-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Generasi Dilelang, Masa Depan Hilang

Minggu, 24 Januari 2021 | 20:59 WIB Last Updated 2021-01-24T12:59:47Z

Uqie Nai (Aktivis Menulis dan Alumni Branding for Writer)

LorongKa.com - 
Beberapa pekan yang lalu dunia pendidikan disuguhkan program "Bangkit dan Vokasi" dengan target para peserta didik sekolah menengah kejuruan hingga perguruan tinggi. Sebagaimana  berita yang dikutip dari laman  Kompas.com, Jumat (8/1/2021), bahwa Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Google, Gojek, Tokopedia, dan Traveloka menyelenggarakan program Bangun Kualitas Manusia Indonesia (Bangkit) 2021. 


Program yang ditawarkan Ditjen Dikti tersebut kabarnya adalah program untuk membina generasi bertalenta digital yang terampil, memiliki keahlian di bidang teknologi dan soft skill agar sukses dari bangku  kuliah hingga dunia kerja. Para peserta yang ikut program ini akan mendapatkan sertifikat dari google, kemudahan kerja, bahkan berkesempatan mendapat dana inkubasi dan program  UIF (University Innovation Fellow) di Stanford, California, Amerika Serikat.  Sebuah program untuk memilih dan mendidik sarjana dan mahasiswa pascasarjana mampu berinovasi dan berwirausaha.


Program serupa dilakukan pula oleh Direktorat Jenderal Pendidikan  Vokasi (Ditjen Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Wikan Sakarinto, dengan merombak kurikulum SMK demi tercapainya pendidikan vokasi.  Perombakan diarahkan pada mata pelajaran akademik menjadi terapan; diperpanjangnya praktek kerja industri (prakerin) selama satu semester atau lebih; mata pelajaran baru bersifat project base learning dan ide kreatif kewirausahaan selama tiga semester; adanya pilihan jurusan marketing untuk tiga semester; dan co-curricular  wajib di tiap semester semisal membangun desa dan pengabdian masyarakat.


Aroma Kapitalisasi Generasi


Program yang digulirkan pejabat pendidikan sekilas memang menakjubkan. Ada secercah harapan kaum generasi terdidik mendapatkan kesempatan yang sarat kemudahan hingga tercapai kebahagiaan secara finansial dan strata sosial di masa mendatang.


Kondisi tersebut terlihat sekali dalam penyesuaian kurikulum SMK dan program Bangkit di perguruan tinggi. Para siswa kejuruan dan akademisi ini didorong untuk berkemampuan mandiri, mampu berwirausaha dan menjadi pekerja industri sesuai keahlian.


Jika kemampuan akademik sudah diarahkan pada terapan, maka para lulusan SMK, sarjana, pascasarjana, akan membanjiri perusahaan yang membutuhkan SDM muda, berkemampuan, upah minimum (jika dibandingkan keahlian serupa dengan tenaga asing) tapi hasil produksi meningkat. Sungguh, pemberdayaan manis berujung miris. Kaum terpelajar tidak menyadari kehidupannya di masa depan akan menjadi sapi perahan dan jongosnya pengusaha (kapitalis).


Pendidikan yang harusnya mampu membentuk pola pikir dan pola sikap (akhlak) siswanya sesuai arahan syara' tergerus keserakahan korporat melalui program vokasi, yakni program pendidikan kearah keahlian, terampil, siap kerja dan mampu bersaing secara global. 


Saat ini, keberhasilan secara finansial menjadi hal yang sangat membanggakan, sementara para pengajar ataupun pelajar yang diberikan pelatihan agar program ini berjalan tak lebih sebagai objek pencetak  output berdayaguna, bisa bekerja dengan capaian keterampilan maksimal, bergaji minimal, tapi moral terabaikan. Siapa yang diuntungkan? 


Kaum pemodal dengan landasan kapitalisme akan berupaya menggenjot perekonomian mereka dengan berbagai cara. Meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Dengan atau tanpa regulasi pemerintah.  Cukup dengan plorkan program, iming-imingi fasilitas dan keuntungan, kapitalis mulus melenggang.  Maka melibatkan lulusan kejuruan agar tujuan ini tercapai bukanlah hal yang aneh untuk masyarakat yang sadar bahwa generasi sedang diincar dan dilelang. Pelakunya? Pejabat publik yang terkontaminasi paham sekuler-kapitalis.


Tak bisa dipungkiri kehidupan umat pasca jauhnya dari syariat Islam terus menjadi santapan lezat kaum korporat. Negara dengan SDM dan SDA potensial adalah target imperialisme kolonial mengeruk keuntungan. Pemberian utang melalui kerjasama serta perjanjian ekonomi-politik hanya salah satu bentuk penjajahan yang dilakukan kolonial barat berwajah demokrasi kapitalisme, di samping beragam agenda lain yang ditawarkan.


Bagi mereka, Indonesia atau negeri berpenduduk muslim lainnya tak ubahnya lahan strategis untuk melangsungkan kehidupan demokrasi yang semakin kritis. Benarlah kiranya apa yang disabdakan Rasulullah saw. :  “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).


Sistem Islam Bebas Kapitalisasi


Kapitalisasi generasi yang akan menyebabkan masa depan hilang  bermuara pada sistem yang diadopsi negeri ini atau negara kampiumnya (AS) yang berbasis sekulerisme. Sehingga output pendidikan diarahkan sesuai ruh sekuler. Menjauhkan aturan agama dari kehidupan berbangsa dan bernegara hanya karena kemilau harta dan tahta.  Standar kebahagiaan pun bertumpu hanya pada keuntungan bersifat materi.


Namun, tidak demikian halnya dengan sistem pendidikan berbasis akidah Islam. Kaum muslimin diarahkan memahami pentingnya pendidikan sebagai washilah memahami syariat, mengimplementasikan hingga mendakwahkannya ke penjuru dunia.


Output pembelajaran dalam sistem ini mewujudkan pribadi islami. Baik secara aqliyah maupun nafsiyah yang berkontribusi terhadap tingginya peradaban gemilang Islam. Generasi muda (milenial) sebagai agen perubahan selaras dengan ketakwaan yang dibangun oleh pilar keluarga, masyarakat dan negara. 


Pengaturan urusan publik akan dilakukan secara maksimal oleh kepala negara yang berdaulat, taat dan istiqamah memegang syariat. Tak perlu ide sekuler untuk mensejahterakan rakyat. Tak perlu janji korporasi dan intervensi asing jika lapangan pekerjaan terbuka lebar untuk publik. Ditambah lagi kebutuhan dasar semisal pendidikan, kesehatan dan keamanan terjamin optimal. Rakyat fokus mengembangkan keahlian dan kemampuan demi tercapainya ridha Allah Swt. sebagai puncak tertinggi kebahagiaan.


Dari ‘Abbas ra. bahwa dia telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Akan merasakan lezatnya iman, orang yang ridha kepada Allah  sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta Muhammad sebagai nabi dan rasulnya." (HR. Muslim)


Dengan demikian sistem pemerintahan Islam tak akan mengenal  lelang generasi demi kapitalisasi, yang ada hanya berlomba-lomba dalam kebaikan, meraih kemuliaan Islam dengan kemajuan hakiki. Kemajuan untuk menegakkan Islam secara totalitas dalam naungan institusi penerap syariat. Itulah target tertinggi yang harusnya diharapkan kaum muslim hingga Yaumul Akhir tiba. Wallahu a'lam bi ash Shawwab.


Penulis: Uqie Nai (Aktivis Menulis dan Alumni Branding for Writer)

×
Berita Terbaru Update