Kontroversi Sistem Zonasi

Lorong Kata --- Lagi, para orang tua siswa/siswi penerimaan peserta didik baru (PPDB), pada tahun ajaran 2019/2020 dikagetkan dengan sistem zonasi sekolah.

Pasalnya, Sistem zonasi yang diterapkan pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Bertujuan untuk menciptakan pemerataan dan meniadakan konsep sekolah favorit. Sehingga, tidak ada lagi sekat antara sekolah biasa dan sekolah favorit.

Penerimaan siswa baru yang mengacu pada sistem zonasi, menjadi perbincangan masyarakat luas. Sistem ini pun banyak menuai pro dan kontra. Karena, dinilai membatasi siswa berprestasi untuk mendapatkan sekolah favorit yang diinginkannya.

Kekecewaan pun muncul dari berbagai pihak, termasuk yang dirasakan oleh murid yang satu ini. Kecewa karena tidak diterima di sekolah SMP N 1 Kajen, Yumna (12) siswa berprestasi dari lulusan SDN Pekeringanalit 02 membakar belasan piagam penghargaannya pada Minggu (23/06/2019) lalu dan aksi ini viral di sosial media (Tribunsolo.com, 27/06/2019).

Senada dengan ungkapan Ronny (Dosen PTS) "sekarang ini SMAN di Surabaya hanya memiliki daya tampung 1505 siswa untuk kuota nilai UN 20% dan 3611 siswa untuk kuota zonasi. Artinya, ada 1131 calon siswa bernilai tinggi yang tidak diterima di SMA Negeri. Berdasarkan data yang dikumpulkan diseluruh Surabaya ada 2369 siswa lulusan SMP yang hasil UN mereka tinggi dengan rata-rata di atas 86(Radar Surabaya jawapos.com,18/06/2019).

Disamping itu, ada juga kalangan yang pro dengan sistem zonasi ini. seperti yang diungkapkan oleh Rachmat Hidayat dalam Forum Grup Discussion (FGD) yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Jember di gedung FKIP, Senin (24/6/2019), "Pasti mereka (sekolah favorit) menjadi sekolah terbaik karena yang daftar dan masuk di sana adalah siswa-siswa terbaik dari sekolah sebelumnya," (detiknews.com).

Namun, sangat disayangkan. Ada segelintir orang tua calon siswa PPDB yang berani berlaku curang. Hanya karena ingin memasukkan anaknya disekolah yang diinginkannya.

Dilansir Republika.co.id, Penjabat Gubernur Jabar M Iriawan menyatakan pihaknya akan menindak tegas pelaku yang terlibat dalam kecurangan penerimaan peserta didik baru (PPDB) Tahun Ajaran 2018 di wilayah Jabar. Seperti memperjualbelikan kursi kepada orang tua calon murid baru. "Pasti lah (akan menindak tegas pelaku kecurangan PPDB), kita akan memberikan sanksi karena disitulah kita memberikan pemahaman bahwa kita harus melakukan sesuai prosedur yang ada, kalau menyimpang akan ditindak tegas," kata M Iriawan usai meninjau pelaksanaan PPDB 2018 di SMAN 5 Kota Bandung, Selasa (3/7).

Permasalahan dunia pendidikan di negeri ini, merupakan buah hasil dari sistem sekularisme. Acapkali membuat aturan yang tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat. Bukan tidak mungkin, sistem zonasi dinilai merupakan pesanan bagi segelintir orang yang ingin mengambil keuntungan?

Permasalahan sistem pendidikan saat ini, bukan ada atau tidak adanya sekolah favorit. Tetapi, tidak meratanya tenaga pengajar yang kompeten. Serta kemampuan pengajar yang berbeda-beda dalam menjabarkan maksud dari kurikulum yang diterapkan.

Seharusnya, ada langkah untuk mengevaluasi faktor-faktor penyebab terjadinya kesalahan dalam sistem pendidikan saat ini. Seperti, kurangnya perhatian pemerintah dalam kesejahteraan tenaga pengajar. Kondisi sarana prasarana sekolah-sekolah, juga turut andil dalam keterpurukan dunia pendidikan di negeri ini.

Lalu, bagaimana islam memandang sistem pendidikan yang paripurna?

Di masa lalu, Islam mampu menguasai dan memimpin dunia selama berabad-abad dengan peradabannya yang sangat gemilang. Ini tentu berkat kualitas pendidikan islam yang gemilang pada saat itu, yang dicontohkan sendiri oleh guru pertama dan paling utama umat ini, yaitu Rasulullah SAW. Beliau tidak hanya meletakkan dasar-dasar pendidikan anak secara lengkap, tapi juga langsung mendidik para sahabat beliau dari semua tingkatan usia, sosial, dan ekonomi, baik laki-laki dan wanita, serta dari berbagai latar belakang suku. Dan hasil didikan beliau itu terwujud dalam keberhasilan para sahabatnya. Memimpin umat untuk menaklukkan dua super power dunia saat itu : Romawi dan persia, hingga mampu menguasai wilayah luas di Asia bagian Barat sampai Asia Tengah dan Afrika bagian utara. Dan generasi berikutnya, hasil dari didikan para sahabat dan tabi'in, mampu mencapai eropa dan wilayah Asia lainnya. Alhasil, tidak hanya menjadikan peserta didik dimasa itu memiliki iman dan takwah yang kokoh, juga mampu menguasai berbagai ilmu dibidangnya masing-masing. (Kitab Tarbiyatul Aulad Oleh Dr. Abdullah Nashih Ulwan)

Oleh karena itu, seharusnya sistem pendidikan harus mengacu pada sistem pendidikan paripurna, yang telah dicontohkan oleh rasulullah saw. Sehinggga, tujuan pendidikan dapat tercapai sebagaimana mestinya. Wallahu 'Alam Bis-Showab

Penulis: Indrayanti Indah (Pemerhati Sosial Andoolo, Sulawesi Tenggara)