-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Korean Wave Meracuni Generasi

Kamis, 01 Oktober 2020 | 14:48 WIB Last Updated 2020-10-01T06:48:50Z
Rahmawati (Mahasiswi Budidaya Perairan UHO)
LorongKa.com - Era digital yang semakin canggih saat ini mengenalkan publik tentang kemajuan dunia. Salah satunya mengenai Korean wave atau gelombang K-pop yang telah lama nge-trend di negeri ini. K-pop merupakan sebuah industri hiburan yang semakin hari semakin meninggi skalanya, begitu juga dengan retingnya. Sebagian besar anak muda Indonesia turut mengidolakan tokoh-tokohnya baik musik pop korea sampai dengan film drama korea.

Dikutip dari media online Tirto.id (20/9/2020), wakil presiden RI Ma’ruf Amin berharap tren K-pop dapat mendorong munculnya kreativitas anak muda Indonesia. Ia berharap anak muda lebih giat mempromosikan budaya bangsa ke dunia Internasional.

Kegandrungan banyak orang Indonesia terhadap K-pop menunjukkan selera musik dari negara tersebut mendapat tempat di dalam negeri. Korean wave juga membawa pengaruh budaya korea di Indonesia, selain melalui musik pop, juga lewat makanan, drama, film dan mode.

Mengingat pada tanggal 20 September 2020 merupakan peringatan 100 tahun kedatangan warga korea di Indonesia, Ma’ruf Amin berharap hubungan baik antar dua Negara dapat terjalin semakin kuat hingga menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

Layakkah K-pop jadi Panutan?
Menjadikan gelombang K-pop sebagai panutan dalam membangun kreativitas anak muda Indonesia sangat mustahil direalisasikan. Realitasnya, anak muda Indonesia saat ini hampir seluruhnya belum mengetahui jati diri negara mereka sendiri seperti apa dan standar baik buruknya belum dipahami. Alhasil, budaya asing yang menyerbu masuk gampang diterima bahkan dikagumi oleh generasi muda. Sementara itu, budaya negeri sendiri semakin tenggelam.

Sehingga tidak mungkin apabila mengharapkan anak muda Indonesia memperkenalkan budayanya pada orang asing sedangkan ketertarikan akan budaya dari idol lebih diminati untuk dianut. Layaknya aliran darah dalam tubuh manusia, musik dan drama korea juga sudah menguasai jiwa para penggemarnya. Tidak hanya sampai disitu, kebiasaan-kebiasaan boy atau girl band ikut ditiru agar dianggap sebagai fans beratnya.

Sangat disayangkan, keindahan drama atau lagu korea tak semenawan kehidupan nyata. Tuntutan untuk memuaskan para pemilik modal yang mengeluarkan dana sangat banyak demi ketenaran dalam negeri sampai tembus ke industri hiburan luar negeri menjadikan mereka seperti boneka bernyawa. Tuntutan profesi yang menyiksa tidak jarang menjadikan artis-artis korea itu depresi bahkan bunuh diri karena tidak sanggup menanggungnya.

Hasil dari ketenaran tersebut memang diakui sangat mendominasi dalam ranah hiburan dunia sekaligus menghasilkan devisa besar bagi negaranya. Namun, seiring dengan gelombang K-pop yang semakin kencang membawa anak muda Indonesia terbawa dengan perilaku sekaligus kebiasaaan mereka. Padahal budaya korea sangat berbeda dengan kebiasaan orang Indonesia mulai dari makanan, gaya hidup dan lain-lain. Bahkan kebanyakan dari mereka tidak menganut agama sehingga menjalankan kehidupan yang bebas semaunya.

Mirisnya, akibat terlena dengan K-Pop sering kali membuat generasi tidak sadar bahwa perilakunya menyimpang dari agama. Seperti lebih mementingkan menonton K-pop sampai lupa dengan kewajiban mereka sebagai seorang muslim atau muslimah. Sehingga ini tentu tidak pantas dijadikan panutan bahkan akan berdampak buruk karena kecintaan mereka kepada idola melebihi kecintaan mereka pada Allah dan Rasul-Nya.

Mengarahkan Generasi Muda untuk Mengenal Jati Diri
Indonesia yang dijuluki sebagai Negeri mayoritas muslim, menjadikan pembentukan jati diri dengan kepribadian Islam sangat penting. Selain itu Islam mengajarkan bahwa tidak boleh kecintaan kita terhadap sesuatu melebihi kecintaan kita pada Allah dan Rasul-Nya. Menjalankan apa yang diwajibkan dan mejauhi apa yang dilarang, itulah bentuk keimanan. Hal itu berlaku bagi setiap kalangan, termasuk generasi muda.

Semestinya tugas Negara, dengan peran pemerintah tentunya, yang harus mampu memperbaiki kualitas generasi muda menjadi sadar akan perannya sebagai umat muslim, kemudian menguasai ajaran Islam serta mempromosikannya ke seluruh dunia. Jangan malah mendukung pada hal-hal yang mengundang murka Sang Pencipta.

Dengan dukungan untuk mengenalkan Islam tersebut tersebut, akan menghasilkan generasi muda yang mencerminkan perilaku dengan ciri khas kepribadian Islam. Generasi terbaik inilah yang akan mampu mengkampanyekan bahwa Islamlah yang semestinya diterapkan dan dijadikan sebagai panutan dalam menjalankan kehidupan secara global. Wallahua’lam.

Penulis: Rahmawati (Mahasiswi Budidaya Perairan UHO)
×
Berita Terbaru Update