-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mencari Kiblat Sejati Generasi, Banarkah Korea Yang Patut Dicontoh Diri?

Jumat, 25 September 2020 | 09:18 WIB Last Updated 2020-09-25T01:18:03Z
Zahro Al-Fajri (Malang)
LorongKa.com - Korean wave saat ini melanda dunia. Dari Asia hingga Amerika semua mengenal dan menggandrungi hiburan dari Korea Selatan ini. Musik (K-Pop), drama, makanan, dan budaya Korea Selatan telah banyak di kenal di penjuru Dunia. Negeri gingseng ini berhasil mengembangkan industri hiburan dan menyebarkan kebudayaannya ke seluruh dunia.

Indonesia menjadi salah satu negeri dengan jumlah peminat K-Pop cukup tinggi. Melihat fakta ini, wapres Ma'ruf Amin berharap budaya K-Pop mampu menginspirasi anak muda untuk semakin kreatif (tirto.id,20/9/20). Selain itu, wapres berharap semakin bisa melakukan hubungan baik dengan negeri gingseng termasuk, baik dari industri hiburan maupun pariwisata.

Hal ini menandakan bahwa kerjasama di bidang budaya dengan Korea Selatan akan semakin dipererat. Budaya K-Pop akan semakin mudah menyebar ke Indonesia. Sasaran utamanya adalah generasi muda.

Keseriusan Korea Selatan

Korea Selatan melakukan banyak upaya untuk membangun industri hiburannya. Bahkan banyak perguruan tinggi dibangun dengan jurusan seni. Ini adalah upaya Korea Selatan menjadi negara mandiri dan maju. Pemerintahnya memberi dukungan penuh untuk pengembangan industri hiburan dan penyebaran budaya Korea ke dunia.

Dalam pembukaan Seventh Conference for the Promotion of New Economy di Seoul pada 1994, Presiden Korea Selatan saat itu, Kim Young-sam menyatakan, negaranya siap bersaing dalam bidang budaya dan ekonomi baru di kancah global sebagai respons atas tekanan eksternal yang diberlakukan Amerika Serikat (era.id, 14/8/18). Dengan keseriusan pemerintahnya, saat ini bisa dilihat bagaimana Korean wave berkembang dan mendunia. Bahkan mampu meningkatkan perekonomian negeri gingseng ini.

Sisi Kelam Industri Hiburan Korsel

Bersinarnya popularitas Korean wave nyatanya tak semuanya memberikan dampak positif. Industri Korea dengan kerja kerasnya memang berhasil mendunia dan meningkatkan perekonomian. Namun, banyak korban berjatuhan karena kerasnya persaingan dan ketiadaan akidah dari para generasi negeri ini.

Kerja keras menjadi hal yang wajar untuk menuju keberhasilan, itu juga yang dilakukan Korea Selatan. Generasi muda di dorong untuk melakukan upaya maksimal agar mampu bersaing dan menjadi nomer satu dalam setiap babak kehidupan. Para pekerja industri hiburan sudah di training bahkan sejak dini. Mereka dilatih menyanyi, menari, bermain drama, dan lainnya di usia yang masih belia. Sehingga saat remaja atau dewasa mereka mampu menjadi profesional.

Namun ada yang hilang dalam diri mereka. Akidah benar yang menjadi dasar kehidupan. Banyak dari warga Korea yang beragama namun tidak sedikit yang atheis. Mereka dididik bahwa kebahagiaan akan didapatkan ketika materi berlimpah, sehingga hidup mereka hanya untuk materi semata. Oleh karena itu, mereka bekerja keras, membanting tulang, tak kenal waktu, terus berusaha mengejar materi.

Padahal nyatanya, materi bukanlah sumber kebahagiaan. Akidah mereka yang salah, mengantarkan para pekerja hiburan menuju lubang kegelapan. Banyak dari mereka saat sedang naik daun malah bunuh diri. Tak sedikit dari mereka mengalami gangguan psikologi, dari ringan hingga berat sehingga harus minum obat penenang.

Begitulah gambaran generasi saat kehidupannya hanya disibukkan oleh pencarian materi. Terlihat bersinar dan hebat dari luar, namun rapuh di dalam. Beginikah yang layak dijadikan kiblat generasi?

Kiblat Sejati, dari Generasi Rabbani

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa hendak mengambil teladan maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal. Mereka itu adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di kalangan umat ini. Ilmu mereka paling dalam serta paling tidak suka membeban-bebani diri. Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilih oleh Allah guna menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menyampaikan ajaran agama-Nya. Oleh karena itu tirulah akhlak mereka dan tempuhlah jalan-jalan mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” (Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih, hal. 198).

Sahabat Rasulullah, merekalah yang harusnya menjadi teladan para generasi karena mereka adalah kaum terbaik. Sahabat beriman dan berjuang bersama Rasul. Berusaha sekuat tenaga, mengerahkan segala pemikiran, dan kekuatan untuk kejayaan Islam. Semua itu mereka niatkan untuk ridho Allah SWT. Hingga akhirnya mereka meninggal dalam kondisi terbaik menghadapNya. Merekalah generasi Rabbani sejati.

Para sahabat paham bahwa hidupnya hanya untuk Ridho Allah semata. Semua yang mereka miliki mereka persembahkan hanya untukNya. Bahkan nyawa pun akan mereka berikan. Hingga dari perjuangan mereka dengan ijin Allah, kaum muslimin menjadi umat terbaik di dunia. Perjuangan para sahabat dalam memperjuangkan Islam, dilanjutkan generasi sesudahnya mengantarkan Islam berjaya. Bahkan wilayah kekuasaan Islam di masa kekhilafahan terbentang luas dan hampir menguasai 2/3 dunia.

Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik" (QS. 3:110). Allah pun telah menyampaikan, kaum muslim akan menjadi generasi terbaik saat berusaha menjalankan dan menyebarluaskan Islam dalam kehidupan. Sehingga dari fakta sejarah, di era kekhilafahan, kaum muslimin mampu menjadi mercusuar peradaban.

Oleh karena itu, bukankah sepatutnya para generasi mengikuti kiblat terbaik? Kiblat sejati yang akan mengarahkan pada kebahagiaan hakiki. Para generasi Rabbani, sahabat nabi, yang akan memberi teladan mengarungi hidup ini. Para sahabat yang sudah dijamin surga oleh Allah. Selain itu, hal yang harus dilakukan adalah berusaha menjadi generasi terbaik dengan mengikuti petunjuk Ilahi bukan yang lain. WaAllahu'alam

Penulis: Zahro Al-Fajri (Malang)
×
Berita Terbaru Update