Tak Bisa Tergantikan

Tak Bisa Tergantikan
Oleh: Farida Agustin

"Harta yang paling berharga adalah keluarga"
"Istana yang paling indah adalah keluarga"
(penggalan lirik lagu "Harta Berharga")

Keluarga adalah tempat untuk berbagi asa dan cerita. Keluarga merupakan unit kecil dari masyarakat. Yang terdiri dari suami, istri dan anak. Dalam satu atap rumah yang teduh. Di terangi gemerlap cahaya lampu. Jika satu personal saja tidak ada di dalamnya.

Pasti berasa ada yang kurang. Bak, masakan tanpa garam. Hambar dan hampa. Meski tidak lengkap anggota keluarga. Orang tua wajib memberikan pendidikan tsaqofah islam kepada anak-anak dari dia mulai lahir ke dunia yang hanya sementara ini.

********************************************

Siang itu, Mama Kaveza memperhatikan Mama Imel menyapu halaman rumahnya. Kali ini tidak seperti biasanya. Ada mendung di raut wajahnya. Mengayunkan sapu lidi pun amat pelan.

"Mama Imel, kalau sudah selesai menyapu, kita rujakan, yuk! aku tunggu di rumah ya." Kata Mama Kaveza.

"Oke, Mam" balas Mama Imel.

Tak lama kemudian Mama Imel berkunjung ke rumah Mama Kaveza.

"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam, masuk Mama Imel.

"Hhmm, enak nih rujak buah komplit. Ada mangga, jambu air, kedondong, nanas, pepaya dan bumbu pedasnya." Mama Imel memandangi aneka buah rujakan yang sudah di siapkan Mama Kaveza di meja, sambil menelan ludah.

"Ah, ini kebetulan saja ada saudara yang ngasih, Mam. Monggo, kita nikmati berdua rujak khas Madura ini."

Setelah mereka berdua selesai menghabiskan rujak khas Madura. Mama Imel membuka obrolan serius, sambil sebentar-bentar minum es kopyor. Mendinginkan rasa panas di lidahnya.

"Mama Kaveza, menurutmu aku harus bagaimana ya menjalani kehidupan sehari-hari dengan kondisi suami yang bekerja di luar pulau?" kata Mama Imel.

"Pasrahkan semua urusan kepada Allah, jangan lupa berdo'a, memohon kepada-Nya untuk menjaga suamimu, Mam. Dan di jauhkan dari perbuatan maksiat. Karena hanya Allah yang mengetahui keseharian suamimu." jawab Mama Kaveza.

"Berjauhan dengan pasangan hidup itu tidak enak, Mam. Ketemu suami paling lama 5 hari dengan menunggunya selama 2 bulan. Aku merasa kehadiran suami di keluarga itu, kurang lama. Dan terkadang tidak sanggup aku menjalaninya dengan mendidik tiga anak yang aktif." Mata Mama Imel berkaca-kaca.

"Bersabarlah, Mama Imel" kata Mama Kaveza menenangkan.

Tak terasa tiga puluh menit berlalu, obrolan mereka berdua terhenti. Di karenakan kehadiran Mama Rama yang mengenakan khimar dan jilbab longgar, yang khas berwarna hitam pekat. Dengan paras wajahnya yang cantik. Dia teman dan juga guru ngaji mereka berdua. Rumahnya tidak jauh dari komplek Griya Cahaya.

"Assalamu'alaikum" salam Mama Rama.

"Wa'alaikumussalam" koor menjawab salam dari mereka berdua.

"Loh, ada Mama Imel juga toh? sudah 2 bulan ya kita tidak bertemu. Kemana saja, lama tidak mengaji, Mama Imel ?"

"Hhmm, he. . . he. . . hhm". Pipi Mama Imel semakin memerah.

"Ada masalah apa nih Mama Imel? terlihat mendung nih wajahmu."Canda Mama Rama.

"Hi. . . hi . . . hi. . . . lagi kasmaran dia, Mam. Siapa tahu Mama Rama bisa memberikan saran kepada Mama Imel, agar tidak galau." Canda Mama Kaveza.

Setelah Mama Kaveza menjelaskan kegalauan Mama Imel kepada Mama Rama. Dia berjalan menuju dapur mengambil es kopyor untuk menjamu Mama Rama. Yang terlihat kelelahan mengayuh sepeda onthel.

"Ooh, itu toh masalahnya. Masalah LDR nih?" tanya Mama Rama.

"Tetaplah senyum dan bahagia ,Mama Imel. Ada Allah yang mengatur semua itu. Janganlah larut dalam kegelisahan. Ada hak anak-anak untuk bahagia. Dan muliakanlah anak-anakmu. Karena kita tidak tahu apa yang di rencanakan Allah untuk kita esok hari." Mama Rama menasihatinya.

"Baiklah, Mama Rama insyaallah aku berusaha kuat." jawab Mama Imel.

Mama Rama menambahkan sarannya.

"Tetaplah berpikir positif. Bersyukurlah, suamimu tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai suami. Dia tetap memperhatikanmu, menelponmu dan juga terhadap anak-anak. Meski kalian berpisah tempat.Tapi kewajiban istri dan suami tidak terpisahkan. Tetap kompak mendidik anak secara Islam. Tengoklah, suami-suami yang lain. Dua tahun, dia baru bisa bertemu dengan keluarganya. Ambillah hikmah dari urusan ini."

"Jadi kalau Papa Imel dari Bontang pulang ke Surabaya, membawa rasa kangen sekarung, dompet setebal bantal dong?" canda Mama Kaveza mencairkan suasana.

" Ha. . .ha. . .ha. . . .serempak mereka bertiga tertawa lepas."

"Terimakasih, Mama Rama dan Mama Kaveza. Kalian berdua memang sahabat yang baik. Yang selalu memberiku semangat. Aku pamit pulang ya, Mam." Kata Mama Imel.

"Tunggu sebentar, Mam". Mama Kaveza menghentikanku.

"Ini ada sedikit oleh-oleh dari Madura untuk anak-anakmu." Mama Kaveza memberikan sekantong kresek hitam.

"Terimakasih, Mam."

Sesampainya Mama Imel masuk ke dalam rumahnya. Kemudian membuka isi kantong kresek hitam tadi. Isinya yakni kripik singkong panjang-panjang kesukaan anak-anak. Dan selembar kertas putih bertuliskan Firman Allah SWT.
Al-Qur'an Surat At-Tahrim Ayat 6.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim: 6)

Mama Kaveza sering memberikan aku kejutan. Mungkin ini cara dia agar aku selalu ingat kepada sang Ilahi dan tetap tegar.