Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Menyoal Arah Pembinaan Generasi Z

Kamis, 28 Januari 2021 | 12:50 WIB Last Updated 2021-01-28T04:50:43Z

Ismawati

LorongKa.com - 
Generasi Z adalah generasi setelah generasi Y yang didefinisikan sebagai prang-orang yang lahir dari tahun 1995 hingga 2010. Generasi ini lahir di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Tak ayal, generasi ini disebut-sebut sebagai generasi “menunduk” akibat di dikte oleh ponsel pintar mereka. Akibatnya, gadget menjadi barang yang dapat mengakibatkan “candu” bagi mereka.


Oleh karena itu, Generasi Z ini perlu mendapat perhatian khusus utamanya dalam pembinaan pendidikan. Terlebih di masa pandemi, proses pembelajaran dilakukan jarak jauh dengan proses pembelajaran online. Namun, Komisioner Komisi Perlindugan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listiyarti banyak memberikan catatan terhadap pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang saat ini berdampak negative  terhadap kesehatan.


Dalam Talkshow bertajuk “Nasib Siswa di Masa Pandemi” yang disiarkan secara virtual di kanal Youtube MNC Trijaya Network pada Sabtu (23/1), KPAI dalam pengawasannya sudah menemukan beberapa anak terpaksa di rawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) karena mengalami gangguan kesehatan secara psikologis. Gangguan terhadap kesehatan jiwa menyangkut penggunaan gadget yang berlebihan, dikutip dari sindonews.com (24/1).


Wajar saja, pandemi yang tak kunjung usai mengakibatkan siswa harus lebih lama belajar via daring. Alhasil, kejenuhan melanda para siswa di masa pandemi. Di mana aktivitas di luar rumah harus dibatasi. Maka, gadget adalah salah satu teman bermain untuk mengalahkan rasa jenuh dan bosan, bermain game online salah satunya. Namun, karena kurangnya pengawasan dan pemberian gadget berlebihan pada anak usia sekolah dapat memberikan efek buruk, salah satunya kecanduan game hingga akses pornografi.


Mirisnya, dampak buruk lainnya akibat pemberian gadget pada usia sekolah adalah gangguan terhadap kesehatan jiwa mereka. Di mana, anak yang tidak diberikan gadget akan marah dan bertingkah yang dapat melukai dirinya sendiri maupun orang lain. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan ibu Retno selaku Komisioner KPAI yang mengatakan bahwa di beberapa kasus psikologi anak terganggu karena gadget adalah anak jika tidak diberi handphone akan membentur-benturkan dengan keras kepalanya sendiri ketembok.


Di sisi lain, ada kasus anak yang tidak diberikan handphone ketika dikurung orang tuanya di kamar. Dia akan memecahkan kaca jendela dan acaman menggores nadinya. Alhasil, banyak orangtuanya kalah atau mengalah sehingga tetap memberikan mereka gadget. 


Tak ayal, mendidik generasi Z hari ini merupakan sebuah tantangan yang besar. Dimana para orangtua harus berjibaku mendidik anaknya di tengah kecanggihan teknologi. Pada dasarnya, kecanggihan teknologi hari ini merupakan sesuatu yang luar biasa, yang mungkin tidak dirasakan oleh generasi para orang tua terdahulu (generasi X yang lahir pada tahun 1965-1980). 


Sementara itu, di sistem pendidikan sekuler hari ini tak mampu menjadikan siswa utamanya generasi Z menjadi generasi cemerlang. Dalam arah pendidikannya, sistem kurikulumnya cenderung berubah-ubah. Pendidikan di bebankan pada tugas yang banyak dan berlomba-lomba meraih nilai tertinggi. Akibatnya, stress menghadapi pendidikan bukan hanya kepada siswa, guru tapi juga para orang tua.


Sejatinya, kecanggihan teknologi dan kemudahan akses internet seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pendidikan yang terbaik. Menjadikan siswa cerdas bukan hanya dari sisi kekayaan intelektual, juga sebagai faktor pendorong kreativitas siswa. Sayangnya, kita sedang hidup dalam sistem rusak. Sistem yang lebih mengedepankan ekonomi dan abai terhadap kebutuhan rakyat, utamanya pendidikan. Sistem sekuler memang dirancang untuk tidak membentuk kepribadian Islami. Akibatnya, generasi yang lahir adalah generasi minus akidah dan akhlak. 


Maka, dalam penggunaan gadget pada anak harus diawasi oleh orangtua. Di mana, anak tidak dibiarkan terus menerus menguasai gadget. Tidak dibiarkan berlarut-larut menguasai gadget di usia sekolah, tidak membiarkannya bermain game dengan durasi waktu yang lama. Pengawasan ketat ini dibutuhkan sinergi ayah ibu agar anak bisa lepas dari gadget. Ajak mereka bermain dengan melatih motorik anak. Tak lupa pula pentingnya menciptakan suasana Islami dirumah sebagai bekal keimanan anak.


Di sisi lain, dibutuhkan sebuah institusi negara yang dapat memberikan kebijakan sesuai syariah Islam. Didalam sistem Islam, pendidikan yang lahir bukan hanya sekadar transfer ilmu, namun juga pembentukan kepribadian islami para siswa, dengan menanamkan akidah dan akhlak. Sementara dalam media informasi, negara hendaknya meblokir segala situs pornografi yang dapat menghantarkan kepada tindak kemasiatan. Semoga generasi hari ini bisa segera terselamatkan dengan tegaknya sistem Islam yang shahih untuk mengatur kehidupan manusia. Wallahu a’lam bishowab.


Penulis: Ismawati

×
Berita Terbaru Update