Penyakit Islamofobia Menyasar Negeri Muslim

Lorong Kata --- Penyakit adalah keadaan yang tidak biasa dari keadaan pada biasanya yang menyebabkan ketidaknyamanan terhadap orang yang dipengaruhinya. Kini negeri muslim juga terkena penyakit mematikan bagi umat Islam yang berdomisili diwilayahnya. Mematikan, karena mampu membuat kaum muslim berpaling dari ajaran agamanya. Apalagi kalau bukan penyakit Islamofobia.

Hasil riset menunjukkan jika dunia global kian takut dengan simbol-simbol keagamaan. Pelarangan ini tidak hanya ditemukan pada rezim otoriter tetapi juga di negara-negara Demokrasi Eropa, demikian ungkap lembaga riset yang menyoroti masalah keagamaan dan kehidupan sosial.

Permusuhan dilingkungan sosial kian merajalela dengan melibatkan agama termasuk pelecehan dan kekerasan oleh perorangan,organisasi atau kelompok, juga meningkat sejak 2007 hingga di perbaharui pada tahun 2017. Tahun ke tahun konflik sosial yang melibakan agama terus melonjak naik diberbagai negara, salah satunya Eropa, dimana 20 negara membatasi pakaian yang berhubungan dengan agama termasuk burqa dan cadar yang dikenakan oleh beberapa wanita muslim (viva.co.id, 16 juli 2019).

Tak hanya di negeri minoritas muslim yang menunjukkan gejala penyakit islamofobia, bahkan di wilayah mayoritas umat Islam juga turut terpapar. Sayangnya, rezim yang berkuasa di negeri-negeri umat Islam juga tidak berkutik untuk menahan laju penyakit ini.

Bahkan usaha-usaha yang mereka lakukan dengan dalih memerangi radikalisme justru semakin menyuburkan islamofobia. Bagaimana tidak, jika terdapat individu atau kelompok-kelompok yamg berusaha untuk menyebarkan paham Islam yang menurut rezim radikal maka akan dipersekusi serta diberi sanksi. Begitu juga jika ada yang mengenakan simbol ataupun benda yang dianggap radikal. Seperti terkait ide mengenai Khilafah maupun bendera tauhid. Hal itu tercermin dari ucapan mereka.

“Suatu organisasi yang aktivitasnya normatif, silaturahim, kemudian bakti sosial, mengadakan serangan-serangan yang mengarah kepada masalah akhlak dan moral, lalu tidak membicarakan masalah ideologi yang bertentangan dengan rezim, itu silakan saja, nggak ada masalah sebagai warga negara, tutur wiranto” (detiknews, 19 juli 2019).

Itulah gambaran tingkat ketidakwarasan rezim saat ini. Padahal mereka beridentitas Islam yang seharusnya mendukung dan taat kepada syariat yang bersumber dari Tuhannya. Namun realitasnya malah menolak mentah-mentah yang berasal dari Syariat jika terindikasi radikal versi rezim.

Padahal Islam tidak sekedar membahas masalah terkait akhlak dan moral saja, ataupun hanya seputar ibadah seperti sholat, puasa, mengaji, zakat. Tetapi Islam itu kompleks, menyeluruh. Islam tidak membatasi diri dengan tidak membicarakan ideologi. Kita salah mendikte bahwa jika Islam itu sebagai ibadah saja. Inilah yang salah pada rezim saat ini. Akibatnya mereka berusaha melakukan serangkaian usaha untuk menjegal topik Islam yang katanya radikal kemudian menyerukannya kepada masyarakat. Pada akhirnya ketakutan terhadap ide maupun benda yang identik dengan Islam pun meningkat, mengakibatkan kaum muslim semakin jauh dari agamanya.

Karena penyakit ini tergolong serius maka peningkatan persentase islamofobia ini harus dihentikan. Sehingga perlu dilakukan berbagai usaha untuk menekannya, misalnya dengan memberikan pemikiran banding kepada masyarakat, jika apa yang selama ini digaungkan kepada mereka terkait dengan Islam radikal yang menyasar beberapa ide dan benda itu tidak benar. Seperti terkait Khilafah misalnya. Perlu diketahui jika Allah telah memerintahkan kepada umat Islam untuk menerapkan aturannya secara menyeluruh, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al – Baqarah ayat 208 :

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”

Firman-Nya yang telah tertera jelas tersebut hanya akan terwujud tatkala Khilafah tegak, karena negara ini kelak akan menerapkan seluruh syariat Islam tanpa terkecuali. Dari penjelasan tersebut sangat tidak masuk akal jika ide mengenai Khilafah ini ditentang bahkan para pendakwah yang menyerukannya dipersekusi.

Dengan mendakwahkan ide-ide Islam secara masif ditengah-tengah masyarakat diharapkan penyakit islamofobia ini segera tergerus. Karena ide-ide tersebut tidak mungkin tertular dengan sendirinya, maka perlu pengemban dakwah untuk turut berpartisipasi. Maka sudah seharusnya setiap muslim yang mengaku beriman kepada Allah SWT. turut mengambil langkah nyata untuk menyebarkan ide Islam tersebut. Wallahua’lam bi ash-shawab.

Penulis: Harnita (Mahasiswi Agribisnis UHO)