Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Pemuda Dan Arus Perubahan Bangsa

Rabu, 04 November 2020 | 15:17 WIB Last Updated 2020-11-04T07:17:27Z

Cinthia Aristha, S.KM (Pegiat Literasi)

LorongKa.com - 
Gelombang demonstrasi kembali terjadi ditengah-tengah pandemi sekarang. Massa yang terdiri dari gerakan mahasiswa dan buruh bersatu untuk memprotes atas disahkannya UU Cipta Kerja yang dinilai merugikan rakyat.


Sebagaimana dikutip dari bbc.com, Direktur YLBHI (Asfinawati) mencatat tindakan kekerasan yang dilakukan kepolisian dalam menangani aksi unjuk rasa menolak Undang-Undang Omnimbus Law terjadi di 18 provinsi di seluruh Indonesia, dimana para pengunjuk rasa dihalang-halangi dengan cara ditangkap sebelum melakukan aksi (8/10/2020).


Mahasiswa menuntut pemerintah menarik UU tersebut dan mengeluarkan Perppu. Hal yang sama juga terjadi pada tahun 2019 lalu, dimana mahasiswa turun ke jalan untuk meminta pemerintah menarik RUU KPK yang dinilai akan melemahkan tugas dan fungsi KPK pada saat itu.


Unjuk rasa yang berakhir senyap dan ditelan lupa, namun menyisakan duka karena adanya korban jiwa. Apakah, hal itu akan terjadi lagi saat ini? 


Lumpuhnya Peran Pemuda


Faktanya, setiap pergerakan yang terjadi selalu dipimpin oleh mahasiswa yang merupakan pemuda. Lihat saja bagaimana pergantian orde lama ke orde baru sampai reformasi. Garda terdepan selalu dihuni oleh para pemuda.


Sayangnya, hasil dari pergerakan demi pergerakan yang dilakukan tidak bertahan lama. Buktinya bersamaan dengan pergantian masa ke masa kepemimpinan tetap sarat dengan pelanggaran dan kecurangan yang terjadi dikonstitusi, yang lagi-lagi memaksa mereka harus turun ke jalan dan menyuarakan penolakan. Seperti yang terjadi pada gugatan hasil pilpres 2019 yang dibawa ke MK, sama sekali tidak dihiraukan.


Pergerakan tersebut kini kian tumpul seiring dengan dipangkasnya peran mahasiswa. Independensinya pun kini diberangus dan dihilangkan melalui kurikulum perguruan tinggi yang dinilai selaras dengan tujuan korporasi. 


Mahasiswa yang ikut unjuk rasa menolak keputusan pemerintah dinilai telah melakukan pelanggaran yang dapat disanksi. Mulai dari ancaman nilai akademik sampai dengan hilangnya kesempatan kerja. Hal ini tidak hanya menandakan penumpulan peran pemuda, tetapi juga mengindikasikan bahwa pemerintah kian otoriter.


Situasi tersebut lumrah terjadi dalam sistem Demokrasi-Kapitalisme yang bersumber dari akal manusia. Sistem ini bukan hanya memangkas peran pemuda, tetapi juga menghambat potensinya. Mereka dipaksa untuk fokus hanya pada pendidikan yang berorientasi pada maslahat pribadi semata, tumbuhnya rasa individualisme,  serta tidak memiliki kepedulian terhadap apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dan sekitarnya.


Sehingga mereka melupakan esensinya sebagai pemuda, hanya berkutat pada kegiatan akademik, meraik IPK tinggi tanpa terlibat dengan aktivitas yang dianggap sebagai politik praktis. Tanpa sadar mereka telah dimanipulasi menjadi agen-agen yang hanya akan memperkuat cengkraman para korporat dinegeri in.


Pemuda Sebagai Agen Perubahan 


Jika dalam sistem Demokrasi-Kapitalisme peran pemuda begitu ditumpulkan dan dieksploitasi potensinya, beda cerita dan cara Islam dalam memandang mereka. 


Islam memandang seorang pemuda sebagai orang yang mengemban dan memiliki ilmu, selain itu mereka begitu dimuliakan dengan cara ditinggikan derajat atas yang lainnya, sebagaimana firman Allah SWT; Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Allah maha mengetahui atas apa-apa yang kalian kerjakan. (QS Al Mujadilah: 11)


Mahasiswa sebagai agen perubahan tidak hanya memiliki dan mengemban ilmu saja. Melainkan harus disertai dengan keimanan terhadap Allah SWT sehingga ilmu yang mereka miliki dapat digunakan untuk menegakkan agama-Nya. 


Dilain sisi, bukan hanya karena ilmu yang dimiliki tetapi juga karena kekuatan dan energi yang lebih dibanding yang lainnya, yang membuat mereka dapat maju digarda terdepan. Sehingga kemampuannya tersebut dapat mengantarkan kepada perubahan yang di inginkan.


Islam: Solusi Perubahan Hakiki


Meski memiliki peran sebagai agen prubahan, namun realitas saat ini pergerakan mahasiswa belum memiliki arah yang jelas kemana. Seharusnya, pergerakan yang ada tidak hanya mengarah pada tujuan yang pragmatis, namun harus menyentuh persoalan paling mendasar yang sistemik dan terstruktur.


Sebagai agen perubahan harus memahami akar persoalan masalah yang dialami negeri ini kemudian menyelsaikannya dengan solusi terbaik. Tentu saja tidak boleh mengambil solusi tambal sulam ala Demokrasi-Kapitalisme yang terbukti tidak dapat menyelesaikan problematika masyarakat saat ini. 


Tentunya, solusi yang diambil harus diluar dari pada itu. Yakni bersumber dari sistem Islam yang tegak diatas kebenaran yang kokoh. Islam bukan hanya sebagai agama yang mengatur masalah individu saja seperti ibadah dan akhlak, namun juga mengatur tentang berbangsa dan bernegara.


Karena itulah sistem Islam memiliki kesempurnaan pengaturan dalam kehidupan. Sebab Islam tidak berasal dari buah pikiran manusia yang terbatas, melainkan bersumber dari Sang Khalik (pencipta). Karenanya Islam dapat memberikan solusi fundamental atas segala permasalahan yang terjadi.


Maka dari itu, pemuda harus mengambil jalan yang telah ditentukan dalam Islam untuk meraih perubahan hakiki. Percayalah, selama pergerakan-pergerakan yang ada tidak mengambil Islam sebagai solusi, maka apapun yang diusahakan akan berujung pada kesia-siaan serta akan menghasilkan perubahan semu semata. Wallahu alam. 


Oleh : Cinthia Aristha, S.KM (Pegiat  Literasi)

×
Berita Terbaru Update