Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Kualitas Cinta Teruji Pada Muara Kesusahan

Minggu, 27 Desember 2020 | 00:10 WIB Last Updated 2020-12-26T16:10:04Z

Muh.Nurhidayat.s (yayat) salah satu kader HMI cab.Gowa Raya dan kader Gerakan Rakyat dan Mahasiswa Indonesia (Gerak Misi)
LorongKa.com - Kita paham secara seksama bahwa manusia adalah juga ciptaan Tuhan yang notabenenya memiliki sifat Yin dan Yang atau baik dan buruk kedua sifat tersebut jika disatukan menjadi pun disebut sifat kamal yaitu kesempurnaan sifat ilahi maka daripadanya itu, kesalahan pun keburukan yang kemudian di perbuat oleh umat manusia adalah hal yang amat sangat lumrah dan hal yang tak mampu kita munafikan terjadi, begitupula dengan kebaikan umat manusia yang sering diperbuat.


Nah, coba kita menyual dinamika manusia yang terdapat nan hidup dalam lingkup suatu negara. Apalagi negara yang notabenenya adalah negara yang memang berpayung hukum seperti negara kesatuan republik indonesia. Artinya bahwa di negara indonesia terdapat suatu regulasi pun aturan yang menjadi pedoman dan patokan hidup manusia dalam bernegara. Maka pembatasan gerak manusia itu jelas terpampang dalam aturan-aturan yang ada agar lebih jelas serta mampu kita pahami bersama, coba kita menggambarkan beberapa kasus yang memang amat sangat atensi negara. Misalanya, salah seorang yang menjadi kurir, atau pemilik sarana produksi narkotika adalah barang terlarang dan berpotensi besar mengganggu corak pikir masyarakat pemicu kejahatan atau secara fundamentalnya merusak generasi bangsa maka daripadanya itu jikalau ada memang sudah menjadi target oprasi ataupun operasi tangkap tangan, maka tidak mau iya harus menjalani pemirkasaan "bagi yang korban operasi tangkap tangan" sesuai dengan aturan yang ada. Usai dari pada menjalani pemerikasaan,dan terbukti, maka iya ditetapkan sebagai tersangka.


Kondisi tersebut membuat tersangka bahkan merasakan stres hingga ingin mengeluarkan butiran-butiran air mata. Namun, mungkin tidak semua tersangka merasakan hal demikian. selain dari kasus tersebut diatas, masih banyak kasus-kasus lain yang marak terjadi di negara kita. Kejahatan, anarkisme dll, adalah juga sudah memiliki regulasi pun aturan tersendiri. Point penting yang kemudian dapat kita tarik dari gambaran kasus diatas yaitu,masa penahanan tersangka yang membuat sebagian manusia terrdiam dan tak tahu apa yang harus iya perbuat misalnya kasus narkoba, amat sangat bersyukur jikalau ada yang mendapatkan vonis dibawah dari 2 (dua) tahanan karena amat sangat mendominasi yang mendapatkan 4 (empat) tahunan ke atas. paling parahnya lagi ada yang mendapatkan hukum hingga 19 (sembilan belas) tahun ke atas. Pastinya sebagian dari mereka yang sudah jelas jumlah hukumannya atau vonisnya, merasakan keresahan dalam dirinya hingga pikirnya campur aduk.


Pikiran yang campur aduk tersebut bukan tanpa alasan melainkan daripada misalnya yang sudah memiliki Keluarga. Stres pun depresi tak mampu terhindarka. Biaya pendidikan, keluarga, individu hingga pekerjaan yang menjadi faktor dari semua itu. Di dalam jeruji besi, iya hanya mampu berdoa, menjalankan hal yang diwajibkam oleh keyakinannya, sembari menunngu kapan dirinya akan dibebaskan. Namun, yang amat sangat miris iyalah persoalan tidak semua narapidana yang memiliki keluarga mampu merawat kerukunan ataupun romans keluarga. Hipotesa awal dari retaknya hubungan mereka ialah persoalan masa tahanan yang amat lama. Selain daripada itu, adapula faktor-faktor lain yang menyebabkan, salah satu diantaranya ialah pihak ketiga dalam hubungam romansnya.


Selain daripada orang yang sudah berkeluarga anak muda yang juga terjerat kasus yang sama. Dinamika romansa cukup menarik untuk kita persoalkan secara umum non fundamental, maka pahami secara seksama bahwa anak muda pun gadis, banyak yang menjalankan hubungan, baik pacaran dan sebagainya. Kadang kala, mereka juga masuk pada dinamika yang amatsangat mengharunkan. Sebelum terlalu jauh saya membahas, kembali mempertegas bahwa mungkin sebagian napi dari semua kasus merasakan hal demikian. Nah, dalam ataupun di balik jeruji tersebut, secara normatif, sudah ditetapkan persoalan jam untuk melakukan besukan. Diantara banyaknya kasus, sebagian dari mereka "napi" kadang kala secara psikologis mereka menitih beratkan suatu harapan. Semisal, dibesuk oleh kekasih (pacar), istri maupun keluarga. karena yakin saja bahwa dibalik suatu gumbala kerinduan yang bersemayam dalam dirinya. Namun, seperti pada redaksi-redaksi sebelumnya bahwa terkadang mereka terlihat stres non depresi karena persoalan, lagi-lagi romansnya. Semisal, salah satu dari mereka "napi" yang memiliki kekasih hati dalam hal ini yaitu pacar, dan jelas bahwa napi ini memiliki kualitas cinta yang amat sangat luar biasa pada pasanganya terkadang runtuh pada kondisi tersebut. Salah satu diantaranya yaitu persoalan lagi-lagi pihak ketiga ataupun salah satunya karena ketidakmampuannya menjalani hubungan yang tidak seperti pada umumnya.


Pada posisi itu mungkin kita mampu merasakan betapa perihnya romans mereka. Hubungan yang dibangun cukup lama tersebut kandas sebab kehadiran pihak ketiga dan adanya batasan jeruji yang mengganggu konstalasi romansnya. Perasaan campur adu, depresi, stres hingga yang hanya mampu dilakukan adalah merenung disudut-sudut jeruji besi. Tapi, tak semua dari mereka yang romansnya runtuh karena persolan jatak nan pihak ketiga kadang juga pada posisi tersebut kualitas cinta antara keduanya semakin besar nan kuat. Nah, inilah yang mesti kita garis bawahi bahwa bagi narapidana ataupun secara keseluruha ujian cinta adalah pada saat kita berada pada lingkup kesusahan karena kita pahami bersama bahwa tidak seterusnya manusia berada pada lingkup kesenangan.


Seperti sebelumnya, bahwa narapidana adalah mereka yang amat sangat terbatas persoalan langkah ataupun gerak karena berada pada posisi di balik jeruji besi. Dinamika romans para napi sudah terpaparkan diatas walaupun tak sedetail analisis para penulis-penulis profesional. Bukan persoalan material pun materi dalam hal asupan atau ransum, melainkan kehafiran jasad dihadapan jasad lain. Kehadiran jasad tersebut yang dirindukan oleh jasad yang berada keterbatasan. Yakin saja bahwa muara kebahagian terpampang jelas di bola matanya pun pada aura wajahnya.


Penulis: Muh.Nurhidayat.s (yayat) salah satu kader HMI cab.Gowa Raya dan kader Gerakan Rakyat dan Mahasiswa Indonesia (Gerak Misi)

×
Berita Terbaru Update