Konflik vs konflik

“Suatu kegagalan besar kelas intelektual jika masyarakat masih mengalami krisis epistemologi dan berada dalam pusaran konflik yang cukup banyak”


Lorong Kata - Kita lihat realitas yang terjadi sekarang, negara berada dalam pusaran konflik yang cukup banyak. Berbagai macam konflik yang terjadi, salah satunya adalah konflik kepentingan kelas. Berbicara masalah konflik, banyak pendefinisian seseorang mengenai konflik itu sendiri. Misalnya konflik adalah kepentingan, masalah, perbedaan pendapat, pertentangan dan kompetisi.

Sebelum jauh membahas masalah konflik, terlebih dahulu kita melihat kondisi sosial saat ini. Kurangnya wawasan ilmu pengetahuan masyarakat, menjadi polemik yang harus segera mungkin di selesaikan. Karena jika masyarakat berada dalam krisis ilmu pengetahuan, maka akan sulit memahami kondisi yang ada di dalam suatu negara ataupun organisasi. Maka bercermin pada kondisi sosial tersebut, kelas intelektual mempunyai peran untuk mengubah pola pikir masyarakat yang berada di dalam krisis epistemologi.

Tetapi banyak orang yang bertanya-tanya, bagaimana caranya agar saya bisa mengubah pola pikir masyarakat yang sudah terjebak dalam kebiasaan-kebiasaan yang tidak produktif tersebut ?....Nah, pertanyaan ini cukup menarik untuk kita bahas.

Sekarang kita diskusi masalah proses untuk mengubah pola pikir masyarakat agar mengarah kepada hal-hal yang bersifat produktif. Jika ada salah satu orang yang bertanya pada anda, apakah konflik itu sendiri cocok di gunakan untuk melakukan proses penyadaran?

Yah jelas kawan, kebanyakan orang sadar karena melihat sebuah konflik. Kita juga ketahui bahwa konflik itu sendiri memiliki sifat membangun ataupun menghancurkan. Tetapi yang harus di cegah di sini adalah konflik yang bersifat menghancurkan tersebut. Karena sudah jelas bahwa cara itu sangat tidak cocok digunakan untuk melakukan proses penyadaran.

Konflik yang bersifat membangun menjadi instrumen untuk membuat seseorang menjadi sadar akan sesuatu. Salah satu contohnya di dalam negara terdapat sebuah penindasan, kemudian orang yang berada di dalam negara tersebut hanya apatis, yakin dan percaya bahwa polemik itu tidak bakalan terselesaikan. Maka disinilah kita harus melakukan tindakan atau gerakan yang membuat masyarakat bertanya tanya.

Misalnya di negara indonesia, beberapa rancangan undang-undang yang ingin di sahkan oleh pemerintah dan DPR RI masih hangat di bahas dalam tatanan pemerintahan. Misalnya rancangan undang-undang pertanahan yang sampai saat ini masih menjadi perbincangan hangat di kelas elit penguasa dan di tengah sebagian masyarakat. Tetapi realitas yang terjadi, bahwa RUU tersebut sangat berkarakteristik kapitalism yang hanya mengejar keuntungan dan berkedok untuk mensejahterakan rakyat.

Tetapi pertanyaannya, apakah semua masyarakat mengetahui dampak dari RUU jika di sahkan?.. tentunya tidak kawan, hanya sebagian orang menyadari dampak dari RUU tersebut. Lalu apa yang harus kita perbuat?

Yah, kita harus mengkonstruk sebuah gerakan. Gerakan ada berbagai macam, misalnya tulisan dan demonstrasi. Tetapi menurut saya secara pribadi, bahwa yang cocok dan sexy untuk kita lakukan saat ini adalah membuat sebuah gerakan "demonstrasi".

Jika seseorang melakukan demonstrasi terus menerus dengan menggaungkan dampak dari RUU tersebut, yakin dan percaya bahwa masyarakat akan bertanya-tanya dan sadar akan dampak dari RUU yang akan di sahkan. Jika masyarakat sudah menyadari hal kemudian, maka mereka juga akan ikut bergerak mencapai sebuah misi yaitu keadilan. Sedikit demi sedikit masyarakat akan keluar dari krisis epistemologi.

Seperti yang di jelaskan di atas bahwa ketika hadir sebuah konflik yang bersifat menghancurkan maka kita harus melawannya dengan konflik juga. Konflik yang di maksud disini yaitu konflik yang membangun kesadaran, epistemologi dan gerakan untuk menuju sebuah perubahan yang di inginkan masyarakat secara kolektif.

Tetapi yang harus di pahami juga bahwa dalam membangun sebuah gerakan, harus merawat solidaritas dan komitmen.

Penulis :Muh.Nurhidayat.S.