Sebungkus Nasi Kotak Dibalik Aksi Mahasiswa

Lorong Kata - Mahasiswa adalah gelar yang dicantumkan pada bangku kuliah dengan sederet aturan dan kontrak. Gelar ini tak semudah membalikkan telapak tangan untuk memikulnya di pundak setiap individu. Ada yang terbatas uang, motivasi rendah, dan lainnya yang membuat pemuda lain tak ingin menyandanga gelar ini. Kata Maha yang hanya diperuntukkan kepada Allah swt sebagai pencipta, namun tertera pula dalam kategori mahasiswa. Karena ia begitu penting dengan tumpukan peran dan critical thinking untuk kemajuan negeri. Sering dikumandangkan mereka sebagai agent of change (agen yang mengubah), social of control, moral of force (kekuatan moral). Mahasiswa selalu mengabadikan dirinya sebagai objek penting dalam perubahan besar.

Saat ini kita disodorkan fakta baru, hampir seluruh media mengakses tindakan mahasiswa yang membuat gempar Indonesia. Aksi yang dilakukan dengan gerakan serentak seluruh mahasiswa di beberapa kota. Dikutip dari Tirto.id bahwa Demo mahasiswa berlanjut di Jakarta dengan melibatkan ribuan massa depan gedung DPRD (24/09/19). Sementara di Makassar dan beberapa kota lainnya terjadi kericuhan tak terhindakan setelah aparat kepolisian menindak pedemo tanpa ampun, korban luka berjatuhan, bahkan puluhan pedemo dirawat di rumah sakit (CNN Indonesia, 30/09/19).

Tuntutan mereka cenderung sama, yakni menolak pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) yang kontroversial di DPR, Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP), RUU Pemasyarakatan, RUU Ketenagakerjaan dan RUU Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba), Revisi UU KPK dan lainnnya. Menurut mereka banyak RUU yang kontorversi akibat pembahasannya cenderung kilat, banyak pula pasal-pasal yang bertentangan satu sama lain.

Apakah aksi mahasiswa ini menjadi solusi untuk Indonesia? Berdasarkan fakta yang terjadi bahwa tidak kurang dari ribuan mahasiswa sebagai agen perubah menjadi motor penggerak penolakan RUU. Mereka memiliki semangat juang yang tinggi untuk menjadikan Indonesia lebih baik ke depannya. Namun, dengan serangkaian tetesan keringat mahasiswa, kebijakan negara sangan memilukan, kritikan bagaikan santapan hangat para aparat negara yang siap disantap, bukan sebagai pengubah kebijakan. Para berdasi pura-pura tuli, buta dan bisu dengan aksi yang dipeluhkan oleh para pejuang muda yang mengorbankan banyak hal untuk melontarkan setitik muhasabah untuk negeri.

Ini adalah aksi langganan yang setiap tahun terjadi di Indonesia. Dan tidak mengherankan, jika mahasiswa harus tampil terdepan sebagai pihak pengontrol kebijakan. Sayangnya, banyak mahasiswa yang tidak terlalu memahami bagaimana mengoreksi penguasa dengan kode etik yang benar. Jika ditelisik, masalah tidak akan selesai dengan membakar ban, lempar batu, menutup jalan yang menimbulkan kemacetan, merusak fasilitas umum, hingga beberapa nyawa harus melayang. Mengoreksi penguasa adalah sebuah kewajiban, tetapi harus melihat secara saksama bagaimana tata cara aksi secara damai dan tidak menimbulkan keributan.

Mahasiwa adalah intelektual yang memperjuangkan kebenaran, dan jika ingin menyelesaikan masalah diselesaikan dengan bijak dengan intelektual yang dimilikinya. Mengoreksi dengan cara yang baik, memaparkan fakta kezaliman dan menawarkan solusi yang tidak pragmatis dan solutif. Mahasiwa tak selayaknya menambah beban negara layaknya tindakan preman yang hanya meluapkan emosi tanpa solusi. Efektivitas solusi tak seyogyanya bagaikan sebungkus nasi kotak, setelah habis, dibuang lalu menjadi kotoran. Perjuangan kebenaran bukan hanya menguras keringat untuk dilupakan, tetapi berjuang untuk kepentingan negara.

Dalam pandangan Islam pemuda adalah sosok potensial harapan bangsa, menjadi tulang punggung negara, dan menjadi titik golden age untuk merebut kebenaran dari kezaliman para penguasa. Bagaimana sosok Mushab bin Umair yang berjuang tanpa pamrih, hingga mengislamkan Madinah dalam waktu setahun. Muhammad al-Fatih yang telah mengazzamkan diri sejak kecil sebagai penakluk Konstantinopel. Terbukti umur 22 tahun telah menaklukkan Konstatinopel dalam waktu 54 hari perang. Thariq bin Ziyad yang menaklukkan Andalusia dengan tekad sekuat baja dengan kalimatnya Kita tidak akan mundur, kita datang bukan untuk kembali. Beginilah sosok pemuda yang harus dijadikan role model oleh para mahasiswa hari ini, yang dimana mereka lahir dari cetakan generasi terbaik saat Islam dalam masa keemasan. Sosok pemuda seperti ini tak akan ditemukan dalam sistem yang tidak menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.

Penulis: Ghaziyah Ufairah