Kopi dan Pemuja Puisi

PUISI, Lorong Kata--- Berhentilah mengecup bibir anak tetanggamu kawan. Berhentilah!

Lidah akan menolak sesuatu yang tak lagi ada rasa, membuangnya sebagai ampas dan membunuhnya seperti kenyataan. 

Berhentilah! Kau bisa saja membayangkan seluruh alam semesta hancur dalam sekali dekapan, tapi tidak sedikit pun dalam kenyataan. 

Pecinta kopi itu tunduk, pemuja puisi bangkit. Kita hanya spasi pada setiap sajak yang tak pernah sekalipun terbaca. 

Berhentilah! Ada separuh hal yang tak mungkin kau paksa, dibalas perasaan misalnya. 

Berhentilah! Atau aku yang harus pergi?
Berhentilah... 

By: Sesepuh Lorong Kata