-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Spirit Kemerdekaan di Tengah Ancaman Resesi Ekonomi

Minggu, 23 Agustus 2020 | 19:36 WIB Last Updated 2020-08-23T11:36:07Z
Mariana, S.Sos (Pemerhati Sosial dan Politik)
LorongKa.com - Perayaan kemerdekaan tahun ini ada perbedaan dari tahun-tahun kemarin, masalahnya dunia tengah di landa musibah pandemi Covid-19. Acara 17 agustus yang biasanya ramai dengan berbagai pagelaran, kali ini harus lebih memperhatikan protokol kesehatan dengan menghindari kerumunan.

Maka acaranya pun di buat sederhana dengan dihadiri oleh beberapa peserta misal dalam upacara bendera dan pagelaran yang lain, bahkan acara lomba pun dibatasi jenisnya dan pesertanya, kegiatan lomba lebih banyak digelar secara virtual.

Tentu semangat merayakan kemerdekaan tidaklah salah, hanya saja perlu memahami secara fakta seberapa besar kemerdekaan telah di raih. Dalam bidang ekonomi misalnya menurut beberapa pengamat, Indonesia akan mengalami resesi.

Pengumuman pada rabu (05/08), BPS menyatakan angka produk Domestik Bruto pada triwulan II 2020 menyusut sebesar 5,32%. Penyusutan ini lebih besar dari prediksi pemerintah dan Bank Dunia. Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi PDB di kuartal II akan jatuh -3,8%, sementara Bank Indonesia memprediksi penurunan -4,8%. (BBC News Indonesia, 5 Agustus 2020).

Ancaman resesi yang mengahantui negeri ini, sangat mungkin akan sama atau bahkan lebih buruk dari krisis ekonomi tahun 1998. Maka Indonesia harus siap dengan segala konsekuensinya.

Di tengah pandemi saat ini, dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat sudah semakin terlihat, mulai dari pengangguran, PHK massal, kemiskinan dan kelaparan, jurang sosial antara kaya dan miskin semakin nampak dan permasalahan ekonomi lainnya yang berdampak pada seluruh lini kehidupan.

Bukan tidak mungkin Indonesia akan mengalami collapse, hingga pada titik terendah sepanjang sejarah, jika tidak segera diselamatkan. Ibarat perahu yang hampir karam, ekonomi Indonesia butuh penyelamat yang ahli.

Tentu hal ini tidak bisa diserahkan lagi pada lembaga-lembaga internasional semisal IMF, Word Bank, OECD, sebab terbukti lembaga keuangan dan ekonomi dunia justru membawa petaka bagi perekonomian negara-negara di dunia termasuk Indonesia.

Indonesia makin kacau ekonominya sejak menerapkan kebijakan ekonomi internasional. Mulai dari Jeratan utang luar negeri semakin menumpuk, APBN semakin terkuras untuk membayar utang luar negeri, rakyat pun di bebankan membayar pajak yang semakin mencekik sementara bantuan pemerintah berupa subsidi semakin ditiadakan.

Rakyat dipaksa untuk mengurus dirinya masing-masing sementara akses untuk memenuhi kebutuhan mereka seperti lapangan kerja dan modal justru tidak disediakan oleh negara, kalaupun ada jumlahnya sangat terbatas.

Disisi lain serangan tenaga kerja asing yang berasal dari luar negeri terus saja berdatangan tanpa bisa diatasi oleh pemerintah, rakyat pun terpaksa harus berebut pekerjaan bahkan tidak sedikit dari mereka harus tersingkir dan tergusur di negerinya sendiri akibat kalah oleh tenaga kerja Asing.

Ini sangat ironi, ditengah perayaan kemerdekaan, ternyata rakyatnya belum merdeka untuk menikmati kekayaan alamnya, mereka masih harus berebut dengan negara lain. Bahkan mungkin penjajahan dalam ekonomi, sosial, politik, hukum dan budaya, justru masih terus berjalan.
Negara-negara luar masih tetap menancapkan hegemoninya untuk merebut Gold atau kekayaan negeri Ini dan masih dengan leluasa menyebarkan Gospel yakni Ideologi Kapitalismenya yang melahirkan Liberalisme dalam kepemilikan.

Imprealisme kuno mungkin sudah berakhir sejak Portugis, Spanyol, Belanda dan negara-negara barat dan timur Kapitalis tidak lagi menjajah secara fisik memalui militer, tetapi hal itu tidak secara otomatis menghentikan barat untuk menaklukkan dunia dibawah pengaruhnya.

Karena itu muncullah Imprealisme modern yakni negara-negara Kapitalis yang serakah berusaha memperoleh kemajuan ekonomi dengan melakukan penjajahan dengan cara mencari bahan mentah yang banyak dan pasar yang luas. Mereka mencari jajahan untuk dijadikan sumber bahan mentah dan pasar bagi hasil-hasil industri dan penanaman modal bagi kapitalis.

Secara sejarah imprealisme modern berkembang sejak tahun 1870 pasca kebijakan Politik Pintu Terbuka. Politik Pintu Terbuka memberikan hak kepada kaum pribumi untuk memiliki dan menyewakan tanah kepada pengusaha swasta. Pengusaha dapat menyewa tanah dari Gubernamen dalam jangka waktu 75 tahun.

Sejak tahun 1870, Indonesia menjadi negeri bahan-bahan mentah untuk pabrik Eropa. Indonesia juga menjadi negeri tempat menjual hasil produksi dan tempat penanaman modal asing. Sejak saat itu, Indonesia dibuka untuk kepentingan modal asing. Politik ini disebut Politik Pintu Terbuka. Banyak negara menanamkan modalnya, seperti Belanda, Inggris, Amerika, Jepang, Belgia, dan masih banyak lagi.

Dengan demikian, imprealisme Indonesia telah bersifat internasional. Modal asing terutama ditanamkan dan dikembangkan dalam sektor pertanian, karet, teh, tembakau, kopi, dan pertambangan minyak bumi.

Dari sini sebenarnya kita sudah paham bahwa negeri ini tidak pernah lepas dari penjajahan. Penjajah telah menanamkan pengaruhnya memalui regulasi yang hingga saat ini di adopsi oleh Indonesia. Meski Barat dan Eropa tidak menyerang secara fisik tapi cengkraman peraturan, mereka tanamkan secara kuat hingga negeri ini terbelenggu dan tunduk pada kebijakan penjajah.

Indonesia sebagai tanah jajahan selain berfungsi sebagai tempat untuk mendapatkan bahan mentah demi kepentingan industri di Eropa dan tempat penanaman modal asing, juga sebagai tempat pemasaran barang-barang hasil Industri, serta tenaga kerja yang murah.

Dapat dibayangkan sejak dulu para penjajah hanya menempatkan rakyat Indonesia sebagai buruh rendahan dengan gaji yang murah di negeri mereka sendiri, pun hingga kini para penjajah terus menerus melakukan kebijakan eksploitasi secara rakus sumber daya alam dan sumber daya manusia negeri ini. inilah dinamakan dengan Glory yakni penguasaan wilayah penduduk suatu negara.

Sayang sekali, Indonesia belum benar-benar lepas dari penjajahan. Para penjajah masih asyik mempermainkan kebijakan negeri ini dengan cara yang sangat halus sehingga keberadaan mereka tidak disadari oleh penduduk negeri yang dijajah, lihatlah bagaimana Freeport McMoran perusahan tambang yang berasal dari Amerika Serikat menguasai tambang emas dan perak Papua.

Berikutnya PT.Newmont, perusahaan asal Colorado Amerika, yang mengelola tambang emas dan tembaga di NTT dan NTB, Kemudian ada Chevron, Conoco Philips, Exxon Mobil yang menguasai Migas Indonesia.

Kemudian perusahaan China PT Heng Fung Mining, yang berinvestasi dibidang nikel, Petro China yang mengelola migas. Kemudian ada British Petroleum milik Inggris, kemudian kanada dengan perusahaan Canadian International Development Agency(CIDA), tidak ketinggalan Prancis dengan perusahaan Total E&P Indonesie mengelola migas Mahakam, Kaltim.

Itu adalah sederet perusahaan asing yang mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia dan masih ada perusahaan-perusahaan asing lainnya. Nampaknya Indonesia memang surga bagi para investor asing, sayangnya ini tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan kesejahteraan rakyatnya.

Karena itu kemerdekaan sejati tentu hanya bisa diraih ketika negeri ini benar-benar telah terlepas dari penjajahan, dan itu tidak bisa hanya di ukur dari militer saja atau penjajahan fisik tapi harus holistik atau menyeluruh hingga keseluruh tataran kehidupan. Untuk meraih kemerdekaan sejati tidak mungkin di dapat dengan penerapan sistem kapitalisme maupun sosialis, maka harus ada alternatif sistem yang melindungi dunia dari penjajahan.

Penulis: Mariana, S.Sos (Pemerhati Sosial dan Politik)
×
Berita Terbaru Update