Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Mengapa Harus Sama?

Sabtu, 22 Mei 2021 | 21:55 WIB Last Updated 2021-06-05T12:39:01Z

Aslama

LorongKa.com - 
Pernikahan pada umumnya suatu hal yang didambakan oleh setiap orang. Keindahan hidup bersama dengan seseorang yang dicintai tentunya sangat diharapkan. Tapi kadang kala pernikahan yang terjadi tidak seperti yang dibayangkan. Ibarat kata harapan dan realita bisa jauh berbeda. 


Apalagi, jika dua insan yang dipersatukan dalam sebuah pernikahan itu memiliki perbedaan adat istiadat, kebiasaan ataupun sudut pandang yang mungkin kadang menjadi salah satu hal yang dapat menimbulkan bibit permasalahan.


Ilmu pernikahan mungkin sudah dipersiapkan dari awal sebelum menikah, tapi ternyata itu tidaklah cukup tanpa management ego ataupun perasaan yang terkadang sering mendominasi dan menghapus daya ingat tentang segala ilmu yang sudah didapatkan.


Bertahun-tahun menikah bukanlah standar bagi pasangan untuk senantiasa bertahan dalam biduk pernikahan. Karena jika itu menjadi standar, kenapa ada kata "tidak ada kecocokan" setelah menikah dan ujungnya berpisah. 


Menikah di usia muda ataupun di usia sudah matang, baru menikah ataupun sudah lama, punya harta atau hidup seadanya, orang alim ataupun yang awam bukan juga jaminan  sebuah pernikahan tanpa goncangan. Tidak ada rumah tangga yang mulus-mulus saja. Bahkan Rasullullah juga pernah memiliki masalah rumah tangga dengan istri-istri beliau.


Tak hanya masalah besar, bahkan masalah kecil pun bisa memicu sebuah keretakan dalam rumah tangga. Karakter bawaan yang berbeda tak jarang bikin suasana menjadi tegang dan panas. Kadang bisa jadi dalam hati berkata "kenapa dia tak bisa berubah seperti yang diharapkan?" 


Pernikahan bukanlah untuk merubah seseorang untuk menjadi sama dengan yang lain. Jika itu dilakukan oleh salah pihak dalam ikatan pernikahan, maka hasilnya adalah rasa lelah yang tak ada ujungnya. 


Kenapa harus memaksa untuk sama, jika kita bisa saling melengkapi? Satunya cerewet tak mengapa yang lainnya pendiam, jika satunya rapi tak mengapa jika yang satunya masih berusaha untuk menjadi sosok yang rapi, atau satunya perfeksionis yang lainnya sebaliknya karena pada dasarnya tak semua hal bisa dipaksakan untuk menjadi suatu yang ideal seperti yang diharapkan.


Teorinya memang gampang karena yang susah adalah prakteknya. Tapi tak ada salahnya selalu belajar dan mencoba memahami bahwa pernikahan adalah mencocokan ketidakcocokan. Selagi ketidakcocokan itu tidak bertentangan dengan standar agama, maka tidaklah mengapa.


Si Dia tak harus mengikuti jejakmu. Jika bisa  jalan bergandengan kenapa dia harus menjadi bayangan. Kenapa memaksakan harus sama jika berbeda bisa menambah rasa.


Penulis: Aslama.

×
Berita Terbaru Update