Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Aku Bukan Majnun, Aku Adalah Husnin

Rabu, 30 Mei 2018 | 18:46 WIB Last Updated 2018-05-30T10:46:21Z
OPINI, Lorong Kata --- Mengapa Dia dilahirkan kalau bukan untukku?

Sesosok bayangan yang telah lama menjelma menjadi kenangan, kini tiba-tiba menghampiriku. Kedatangannya hampir membuatku marah, tapi aku kembali sadar bahwa hari ini aku sedang menjalankan ibadah puasa sehingga aku mencoba untuk tidak marah agar puasaku tidak makruh. Maka kubiarkan dia mendekat tapi kularang untuk menyentuhku sebab dia bukan muhrim. Dia pun tersenyum manis semanis rinduku dahulu yang pernah ada.

Saat kutatap bayangannya, Aku teringat potongan-potongan tulisan yang bercerita tentang kisah "Laila dan Majnun" (Qais dijuluki Majnun karena gila telah dipisahkan dari kekasihnya Laila). Sebuah kisah percintaan yang sangat mengharukan, mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai lalu mereka dipisahkan. Itulah sebab mengapa hati Qais hancur yang kemudian menjadi gila dan orang-orang menjulukinya "Majnun" atau gila.

Dalam sejenak hati pun bertanya-tanya, apakah dia adalah Laila dan aku ada Majnun ???..... tapi sepertinya tidak mirip dengan kisahku. Aku yakin bayangan yang datang ini bukanlah Laila seperti yang diceritakan dalam kisah cinta "Laila Majnun" karena Laila ada dirumahnya dikurung oleh ayahnya sendiri sehingga hal itu membuat Majnun sulit menemuinya. Sementara bayangan yang kuceritakan ini adalah seorang wanita cuma mampu untuk kukagumi setelah itu dia kembali pergi entah dimana sekarang, mungkin sudah menjadi milik orang lain dan Aku pun ini bukanlah Si Majnun, Dia orangnya gila gara-gara terluka karena cinta, Aku adalah Husnin yang tidak menjadi gila hanya persoalan kesedihan. Justru karena kisahku itu, membuat diriku tegar dan menjadi pribadi yang tangguh.Aku kembali tegaskan bahwa aku adalah Husni bukan Majnun.

Disini aku ingin mengatakan sesungguhnya Perempuan ialah karya Tuhan paling egois. Mengapa tidak. Bayangan yang kembali hadir menyapaku ini ditakdirkan bertemu denganku namun tidak dilahirku untukku. Dia datang hanya untuk pergi. Menitipkan rindu yang tak sanggup kupikul, aku menunggu kabar terakhirnya waktu itu namun tak kunjung tiba, lalu aku kebingungan dari kisahku itu sebab tak kutemukan kata-kata terakhir kalinya. Andaikan saja kata terakhir itu sudah lama ada,mungkin saja kisahku ini telah lama kutulis.

Hari ini aku bergembira dari kedatangannya walau pun berupa bayangan namu bisa kujadikan kabar terakhir darinya. Aku pun sudah bisa menyusun dan melengkapi kisahku sebab kehadirannya saat ini telah melengkapi cerita atas kenanganku,walau hari ini dia hanya sebatas bayang-bayang semua untukku, setidaknya aku pernah dia pernah menjadi bagian dari perjalananku..terima kasih

Penulis: Husnin Mubaraq
×
Berita Terbaru Update