-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kewarasan Seorang Ibu Dipertaruhkan

Jumat, 02 Oktober 2020 | 21:48 WIB Last Updated 2020-10-02T13:48:46Z
Niwatun, S.Pd.I
LorongKa.com - Tidak berlebihan rasanya jika mengatakan kewarasan seorang ibu dipertaruhkan di masa pandemi kali ini. Bagaimana tidak dipertaruhkan, kalau tiap masuk waktu belajar daring perlahan tapi pasti emosinya diaduk-aduk?

Sebuah video beredar bagaimana seorang ibu mengajarkan bunyi pancasila yang bisa dibilang belum tuntas. Di sila pertama, berulang si anak melafalkan kata "Maha" menjadi "Mana". Jadi, yang terucap dari si anak adalah, "Ketuhanan yang mana esa". Mendengar itu, reaksi si ibu berubah-ubah; kadang berteriak gereget, geleng-geleng, nyebut berulang-ulang. Saat meminta sang anak membacakan ulang, si anak tetap berucap, "Ketuhanan yang mana esa". Kebayang, ya, bagaimana geregetnya si ibu, sedangkan waktu belajar terus berjalan.

Itu hanya salah satu dari beberapa video proses pembelajaran daring yang beredar menampakkan bagaimana teraduk-aduknya emosi seorang ibu.

Tak bisa dipungkiri, seorang ibu yang biasanya menemani anak-anaknya belajar dengan santai, saat ini dituntut lebih dengan banyaknya tugas yang harus dikerjakan si anak. Belum lagi media belajar online-nya yang kurang mumpuni, misal kapasitas untuk mengunduh aplikasi yang tidak cukup. Bisa mengunduh aplikasi, tapi smartphone-nya cepat panas, kuota habis, dll.

Kendatipun demikian, pembelajaran daring tetap harus dilangsungkan terkait imbauan pemerintah untuk sekolah dari rumah. Orang tua, khususnya ibu (Jika ibunya tidak bekerja) akan menjadi satu-satunya yang berjuang dalam membersamai anak-anaknya belajar daring. Bayangkan, jika mereka memiliki anak lebih dari satu, medianya hanya satu, dan melakukan pembelajaran daring secara bersamaan. Repot pastinya.

Wahai para ibu, di masa pandemi atau tidak, tanggung jawab mendidik anak-anak berada di pundak kedua orang tuanya. Salah satu peran ibu adalah mendidik anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang baik, yang menjunjung tinggi adab dalam keseharian.

Beratnya tanggung jawab orang tua, khususnya para ibu, akan berbalas pahala ketika ikhlas mendidik anak-anak mereka. Seandainya pahala berbentuk batangan emas, mungkin akan terlihat semangat yang menggelora untuk meraihnya.

Ibunda Imam Syafi'i, Fatimah binti Ubaidillah Azdiyah, adalah salah satu contoh seorang ibu yang bersusah payah mengantarkan anaknya (Imam Syafi'i) di masa kecil untuk menuntut ilmu. Kondisi sebagai orang tua tunggal karena ayah Imam Syafi'i telah meninggal tidak membuatnya surut semangatnya untuk menjadikan sang anak ahli ilmu. Hijrah pun dilakukan. Hasilnya bisa kita rasakan saat ini, Imam Syafi'i seorang alim (ahli ilmu) sebagai pendiri mazhab fikih dan juga menguasai keilmuan yang lain. Kitab Ar-Risalah dan Al-Umm adalah contoh karya beliau.

Masih banyak wanita tangguh yang bisa dicontoh dalam mendidik anak. Ada Asma' binti Abu Bakar sang pemilik dua ikat pinggang, ibunda dari 'Urwah bin Zubeir. Dia mendidik anaknya dengan keluasan ilmu yang dimilikinya. 'Aliyah, ibunda Imam Malik bin Anas yang mendukung sepenuh hati saat putranya akan menuntut ilmu, dll. Semoga kiprah wanita-wanita tangguh itu bisa menginspirasi para ibu untuk tetap menjaga kewarasan. Terpenting adalah menjaga keimanan agar mengakar kuat sehingga tetap ikhlas mendidik anak-anak dengan segala perubahan kondisi yang ada. Wallahua'lam bishshawab

Penulis: Niwatun, S.Pd.I
×
Berita Terbaru Update