyak pejabat yang menaruh perhatian pada topik pendidikan dan kualitas generasi di Indonesia saat ini. Ramai dibicarakan bahwa peningkatan kualitas generasi akan didukung oleh program hits pasangan calon presiden dan wakil presiden mendatang Prabowo-Gibran. 


Program makan siang gratis ini diklaim tidak hanya untuk  mengatasi masalah kurang gizi akut namun juga berkontribusi untuk menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang sehat dan cerdas menuju Indonesia Emas 2045 (www.kompas.id, 11/03/24). Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar sekaligus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan makanan gratis bagi (siswa) SD dan SMP dan pendidikan lain termasuk investasi SDM. Airlangga menyebut sumber daya manusia (SDM) yang unggul sangat penting untuk membawa Indonesia lepas dari middle income trap (nasional.kompas.com, 07/04/24).


Berbeda dengan Airlangga, pengamat pendidikan Karyudi Sutajah Putra melemparkan wacana apakah makan siang gratis lebih strategis daripada program pendidikan gratis (jakarta.suaramerdeka.com, 02/05/24). Wacana ini dilontarkan pasca munculnya informasi pembiayaan makan siang gratis ini sempat disebut akan mengambil dana dari APBN, pengurangan subsidi BBM, dan dana BOS (Biaya Operasional Sekolah). Menurut Karyudi, angaran program makan siang gratis lebih baik dialihkan untuk menambah anggaran pendidikan nasional karena akan lebih bermanfaat dan lebih efektif demi mencerdaskan kehidupan bangsa.


Menurut pengamat ekonomi Eliza Mardian dari CORE Indonesia, program makan siang gratis mengganggu mandatory spending atau belanja rutin misalnya untuk pendidikan, kesehatan, dan lainnya (dw.com, 12/04/24). Padahal tanpa program itu pun, APBN sudah defisit. Eliza menambahkan bahwa program makan siang gratis adalah program yang ambisius dengan kondisi pengelolaan saat ini. Terutama ada prioritas pembangun IKN dan pembangun infrastruktur lainnya. Setelah pandemi, seharusnya skala prioritas belanja diarahkan pada program produktif dan bisa mengangkat perekonomian Masyarakat.


Wakil Ketua Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional (TKN) Budiman Sudjatmiko mengatakan program makan siang dan susu gratis mengacu pada komposisi makanan 4 sehat 5 sempurna yang akan diberikan kepada 82,9 juta jiwa rakyat Indonesia. Untuk memenuhi program tersebut, dibutuhkan 6,7 juta ton beras per tahun, 1,2 juta ton daging ayam per tahun, 500 ribu ton daging sapi per tahun, 1 juta ton daging ikan per tahun, berbagai kebutuhan sayur mayur dan buah‐buahan, hingga 4 juta kiloliter susu sapi segar per tahun.


Ketua Dewan Persusuan Nasional Teguh Boediyana mewanti-wanti Indonesia bakal terjerat impor untuk memenuhi kebutuhan program tersebut. Saat ini, impor daging sapi atau kerbau per tahun sudah di atas 250 ribu ton (cnnindonesia.com, 28/02/24). Jadi, dipastikan program makan gratis akan meningkatkan impor daging. Susu juga demikian. Jadi, realisasi program minum susu gratis akan meningkatkan konsumsi susu secara nasional. Saat ini 80 persen kebutuhan susu harus diimpor.


Teguh menyebut perlu ada upaya radikal dari pemerintah jika mau kebutuhan tersebut terpenuhi dari dalam negeri. Namun Pemerintah akan menghadapi tantangan tersendiri. Untuk menggenjot produksi daging dan telur ayam relatif lebih mudah, tapi menggenjot produksi susu dan daging sapi lebih berat.


Kualitas Generasi Tak Diukur Hanya dari Gizi


Tantangan kualitas generasi saat ini tidak hanya terletak pada masalah kesehatan fisik. Mencetak suatu generasi tidak bisa berhenti pada pembahasan terpenuhinya kebutuhan pangan yang layak. Tidak ada yang memungkiri bahwa pangan merupakan kebutuhan mendasar manusia. Tapi jangan lupa juga bahwa berpakaian dan tinggal di rumah yg layak pun suatu kebutuhan. 


Tak hanya soal kebutuhan fisik di atas, menyiapkan generasi gemilang juga butuh pendidikan, kesehatan dan keamanan sebagai kebutuhan dasar lingkungan sosial dimana generasi ini bermukim. Kesehatan mental, kemampuan intelektual, dan yang terpenting akhlak dan pola perilaku pun tak luput dari catatan. 


Kompleksnya masalah kualitas generasi ini muncul sebagai akibat dari masalah-masalah lain yang menyebabkannya. Ketimpangan ekonomi yang menyebabkan masyarakat tak mampu memenuhi makanan dengan layak untuk anak-anak mereka. Tekanan masalah sosial maraknya kriminalitas, kekerasan, perundungan, pornografi berkelindan menggerogoti kesehatan mental generasi. Sementara itu bangunan keluarga tak lagi kokoh untuk membentengi mereka dari berbagai pengaruh negatif dari lingkungan pertemanan. Berbagai macam kondisi perusak kualitas generasi ini lahir dari maraknya paham liberalisme. Sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan publik membuat benteng-benteng generasi menjadi rapuh. 


Generasi berkualitas tak bisa dibangkitkan hanya dengan makanan sehat meskipun tak dipungkiri hal tersebut juga penting. Membangkitkan kualitas generasi perlu dimulai dari sehatnya pemikiran dari paham-paham rusak. Pemikiran yang lurus, benar dan cemerlang pada suatu generasi akan menuntun pada bangkitnya peradaban suatu bangsa. 


Oleh karena itu generasi gemilang tak bisa diupayakan hanya dalam satu keluarga secara parsial. Namun membutuhkan peran serta pihak yang memiliki kewenangan membuat kebijakan untuk memastikan bahwa kebutuhan hidup individu dan sosial tersedia dan terpenuhi dengan layak. Tentu saja pihak yang dimaksud tak lain adalah para pemimpin dan penguasa yang kekuasaan tertingginya ada di kepala negara. Kepala negara lah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kualitas generasi ke depannya.


Generasi Gemilang Peradaban Islam


Kondisi kualitas generasi yang gemilang pernah dicetak oleh peradaban Islam. Generasi yang tak hanya kuat fisiknya tapi juga tangguh mentalnya dan teguh imannya. Ali bin Abi Thalib adalah satu nama dari deretan nama generasi berkualitas pada masa Rasulullah. Ali dikenal sebagai pemuda kuat dan gagah berani, petarung bersenjatakan pedang bermata ganda. Pemuda yang dicintai Allah pembuka pintu benteng Khaibar.


Kualitas generasi yang gemilang berlanjut sepanjang peradaban Islam pada masa Kekhilafahan setelah Rasulullah wafat. Generasi gemilang Islam mampu menaklukkan kekuasaan pongah Persia dan Romawi yang menindas rakyat dan jajahannya. Tokoh-tokoh besar penjaga Al-Quran dan Hadist sebagai sumber hukum-hukum Islam bermunculan, Imam madzhab yang mengokohkan bangunan fiqih Islam. Generasi pendakwah seperti wali songo yang menyebar ke seluruh tanah Jawa membawa Islam sambil berdagang maupun mengajar.


Generasi semacam itu tak akan muncul hanya dengan asupan makanan halal dan sehat. Namun asupan iman yang terus-menerus dari sistem pendidikan berlandaskan Islam. Dibentengi oleh undang-undang, peraturan dan hukum Islam yang mengenyahkan racun pemikiran yang merusak generasi yang diterapkan secara sistemik oleh Khilafah Islam. Wallahu a’lam.


Penulis: Rayhana Radhwa (Ibu Rumah Tangga tinggal di Bekasi).

×
Berita Terbaru Update