Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Merindu Harapan, Keluarga Penghafal Qur'an

Sabtu, 09 Januari 2021 | 20:19 WIB Last Updated 2021-01-09T12:24:09Z

LorongKa.com - Kami, belum menjadi hafidz. Namun atas ijin Allah semata, anak kedua ((19 th) sudah hafidz Qur'an. Sekitar Mei kemarin dia bersikeras kembali ke pondok untuk memaksimalkan persiapan ujian kubra. Dan alhmdulillah, ujian kubra di depan tiga penguji  berjalan dengan  lancar. Untuk saat ini, dia sedang menyelesaikan ujian kitab (bahasa Arab dll) guna melengkapi persyaratan melanjutkan beasiswa nya ke negeri seberang. İn syaAllah Juni bulan depan. Amiin


Diantara pemaparan materi Ust Pedy, kita harus memiliki sosok idola (kalo nd salah sebut, imitating close). Nah, si kakak kedua ini, rupanya menginspirasi bagi 3 adik nya.  Apalagi prestasi dari tim  nya (12 orang) trrbaik kedua se Asia- Pasifik setelah Philipina dan ketiga Malaysia.


Menyusullah anak ketiga (16 th) masuk ke pondok yang sama. Capaiannya sekarang sekitar 20 juz. Dia pun punya cita- cita  yang sama. Max Juni tahun depan mendapat beasiswa untuk menyusul mas nya. Sedang untuk anak keempat (15th) baru saja masuk pondok, masa pra-tahfidz.


Mengikuti kisah kehidupan pasangan suami istri sesama hafidz Qur'an, yang bisa membuat program, pengkondisian bahkan otomatis keteladanan. Maka terlahirlah anak- anak  yang juga hafidz Qur'an. İni kebalikan dari realita yang ada pada kami, orang- tua nya. Terlebih saya ibu nya, kemauan menghafal Qur'an justru setelah mereka masuk pondok. Kira- kira karena apa ya?tersentuh, ingin merasakan keprihatinan perjuangan mereka.


Sebenarnya ayahnya sejak dulu sudah gemar menghafal Qur'an. Kemampuan bahasa arab beliau memang cukup menunjang untuk hal tersebut. Tapi selalu tidak puas, gelisah karena hafalan yang baru lancar, yang lama keteteran. Apakah belum kuat betul, terburu lanjut ayat baru? Tidak juga demikian. Menurut saya ini faktor kefokusan. Mencukupkan nafkah, berdakwah, sudah merupakan porsi waktu dan energi tersendiri. Apalagi dilihat dari sisi usia, sudah menuju 50 tahun.


Kegelisahan itu mulai menemukan titik terang saat berjumpa dengan seorang pakar Qur'an. Beliau katakan, irama atau lagu yang sudah pakem menjadi pilihan, akan  mempermudah ingatan saat merajaah. Bisa ambil contoh, lagu Bintang Kecil atau Pelangi- Pelangi meski bertahun- tahun kita tak lagi pernah bernyanyi, kenyataan nya masih aja bisa. Tidak ada yang lupa. Suami saya kemudian mempraktekkan teori sederhana ini, dengan mengikuti murratal Qori' yang dicocoki. Diantara yang pernah beliau ikuti İmam Al Ghomidi, İmam Sudaiz dan ternyata kecocokan terakhir meniru nada İmam Misy'ari Rosyid Al Affasi.


Upaya itu tekun sekali dilakukan. Beliau potong satu surat terbagi menjadi bebrapa ayat. Kemudian disimpan dalam memory card di stel berulang- ulang dengan nokia mungil. Dalam perjalanan, aktivitas rumah, menjelang tidur pilihan ayat itu yang diulang2. Disamping sesering mungkin  telah membaca Qur'an (bi nadhor). Sengaja tidak memilih android beresiko banyak gangguan. 

 

Pengalaman pribadi itu selalu rajin dituliskan. Hingga bisa  menerbitkan  sebuah buku berjudul TaBiTa (Tahfidz bi Taghani). Alhmdulillah, konsep ini bamyak diminati oleh para calon penghafal dari kalangan orang- tua yang rata- rata sudah punya kesibukan. Proses nya berjalan pelan, jumlah perolehan hafalan tidak terlalu banyak. Namun punya kelebihan, menempel dengan kuat meskipun usia sudah tidak lagi muda.


Berikut konsep umum, yang saya jadikan percontohan.


1. Menentukan target ( saya pilih sendiri 3 minggu mendapat 1 halaman).


2. Qur'an yang mau kita pakai buat menghafal, sudah kita tentukan. Boleh punya Qur'an banyak, ditaruh di banyak tempat  juga tidak masalah. Yang penting kriteria nya sama.


Maka sesuai target, saya pilih Qur'an hufaz yang terdiri 3 warna. Halaman 1/3 atas berwarna kuning, 1/3 tengah berwarna hijau, 1/3 akhir biru.


3. Selain Quran 3 warna, media yang kita butuhkan adalah potongan surat yang terdiri atas beberapa ayat, mngikuti ketentuan ( file- file murattal ).



Diskripsi praktis, agar terukur kurang lebih demikian:


1. Minggu ke-1, baca 1/3 halaman atas ( warna  kuning)sebanyak 40 x. Dibaca saja dengan mengikuti lagu Qori pilhan kita. Selama satu minggu, hanya membaca saja. Sehingga terakumulasi sebanyak  40 x 6 hari =240 kali baca.


2. Minggu ke-2, Menghafal 1/3 yang atas, boleh dengan sambil sedikit melihat, ciluk ba.


- Tugas baca 1/3 halmn bagian tengah. ( warna hijau ) sebyk 40x. Jangan lupa, mencontoh nada murottal. Terakumulasi 240 x bacaan.


3. Minggu ke-3, tugas hafaln  1/3 halamn bag.tengah (hijau). 


Tugas baca 1/3 bagian bawah ( biru ) sebanyak 40 kali. Terakumulasi 240 x bacaan.


4. Minggu ke-4, tugas hafalan 1/3 bagian bawah.  Tugas membaca, sudah berpindah ke lembar halaman berikut nya. Demikianlah selanjutnya.


Kesimpulan: jika saya istiqomah dengan ketentuan itu, maka:  


1 halaman terselesaikan dalam 3 pekan. 1 juz ( 20 hlmn) terselesaikan dalam 60 pekan = 15 bulan = 1,3 tahun.


Apakah tampak sedikit sekali dan lamban?


Manurut saya itu sudah lebih baik, apalagi mutqin. Dibandingkan waktu telah berjalan sekian tahun namun separoh/ seperempat juz pun tidak kita dapatkan.


Beberapa uslub murajaah yang kami lakukan, meletakkan Qur an dengan ketinggian sejajar  kita berdiri saat shalat.  Saya pesankan ke tukang las, lempengan logam dengan kelebaran seukuran Qur'an besar, berikut penyangganya sekalian.


Menjelang shalat, saya siapkan pilihan surat/ ayat. Jika di tengah shalat ada lupanya,  maka tinggal  mengarahkan pendangan kita ke arah Qur'an.


Alhmdulillah, segala nikmat milik Allah, Swt. Semoga Allah memudahkan.


Penulis: Wahibah

×
Berita Terbaru Update