Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

INSES, Ancaman Keluarga Masa Kini: Mampukah Keluarga Menjadi Benteng Utama?

Selasa, 05 September 2023 | 09:46 WIB Last Updated 2023-09-05T01:46:15Z

Penulis: Zulhilda Nurwulan, S. Pd. (Pegiat Opini, Mahasiswa Pascasarjana UGM)

LorongKa.com - 
Apa itu INSES? Inses berasal dari Bahasa Inggris incest yang berarti hubungan sedarah atau hubungan sumbang adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan kekerabatan yang dekat, biasanya antara ayah dengan anak perempuannya, ibu dengan anak laki-lakinya, atau antar sesama saudara kandung atau saudara sepihak. (Wikipedia). 


Sangat menggelikan! Namun, fakta itulah yang terjadi di lingkungan masyarakat saat ini. Keluarga, sebuah lembaga yang harusnya menjadi benteng paling aman bagi anggotanya malah menjadi ancaman yang sangat berbahaya dan mengerikan. Keluarga, sebuah lembaga pendidikan informal yang paling pertama bagi seorang anak, kini malah bisa menjadi ladang kekerasan seksual yang sangat menakutkan. Lantas, masihkah keluarga mampu menjadi benteng utama untuk perlindungan anggotanya?


INSES: Penyakit Sosial Berbahaya, Dampak Kerusakan Sistem


Umumnya, keluarga adalah rumah yang paling nyaman untuk tinggal, bercerita, pulang dan menetap. Sayangnya, adanya fakta inses seperti yang banyak terjadi hari ini membuat sebagian orang khususnya anak menyimpan kekhawatiran terhadap orang tua dan saudaranya tentang definisi keluarga yang aman dan nyaman. Kasus inses sudah sangat banyak terjadi di kalangan Masyarakat hari ini. Beberapa kasus inses yang terjadi di Indonesia diantaranya kasus inses yang terjadi di Sumatra Barat. Kasus inses ini terjadi antara ibu dan anak laki-lakinya yang sudah berjalan cukup lama sejak SMA sampai sekarang (usia anak 28 tahun). Mengejutkan! Terbaru, kasus inses yang dilakukan oleh sang ayah terhadap putrinya terjadi di Tangerang. Menurut korban (anak pelaku) ayahnya sudah melakukan tindakan bejat itu sebanyak 100 kali. Hal ini terkuak ketika kakak korban mendapati ayahnya Tengah memperkosa adiknya lalu Ia pun meneriaki ayahnya dan langsung melapor ke pihak kepolisian setempat (voi.id/30 Agustus 2023). Pada saat yang sama, keluarga dipaksa menjadi benteng dari kasus kekerasan seksual. Sebagaimana yang disampaikan oleh Staf Ahli KemenPPPA, Indra Gunawan, menurutnya pencegahan terjadinya kekerasan seksual dapat dimulai dari keluarga, sebab keluarga sebagai lembaga terkecil yang aman bagi setiap anggota bisa melindungi anak-anak mereka dari kekerasan seksual. Sayangnya, fakta yang terjadi di lingkungan masyarakat hari ini seolah membantah argumen yang disampaikan oleh Indra Gunawan tersebut.


Berbagai kasus inses di atas bukan lagi semata-mata kekhilafan atau kesalahan melainkan sudah menjadi penyakit sosial yang harus diselesaikan dari akarnya. Inses merupakan ancaman berbahaya bagi keluarga apabila tidak diselesaikan dengan benar. Kehidupan hari ini yang memisahkan urusan agama dari kehidupan adalah sumber utama berjamurnya berbagai bentuk kemaksiatan seperti inses ini. hidup dalam sistem sekulerisme seperti hari ini adalah sebuah keniscayaan masyarakat dekat dengan maksiat karena sistemnya tidak membiasakan masyarakat hidup dalam suasana keimanan yang baik. Disamping itu, berbagai tontonan yang disajikan diberbagai platform, kanal internet dan media sosial menstimulus para penikmatnya untuk mengikuti tindakan-tindakan melenceng seperti hubungan seks bebas, kekerasan seksual, dan perbuatan menyimpang lainnya. Penikmat tontonan-tontonan ini pun beragam mulai dari anak-anak hingga orang tua maka tidak ada celah bagi kemaksiatan itu tidak merajalela. Dengan demikian, sistem yang berlangsung hari ini sudah mendidik para kalangan di berbagai usia melakukan maksiat melalui tontonan yang tersaji dalam berbagai kanal maupun media sosial.


Oleh karena itu, berbagai bentuk kesalahan dan kemaksiatan yang terjadi hari ini tidak semata-mata kesalahan individu melainkan ada peran sistem yang telah mendukung masyarakat melakukan maksiat. Maka, untuk memperbaiki kesalahan masyarakat perlu memperbaiki sistem yang berjalan atau bahkan menghapus sistem yang diterapkan hari ini, yakni mencabut sistem sekulerisme.


Islam Mengoptimalkan Peran Keluarga


Keluarga adalah benteng utama pembangun karakter dan perilaku yang baik dalam diri setiap anak. Akan tetapi, anak yang baik tidak akan lahir dari orang tua yang buruk. Sehingga, orang tua adalah tonggak utama pembentuk karakter dan perilaku anak. Islam memandang bahwa orang tua memiliki kewajiban untuk mengajarkan ilmu agama terhadap anak-anak. Keluarga adalah tempat menanamkan nilai moral agama melalui pemahaman dan penyadaran serta praktik dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta iklim keagamaan yang kondusif.


Islam akan sangat jelas menguraikan peran bagi masing-masing anggota keluarga. Pertama, ayah sebagai pemimpin dalam keluarga. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 176, disebutkan bahwa laki-laki adalah seorang pemimpin. Mereka dilahirkan dengan karunia dari Allah SWT untuk membangun dan memimpin keluarga. Ayah wajib memastikan anggota keluarganya senantiasa berada dalam kebaikan serta bertanggung jawab penuh Ketika ada yang terjadi di dalam keluarganya. Selain sebagai pemimpin keluarga, ayah memiliki tanggung jawab utama dalam hal pemberian nafkah keluarga. Ayah harus memastikan bahwa rezeki yang diberikan kepada keluarganya adalah rezeki yang halal. Kemudian, peran utama ayah selanjutnya adalah menjadi suami dan ayah yang baik. Senantiasa berpegang teguh pada agama Allah serta syariatnya dan memastikan keluarganya taat terhadap perintah dan larangan Allah. Kedua, ibu sebagai istri dan pendidik pertama bagi keluarga khususnya anak. Seorang ibu harus memastikan bahwa keluarganya berada dalam keadaan yang baik secara kebutuhan perut hingga pendidikan karakter dan pendidikan yang lain bagi anak. Sebagai istri, harus memastikan bahwa hubungan dengan suami terjalin secara romantis dan penuh kasih. Bersikap lemah lembut dan taat pada perintah suami sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (QS al-Ahzaab:33). Ketiga, anak. Wajib bagi anak untuk selalu berbakti kepada ibu-bapaknya. Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. (QS. Lukman:14)


Dari uraian peran di atas, hal yang utama bagi muslim adalah taat pada aturan Allah SWT. “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS an-Nahl:97) 


Penulis: Zulhilda Nurwulan, S. Pd. (Pegiat Opini, Mahasiswa Pascasarjana UGM)

×
Berita Terbaru Update