Kisruh Kaum Muslim, Umat Butuh Junnah!

Lorong Kata --- Bulan dzulhijjah merupakan momentum bagi umat Islam untuk merayakan Idul Adha. Layaknya perayaan mestinya setiap individu merasa bahagia. Tapi sayangnya, tahun ini tidak semua umat Islam bisa merasakannya. Ya, lagi-lagi sebagian kaum muslim di beberapa wilayah harus mengalami berbagai peristiwa mencekam dibulan penuh keutamaan ini.

Sebagaimana yang terjadi di Palestina. Tepatnya tanggal 11 Agustus lalu terjadi bentrokan antara kaum Muslim dan umat Yahudi di Masjid Jerussalem. Palang Merah Palestina melaporkan sebanyak 14 orang terluka akibat bentrokan tersebut. Dilansir kantor berita AFP, Minggu (11/8/2019), konsentrasi banyaknya umat Muslim dan Yahudi di Kompleks Al-Aqsa disebut sebagai pemicunya. Bentrokan terjadi. Dorong-dorongan berlangsung cukup lama. Polisi Israel kemudian memukul mundur jemaah muslim dari Palestina dan melempar granat.

Peristiwa yang terjadi di Palestina hanyalah sedikit dari banyaknya kasus yang menjadikan kaum Muslim sebagai korban. Belum terhitung kejadian memilukan yang terjadi di Suriah, Rohingya, maupun Kashmir. Itu semua menunjukkan jika umat Islam saat ini penuh dengan masalah. Ditambah lagi dengan realitas jika banyak yang hidup dalam garis kemiskinan.

Berbagai fakta tersebut tentu saja membuat kita keheranan. Pasalnya kuantitas kaum muslim tergolong banyak, bahkan mencapai milyaran individu. Selain itu negeri-negeri kaum muslim pun terkenal memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah ruah. Namun tetap saja tidak menjadikan umat bebas dari penderitaan.

Jika kita menelaah, munculnya berbagai masalah tersebut dimulai dari hilangnya institusi umat Islam, yakni Khilafah (Negara yang menerapkan sistem Islam secara kaffah) yang berperan sebagai junnah (perisai) untuk melindungi kaum Muslim.

Bagaimana tidak, ketiadaan Khilafah menyebabkan keamanan dan rasa aman kaum muslim seluruh dunia tercabut. Berbagai peristiwa mengerikan yang menimpa umat Islam telah dan sedang terjadi. Negara-negara kafir melakukan ‘pesta penjajahan’ dengan menjadikan semua negeri muslim sebagai target. Darah-darah tertumpah. Kekayaan alamnya dijarah. Tanah umat pun menyusut, mulai dari ujung-ujungnya, bahkan dari jantungnya.

Terkucilnya muslim Palestina di tanah mereka sendiri akibat perampasan oleh Yahudi atau kekisruhan yang terjadi di Suriah, Rohingya, maupun Kashmir hanyalah sebagian akibat dari hilangnya perisai tersebut. Belum lagi keserakahan kaum kafir imperialis dalam mengeruk kekayaan alam di negeri-negeri muslim semakin menambah lengkapnya penderitaan umat. Walhasil, kaum muslim membutuhkan solusi tuntas untuk menghilangkan berbagai kesengsaraan yang mereka alami.

Berangkat dari deretan problem tersebut nyata jelas jika keberadaan Khilafah merupakan sesuatu yang sangat urgen karena akan menjadikan umat memiliki junnah dari setiap aspek. Institusi terbaik tersebut akan melahirkan pemimpin-pemimpin (Khalifah) pilihan yang tidak akan membiarkan sedikitpun darah dari rakyatnya tertumpah, juga takkan memberikan jalan bagi kaum kafir untuk menguasai kaum muslim. Sehingga kondisi menyedihkan umat seperti sekarang tidak akan terjadi.

Kita tentu masih mengingat bagaimana perlindungan yang diberikan oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah saat seorang raja Romawi dari kota Amuriyah menawan serta menyiksa seorang muslimah. Kala berita itu disampaikan, beliau bersegera menuju kota Amuriyah, untuk berperang serta membebaskan tawanan muslimah tersebut. Atau sepak terjang Umar bin Abdul Aziz, sosok Khalifah sederhana yang memiliki kehidupan jauh dari kemewahan. Pada masa pemerintahannya, tak seorangpun merasa berhak untuk menerima zakat. Dua contoh itu hanyalah sedikit dari banyaknya bukti betapa rakyat dijaga keamanan serta kesejahteraannya.

Tentu saja umat saat ini pun merindukan masa yang aman dan sejahtera. Namun, perlu diketahui jika perihal tersebut takkan terwujud tanpa adanya negara (Khilafah). Maka Khilafah menjadi sebuah kebutuhan yang sangat mendesak saat ini. Dan, sudah semestinya setiap individu yang mengaku berakidah Islam wajib untuk turut berjuang menegakkannya kembali, Allahu Akbar!

Penulis: Devita Nanda Fitriani, S.Pd (Muslimah Media Kendari)